Dokter RSUI jelaskan indikator kenormalan kaki pada anak

id kaki anak,rsui,dokter rsui,ui depok,kaki anak normal

Dokter RSUI jelaskan indikator kenormalan kaki pada anak

RSUI. ANTARA/Feru Lantara.

Depok (ANTARA) - Dokter spesialis rehabilitasi medik Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI) dr. Amien Suharti, Sp.KFR menjelaskan bagaimana perkembangan kaki dan lutut anak, serta pola berjalan anak dalam beberapa tahapan usia sehingga dengan indikator ini para orang tua dapat mengetahui kondisi kaki anak masih tergolong normal atau tidak. 

"Pada umumnya anak berjalan saat usia 1 tahun dengan pola jalan lutut yang lebih lurus, langkah lebar, foot-plat. Saat usia 3,5 tahun pola berjalan anak akan berkembang seperti dewasa,” jelas dokter spesialis rehabilitasi medik RSUI, dr. Amien dalam Seminar Awam Bicara Sehat Virtual seperti dikutip dalam keterangannya di Depok, Jawa Barat, Selasa.

Perkembangan kaki anak saat lahir bentuk kaki sedikit calcaneo valgus dengan tidak ada lengkung, saat mulai berjalan lemak pada sisi medial menyembunyikan lengkung, 2-3 tahun mulai terbentuk lengkung kaki, 3,5 tahun hingga 9 tahun masa akrusial perlu memastikan apakah ada kelainan patologis kaki ceper/flat foot, dan membedakan fleksible atau kaku/rigid.

Ia menjelaskan kelainan pola jalan seperti pincang, intoeing kaki seperti masuk atau mengarah ke dalam, toe out kaki mengarah keluar, dan jalan seperti jinjit. Penanganan rehabilitasi medik pada anak dengan kelainan kaki memerlukan orthose pada beberapa kondisi.

"Di unit rehabilitasi medik terdapat pengukuran analisis pola berjalan untuk mengevaluasi adanya kelainan. Untuk penanganan gangguan ini, pada beberapa kondisi tertentu dapat diperlukan alat orthose untuk mengontrol kesegarisan, memperbaiki fungsi dan melindungi kaki. Untuk pemilihan orthose ini terdapat modifikasi yang disesuaikan dengan kondisi kaki anak," paparnya.

Baca juga: Kelainan kaki anak tidak hanya disebabkan kelainan tulang

Baca juga: Anak tanpa kaki terima kursi roda dari Presiden


Beberapa jenis latihan di unit rehabilitasi medik yang diperuntukkan bagi anak dengan kelainan kaki, diantaranya latihan peregangan otot kaki seperti (manual calf stretch, wall stretch, towel/ long sit stretch) dan latihan kekuatan otot seperti (squat play, bicycle, playing ball, dll).

Dokter Amien juga memberikan rekomendasi dalam pemilihan sepatu anak, yang terdiri dari 3 (tiga) tahapan, yaitu a) pre walking shoe, dimana tidak memerlukan sepatu, b) toddler shoe, karena sudah banyak berjalan sehingga memerlukan sepatu yang nyaman dengan bahan kulit atau kanvas, c) school age, pilih sepatu yang memiliki peredam dan proteksi.

Banyak peserta yang mengajukan pertanyaan seputar tema yang tengah dibahas. Salah satu pertanyaan yang cukup menarik diantaranya terkait pemakaian bedong untuk anak yang baru lahir. Kebanyakan masyarakat mempercayai bahwa bedong bermanfaat untuk meluruskan kaki anak, namun saat ini para ahli mengatakan bahwa bedong justru berbahaya.

"Permasalahan bedong ini bukan pada kaki, melainkan di panggul. Bedong dapat menyebabkan hip dysplasia atau panggul yang berubah bentuk, ini sangatlah berbahaya. Sejak tahun 90-an pemakaian bedong di Jepang sudah tidak diperbolehkan," jawab Dokter Deryl.

Baca juga: Masyakarat diajak dokter RSUI gunakan antibiotik dengan bijak

Baca juga: Tips dokter RSUI memilih makanan sehat untuk anak saat pandemi

Pewarta : Feru Lantara
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar