Presiden: Saya berikan warning keras agar angka COVID-19 tak keterusan

id presiden jokowi,covid-19,warning

Presiden: Saya berikan warning keras agar angka COVID-19 tak keterusan

Presiden Joko Widodo memberikan arahan dalam sidang kabinet paripurna di Istana Negara Jakarta, Selasa (1/12/2020). ANTARA/HO-Biro Pers Setpres/Rusman/am.

Jakarta (ANTARA) - Presiden Joko Widodo mengaku akan terus memberikan "warning" (peringatan) keras kepada para menteri dan kepala daerah bila ada kenaikan angka positif COVID-19 agar hal tersebut tidak berlanjut.

"Kemarin saya sampaikan saya memang kalau ada peningkatan sedikit saja, saya berikan 'warning' secara keras karena kita tidak mau keterusan," kata Presiden Joko Widodo di Istana Negara Jakarta, Selasa.

Presiden Jokowi menyampaikan hal tersebut pada sidang kabinet paripurna yang dihadiri oleh Wakil Presiden Ma'ruf Amin dan para menteri kabinet Indonesia Maju yang digelar dengan tetap menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

Baca juga: Presiden optimistis dalam pengendalian COVID-19

Baca juga: Presiden Jokowi minta belanja negara 2021 mulai direalisasi awal tahun


"Warning" yang dimaksud Presiden Jokowi merujuk pada pernyataannya dalam rapat kabinet terbatas pada Senin (30/11) yang memperingatkan 2 provinsi yang mengalami peningkatan drastis kasus positif COVID-19 yaitu Jawa Tengah dan DKI Jakarta.

"Di beberapa kota kabupaten itu ada kenaikan itu segera dikejar dan dihentikan jangan sampai terus menanjak ke atas, dan juga 1, 2, 3 provinsi yang perlu diberikan perhatian," ungkap Presiden

Presiden menegaskan bahwa peringatan itu harus segera ditindaklanjuti dengan perbaikan.

"Saya ingatkan karena ada kenaikan sedikit agar segera diperbaiki," tambah Presiden.

Menurut Presiden, penanganan COVID-19 yang sudah berjalan sekitar 9 bulan menunjukkan perbaikan.

"Kita lihat per 30 November angka-angka yang saya dapatkan tingkat kesembuhan di Indonesia, di angka 83,6 persen. Ini lebih baik dari rata-rata angka kesembuhan dunia di angka 69,03 persen. Sudah lebih baik jauh lebih baik," kata Presiden.

Selanjutnya angka kasus aktif Indonesia juga terus membaik.

"Saya ulang di bulan September 16,69 persen, di bukan Oktober 14,26 persen dan November 13,75 persen, artinya semakin bulan semakin bulan semakin baik, sekarang 13,25 persen ini juga lebih baik dari angka rata-rata dunia di angka 28,55 persen," tambah Presiden.

Hanya yang masih belum diperbaiki adalah angka kematian.

"Yang perlu kita perbaiki di angka kematian. Kita masih di 3,1 persen, angka kematian dunia 2,32 persen. Ini saja, saya kira ini di awal karena keterlambatan ventilator dan lain-lain. Melihat ini kita sebetulnya kita sangat optimis dalam pengendalian COVID-19 ini," ungkap Presiden.

Baca juga: Presiden Jokowi peringatkan peningkatan COVID-19 di Jakarta dan Jateng

Baca juga: Presiden minta Mendagri ingatkan lagi kepala daerah soal prokes


Hingga Senin (30/11) jumlah terkonfirmasi COVID-19 di Indonesia mencapai 538.883 orang dengan penambahan hari tersebut mencapai rekor terbanyak sejak COVID-19 terdeteksi di Indonesia yaitu sebesar 4.617 kasus.

Terdapat 450.518 orang dinyatakan sembuh dan 16.945 orang meninggal dunia. Sedangkan jumlah pasien suspek mencapai 72.786 orang.

DKI Jakarta masih menjadi provinsi terbanyak kasus COVID-19 positif yaitu mencapai 136.861 kasus dengan penambahan per Senin (30/11) adalah 1.099 kasus. Provinsi selanjutnya dengan positif terbanyak adalah Jawa Timur dengan 61.883 kasus, Jawa Tengah 55.896 kasus, Jawa Barat dengan 52.571 kasus dan Sulawesi Selatan 20.657 kasus.

 

Pewarta : Desca Lidya Natalia
Editor: Nurul Hayat
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar