AS temukan kasus pertama varian baru COVID-19

id covid-19 varian baru,virus varian baru,kasus pertama virus varian baru,amerika serikat,B.1.1.7

AS temukan kasus pertama varian baru COVID-19

Perawat Unit Perawatan Intensif Merlin Pambuan, 66 tahun, disemangati oleh staf rumah sakit saat ia berjalan keluar dari rumah sakit dimana ia menghabiskan 8 bulan dengan penyakit virus korona (COVID-19), di Dignity Health - St. Mary Medical Center, Long Beach, California, Amerika Serikat, Senin (21/12/2020). ANTARA FOTO/REUTERS/Lucy Nicholson/hp/cfo/am.

Wilmington/Los Angeles (ANTARA) - Amerika Serikat mendeteksi kasus pertama infeksi COVID-19 varian baru di Colorado pada Selasa (29/12), seiring dengan Presiden Terpilih Joe Biden yang memperingatkan bahwa perlu waktu bertahun-tahun untuk memvaksin sejumlah besar warga negara itu, dengan angka penyebaran yang terjadi sekarang.

Gubernur Colorado Jared Polis menyebut bahwa wilayah negara bagian yang ia pimpin telah menemukan kasus virus corona varian B.1.1.7--yang pertama kali terdeteksi di Inggris, dan disebut lebih cepat menular dibandingkan varian SAR-CoV-2 terdahulu.

Kasus virus corona varian baru ini telah ditemukan juga menyebar di sejumlah negara Eropa lainnya, juga di Kanada, Australia, India, Korea Selatan, dan Jepang, serta negara-negara lain.

Baca juga: Varian baru COVID-19 ditemukan, Korsel akan percepat vaksinasi
Baca juga: Khawatir varian baru COVID-19, Arab Saudi perpanjang larangan masuk


Polis, dalam keterangannya, mengatakan bahwa pasien kasus pertama di AS itu merupakan seorang laki-laki berusia 20-an tahun tanpa riwayat berpergian akhir-akhir ini, dan sekarang tengah menjalani isolasi di Denver.

"Pihak berwenang urusan kesehatan masyarakat sedang melakukan investigasi secara teliti. (Pasien yang bersangkutan) tidak mempunyai kontak erat, sejauh identifikasi saat ini," kata Polis. Ia juga menyebut bahwa pihaknya telah memberitahukan pemerintahan federal.

Sebelum Polis mengonfirmasi kasus ini, Biden berpidato di Wilmington, Delaware, mengenai vaksinasi bagi masyarakat AS.

"Upaya distribusi dan pelaksanaan vaksinasi tidak berjalan sebagaimana semestinya. (Dengan angka kasus saat ini) maka akan butuh waktu tahunan, bukan bulanan, untuk memvaksin warga Amerika," kata Biden.

Prediksi Biden mengenai musim dingin yang sulit tampak sebagai upaya menurunkan ekspektasi masyarakat bahwa pandemi ini akan segera berakhir setelah dia resmi menjabat sebagai presiden AS pada 20 Januari 2021.

Biden juga memberikan pesan kepada Kongres bahwa pemerintahannya nanti ingin menambah anggaran secara signifikan untuk melancarkan distribusi vaksin, memperluas uji deteksi, serta menyediakan dana bagi negara bagian untuk membantu membuka kembali sekolah.

Target Biden untuk menjamin 100 juta vaksinasi dijalankan per 100 hari masa jabatannya sebagai presiden nanti akan berarti "meningkatkan angka vaksinasi saat ini hingga lima-enam kali lipat, menjadi satu juta dosis per hari"--yang disebutnya perlu mendapat dana tambahan.

Bahkan dengan angka vaksinasi yang ambisius tersebut, Biden menyebut bahwa akan diperlukan waktu berbulan-bulan hingga sebagian besar warga Amerika mendapatkan vaksin, dan kondisi pandemi mungkin tidak akan berubah, setidaknya, sampai Maret 2021 nanti.

Sumber: Reuters

Baca juga: LIPI: Belum terbukti ilmiah varian baru virus COVID-19 lebih mematikan
Baca juga: Menparekraf perbarui protokol CHSE antisipasi varian baru COVID-19

Pewarta : Suwanti
Editor: Mulyo Sunyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar