Setrum hijau di tengah ladang

id bioreaktor kapal selam,energi hijau,energi baru dan terbarukan

Setrum hijau di tengah ladang

Warga memeriksa bak penampungan pupuk organik hasil pengolahan teknologi Bioreaktor Kapal Selam di Pati, Jawa Tengah, Kamis (25/2/2021). (ANTARA/Sugiharto purnama)

Jakarta (ANTARA) - Terletak di pinggiran pusat Kabupaten Pati, Jawa Tengah, tidak terlalu sulit menemukan bangunan beton bernama Bioreaktor Kapal Selam yang merupakan alat untuk memproduksi energi hijau.

Ketik saja namanya di peta digital, lalu ponsel secara otomatis akan menuntun ke lokasi di Desa Langse, Kecamatan Margorejo.

Di ladang tumpangsari, Muchamad Sobri (49), memantau kerja alat ciptaannya ini melalui ponsel pintar yang terhubung langsung ke internet melalui jaringan WiFi.

Sobri menekan tombol power pada layar ponsel miliknya, lalu seketika deru mesin generator bertenaga gas metana yang terletak sekitar 10 meter dari tempat duduknya itu memecah hening pagi.

Semua kebutuhan energi untuk kegiatan pertanian modern di ladang dipasok dari Bioreaktor Kapal Selam yang mengubah limbah agrikultur berupa kotoran ternak dan sampah organik menjadi energi dengan bantuan fermentasi alami menggunakan reaksi anaerob.

Prinsip kerja bioreaktor mirip komputer, yakni ada unit input, proses, dan unit output.

Unit input merupakan limbah organik berupa kotoran ternak, rumput, jerami bahkan limbah pasar yang dicacah menggunakan mesin agar memudahkan proses fermentasi.

Baca juga: IESR paparkan hambatan pengembangan EBT di Indonesia

Butuh waktu 2-4 hari untuk menghasilkan gas metana dari proses fermentasi. Setelah gas metana terkumpul, lalu dikonversikan menjadi listrik menggunakan generator.

Sobri memodifikasi generator bensin menjadi generator gas metana, sehingga tidak memerlukan bahan bakar fosil untuk menyalakan mesin tersebut.

Di ladang juga ada mesin diesel solar berdaya 10.000 watt. Namun, mesin ini belum sepenuhnya menggunakan gas metana karena tidak ada busi untuk memantik api.

Dari 10 liter bahan bakar yang diperlukan untuk menyalakan mesin diesel, Sobri membutuhkan 2 liter solar dan 8 liter gas metana.

Delapan kotak akumulator atau aki berkapasitas 800 ampere menjadi media untuk menyimpan listrik. Jumlah ini cukup untuk menerangi ladang saat malam, menyalakan pompa air, light trap, pengairan sprinkler, bahkan menyalakan televisi dan internet WiFi.

"Saya menyakini bahwa hukum kekekalan energi itu benar. Energi tidak bisa diciptakan dan energi tidak bisa dimusnahkan, kita hanya mengatur," kata Muchamad Sobri saat diwawancarai di Pati,  pada penghujung Februari lalu.

Sobri yang merupakan lulusan S3 jurusan Ilmu Nutrisi dan Pakan Peternakan dari Institut Pertanian Bogor (IPB) melakukan penelitian dan pengembangan selama tiga tahun sejak 2013 berbekal jurnal internasional dan kajian ilmiah.

Dia memberi nama temuannya Bioreaktor Kapal Selam karena mekanismenya mirip kapal selam, yakni apabila gas habis bioreaktor akan naik ke atas dan jika gas masih ada, bioreaktor akan tetap tersembunyi di bawah air.

Baca juga: Dirjen ESDM: PLTS opsi terbaik kejar bauran EBT dan elektrifikasi

Bioreaktor Kapal Selam hasil ciptaannya ini kemudian mendapatkan hak paten pada 2017.

Tercatat ada 30 bioreaktor yang dibangun di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Mayoritas terletak di desa-desa yang memiliki lahan pertanian luas.

Rendah karbon

Teknologi Bioreaktor Kapal Selam tidak menggunakan sumber energi yang mengeluarkan karbondioksida yang berkontribusi terhadap peningkatan emisi gas rumah kaca di lapisan atmosfer Planet Bumi.

Terlihat inovasi ini bertujuan mendorong pembangunan berkelanjutan yang rendah karbon dan berdaya ekonomi tinggi.

Industri pertanian dan UMKM yang menjadi tulang punggung perekonomian dapat lebih efisien dari aspek pengeluaran anggaran untuk energi.

Bioreaktor mampu menghilangkan ketergantungan masyarakat pada listrik komersil, karena energi yang dihasilkan mudah diperoleh dari lingkungan tempat tinggal.
Sobri memeriksa instalasi kelistrikan yang terhubung dengan teknologi Bioreaktor Kapal Selam di Pati, Jawa Tengah, Rabu (24/2/2021). Inovasi teknologi ini merupakan perwujudan dari pembangunan rendah karbon yang memanfaatan limbah organik menjadi energi hijau. (ANTARA/Sugiharto purnama)


Selain menghasilkan energi, satu unit bioreaktor berkapasitas 150 meter kubik juga mampu memproduksi dekomposer pengurai, pupuk oganik untuk 150 hektare lahan pertanian, dan menyelesaikan masalah sampah yang selama ini mencemari lingkungan.

Di Desa Sumur, Kecamatan Cluak, Kabupaten Pati, energi hijau dari bioreaktor digunakan untuk menyalakan mesin pompa air. Pihak desa memiliki dua tower air berkapasitas 8.000 dan 18.000 meter kubik yang diperuntukkan untuk memenuhi kebutuhan air bersih bagi 127 rumah tangga di daerah tersebut.

Baca juga: Inovator bioreaktor kapal selam Pati nomine Kalpataru Jateng

Dana desa dikucurkan secara bertahap hingga Rp800 juta untuk pembangunan bioreaktor lengkap dengan lahan pertanian organik dan peternakan sapi yang terintegrasi.

Inovasi teknologi ini membuat penggunaan energi menjadi lebih efisien, ekonomis, dan ramah lingkungan. Pemanfaatan potensi lokal menjadi energi merupakan bukti Indonesia adalah negara kaya sumber daya alam.

"Sekarang ada banyak desa yang sudah mereplikasi konsep bioreaktor, terutama daerah yang memiliki lahan kering. Dana desa dan bantuan stimulus bisa digunakan untuk membangun ini (bioreaktor)," kata Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

Strategi ketahanan energi

Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral tahun 2020 menunjukkan jumlah bauran energi hijau berada di angka 11,5 persen dari target 23 persen pada 2025.

Penelitian terakhir Bappenas bersama Global Green Growth Institute (GGGI) memperkirakan Indonesia butuh total investasi sektor energi hijau sekitar 168 dolar AS untuk mencapai target penurunan emisi pada 2030, dengan membangun 56 GigaWatt (GW) tambahan pembangkit ramah lingkungan.

Sebagai upaya mencapai target tersebut, dilakukan banyak dorongan kepada pengembangan energi hijau, baik dalam bentuk peraturan, stimulus, maupun insentif.

Namun jika berbicara pengembangan energi hijau dan pembangunan rendah karbon dalam konteks Indonesia, tidak cukup jika hanya membahas energi hijau.

Upaya transisi dari energi fosil ke energi hijau harus dilakukan secara bertahap agar tidak memberikan dampak yang tiba-tiba baik dalam aspek keuangan maupun aspek teknikal.

Baca juga: Bioreaktor kapal selam ubah limbah jadi energi

Oleh karena itu, salah satu strategi yang dapat diampu pemerintah dalam proses transisi energi adalah mengganti sumber energi yang tinggi emisi, dengan sumber energi yang memiliki emisi lebih rendah.
Gambar animasi mekanisme kerja teknologi Bioreaktor Kapal Selam dalam menghasilkan energi hijau yang ramah lingkungan. (ANTARA/HO Muchamad Sobri)


Pembangunan Bioreaktor Kapal Selam merupakan perwujudan dari pembangunan rendah karbon. Di sektor energi, bentuk pemanfaatan energi hijau adalah pemanfaatan sumber energi lokal yang mudah didapatkan masyarakat sekitar untuk menjaga keberlanjutan produksi energi.

"Bioreaktor ini dapat menjadi contoh bahwa masyarakat bisa berkontribusi untuk pengembangan renewable energy. Jadi, tidak hanya pemerintah, swasta-swasta besar, masyarakat pun bisa," kata Direktur Lingkungan Hidup Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas Medrilzam.

Pewarta : Sugiharto Purnama
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar