Danlanud Supadio tegaskan 6 pesawat gagal mendarat bukan karena asap

id lanud supadio

Danlanud Supadio tegaskan 6 pesawat gagal mendarat bukan karena asap

Komandan Lanuda Supadio, Kabupaten Kubu Raya Marsma TNI Deni Halosoan Simanjuntak mendampingi Guberur Kalbar Sutarmidji. (ANTARA/Yunita Andriani)

Pontianak (ANTARA) - Komandan Lanud Supadio, Kabupaten Kubu Raya Marsma TNI Deni Halosoan Simanjuntak mengatakan enam pesawat yang gagal mendarat bukan karena kabut asap.

"Dari tanggal 26 Februari, terdapat enam pesawat yang gagal mendarat, lima diantaranya beralasan unstabilized approach (tidak stabil) dan satunya yaitu Garuda tidak melihat runway (landasan pacu)," kata Deni Halosoan Simanjuntak usai menghadiri Rapat Forkopimda Provinsi terkait pembahasan isu yang yang terjadi di Kalbar, Selasa.

Namun, menurut dia, jika dilihat dengan alat ukur yang ada, masih memenuhi syarat untuk digunakan (landing).

Deni mengatakan belum bisa menyatakan jika bandara ditutup akibat asap, karena semua tergantung pada kemampuan pilot pada saat terbang.

"Bukan berarti pilotnya kurang, mungkin keadaan saat itu memang dia tidak melihat, jadi belum bisa dikatakan bandara tutup karena asap," katanya.

Baca juga: Lanud Supadio dan Satgas COVID-19 Kubu Raya gelar razia masker

Baca juga: Pangkalan TNI AU Supadio dukung Kanwil Hukum dan HAM Kalimantan Barat


Dia juga menyampaikan dari landasan 1.500 meter pada dasarnya bisa mendarat dan batasannya juga memenuhi syarat.

"Itu tergantung pilot, mau mendarat atau tidak, Pesawat Hawk kami semalam masih terbang," ujarnya.

Gubernur Kalbar Sutarmiji mengatakan masyarakat jangan mengambil persepsi dari satu pihak, sehingga berita yang didapat belum tentu kebenarannya.

"Saya juga melihat dari sebanyak itu cuma Garuda, kenapa Lion, Batik, dan lainnya mendarat, mungkin SOP-nya lebih ketat," kata Sutarmidji usai menghadiri rapat Forkopimda.*

Baca juga: Personel Lanud Supadio ikuti pembekalan keselamatan terbang dan kerja

Baca juga: TNI AU-RSAF gelar Latma Camar Indopura XXVI di Lanud Supadio

Pewarta : Rendra Oxtora dan Yunita Andriani
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar