LaNyalla ingatkan pemerintah waspadai kemiskinan anak akibat COVID-19

id Covid-19, LaNyalla, kemiskinan anak, DPD RI

LaNyalla ingatkan pemerintah waspadai kemiskinan anak akibat COVID-19

Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI AA LaNyalla Mahmud Mattalitti. (ANTARA/HO-Humas DPD RI).

Jakarta (ANTARA) - Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI AA LaNyalla Mahmud Mattalitti mengingatkan pemerintah untuk mewaspadai potensi kemiskinan yang dapat dialami 2 juta anak di Indonesia sebagai imbas dari pandemi COVID-19.

"Goyahnya ekonomi keluarga akan memicu meningkatnya eksploitasi anak untuk bekerja dan putus sekolah. Ini akan membahayakan dan dapat menyebabkan lost generation," kata LaNyalla dalam keterangan resmi yang diterima ANTARA di Jakarta, Sabtu.

Baca juga: LPSK terima bantuan untuk anak terkena dampak COVID-19 dari YIIM

Mantan Ketua Umum Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) itu mengemukakan penelitian sejumlah lembaga, termasuk Unicef telah memprediksi sekitar 2 juta anak Indonesia terancam miskin akibat COVID-19.

Sebab, rata-rata masyarakat kelas bawah tidak memiliki tabungan jangka panjang. "Sehingga kerentanan ketahanan keluarga dan rapuhnya bangunan ekonomi mengancam setiap saat," kata pria yang juga Mantan Ketua Umum Kamar Dagang dan Indistri (Kadin) itu.

Baca juga: Setahun pandemi COVID-19, vaksinasi harapan baru atasi "learning loss"

LaNyalla meminta pemerintah untuk menyiapkan strategi antisipasi agar ke depan angka kemiskinan anak tidak menjadi beban negara.

"Saat ini saja sudah banyak anak-anak yang putus sekolah, menikah muda karena faktor ekonomi, serta maraknya anak-anak yang harus turun ke jalanan mengais rejeki. Hal ini harus segera ditangani," kata Senator Dapil Jawa Timur itu.

Baca juga: Akademisi UI: "Keletihan Sosial" membuat masyarakat kurang responsif

Pandemi COVID-19 telah memberikan dampak yang cukup besar bagi perekonomian masyarakat. Bahkan, kondisi ini diperkirakan masih akan berlanjut di tahun ini, seiring masih adanya pandemi yang melanda global.

Demikian hasil survei yang dilakukan sejumlah lembaga seperti UNDP, Unicef, Australia-Indonesia Partnership for Economic Development (Prospera) dan SMERU Indonesia, yang didukung oleh Badan Pusat Statistik (BPS).

Survei melibatkan lebih dari 12.216 keluarga di 34 provinsi dan 247 kabupaten selama periode Oktober-Desember 2020.

Ekonomi yang menghantam rumah tangga selama COVID-19 juga berdampak terhadap anak. Berdasarkan survei disebut akan ada 2 juta lebih anak masuk jurang kemiskinan, jika bantuan sosial (bansos) dihentikan tahun ini.

Unicef sudah memperkirakan lebih dari 2 juta anak di Indonesia akan jatuh ke jurang kemiskinan jika bantuan sosial terhadap rumah tangga dihentikan pada 2021.

Tak hanya itu, hasil survei juga menunjukkan selama COVID-19 pekerja anak meningkat. Mereka juga kehilangan kemampuan belajar selama di rumah karena kesulitan untuk mengakses sekolah online.

Pewarta : Andi Firdaus
Editor: Heru Dwi Suryatmojo
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar