Pasar Campurdarat Tulungagung ludes terbakar

id kebakaran pasar , pasar terbakar, pasar campurdarat terbakar

Pasar Campurdarat Tulungagung ludes terbakar

Pasar Campurdarat setelah kebakaran hebat yang menghanguskan sekitar 70 persen bangunan kios dan lapak pedagang pada Rabu (17/3/2021) dini hari. (Ist)

Tulungagung, Jatim (ANTARA) - Pasar tradisional terbesar di Kecamatan Campuerdarat Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, Rabu dini hari, mengalami kebakaran hebat sehingga meluluhlantakkan 70 persen bangunan di dalamnya hingga api berhasil dipadamkan sekitar dua-tiga jam kemudian.

Tidak ada laporan korban jiwa dalam kejadian tersebut.Namun, kerugian diyakini mencapai ratusan juta hingga miliaran rupiah. Selain menghanguskan sebagian besar kios dan lapak pedagang yang ada di sisi timur dan selatan, aktivitas perdagangan saat ini berhenti total.

Hingga pukul 09.00 WIB petugas pemadam kebakaran masih melakukan pembasahan karena asap terlihat mengepul dari puing-puing bangunan yang runtuh akibat dilalap si jago merah.

"Informasi dari warga, titik api berasal dari blok lapak pedagang plastik," kata Kepala Bidang Damkar Tulungagung, Gatut Sunu Utomo dikonfirmasi di lokasi kejadian.

Baca juga: Polisi selidiki penyebab kebakaran Pasar Induk Banjarnegara

Baca juga: Sebuah kios di Pasar Kliwon Kudus terbakar, ratusan pedagang panik
Kondisi Pasar campurdarat setelah kebakaran hebat yang menghanguskan skeitar70 persen bangunan kios dan lapak pedagang pada Rabu (17/3) dini hari (Ist)

Sedikitnya empat unit mobil pemadam kebakaran dikerahkan dalam upaya memadamkan api yang sudah berkobar membakar sebagian besar lapak pedagang.

Mulanya hanya dua unit mobil PMK dan dua unit truk suplai/tangki air milik Pemkab Tulungagung dikerahkan. Namun, tak berselang lama dua unit mobil PMK milik Pemkab Tulungagung datang membantu.

Gatut mengaku sengaja meminta bantuan PMK daerah tetangga karena saat mereka datang api sudah membesar sehingga akan sulit dipadamkan hanya mengandalkan dua unit mobil PMK mereka.

Belum diketahui penyebab kebakaran. Dugaan sementara, api berasal dari korseleting listrik di blok lapak/kios pedagang plastik yang ada di sisi dalam pasar bagian timur.

Untungnya beberapa blok kios dan lapak pedagang yang berada di sisi barat aman dari amukan si jago merah. Api yang berkobar berhasil dilokalisir oleh tim PMK dengan terus menyemprotkan air dari sisi tengah bagian barat, untuk mencegah api terus merembet ke sisi barat.
Kondisi Pasar campurdarat setelah kebakaran hebat yang menghanguskan skeitar70 persen bangunan kios dan lapak pedagang pada Rabu (17/3) dini hari (Ist)

Sunarsih, salah satu pedagang bumbu dapur di Pasar Campurdarat mengaku mengalami kerugian hingga belasan juta rupiah.

Dagangannya berupa tomat, bawang merah, bawang putih hangus terbakar. Dari dua kiosnya, satu di antaranya hangus terbakar.

“Kerugian sekitar Rp15 juta hingga Rp20 jutaan,” kata wanita paruh baya tersebut sambil menatap kiosnya yang terbakar.

Sebagaimana pedagang lain menjelang puasa, Sunarsih mengaku sempat berbelanja dagangan sebesar Rp10 juta untuk persiapan bulan puasa.

Sunarsih berharap Pemkab Tulungagung untuk mendapatkan bantuan. "Dibantu, ya, Alhamdulillah,” ujar wanita yang sudah berdagang di Pasar Campurdarat sejak 20 tahun silam itu.

Untuk sementara waktu, pedagang yang lapaknya terbakar melakukan aktivitas di jalanan sekitar pasar.

Pasar Campurdarat Tulungagung merupakan pasar tradisional terbesar di Kecamatan Campurdarat. Lokasinya berjarak sekitar 20 kilometer dari pusat kota ke arah selatan atau sekitar 35 kilometer dari Pantai Popoh.

Sebelum ini, tepatnya pada 2019, pasar tradisional Ngunut hangus dilalap si jago merah. Api yang berkobar malam hari yang menyebabkan hampir 80 persen bangunan nyaris rata dengan tanah.

Saat ini pasar Ngunut telah dibangun kembali. Belum selesai pembangunan dilakukan, Pasar Campurdarat yang konon sudah masuk rencana rehabilitasi atau pembangunan kembali ikut terbakar. (*)

Baca juga: 24 ruko terbakar di pasar kawasan Terminal Ngabang

Baca juga: 500 lebih kios di Pasar Berastagi ludes terbakar

Pewarta : Destyan H. Sujarwoko
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar