Menuju Lebaran di tengah penguncian wilayah

id Idul fitri,Malaysia,India,Menteri perhubungan,Budi karya,Penguncian wilayah

Menuju Lebaran di tengah penguncian wilayah

Seorang warga menganyam bungkus ketupat jelang lebaran di Desa Alue Raya, Samatiga, Aceh Barat, Aceh, Senin (10/5/2021). ANTARA FOTO / Syifa Yulinnas/aww.

Jakarta (ANTARA) - Hari Raya Idul Fitri 1442 Hijriah dilaksanakan dalam suasana pembatasan sosial dan ekonomi akibat wabah virus corona yang belum terkendali.

Idul Fitri atau Lebaran ini merupakan kali kedua dilaksanakan dalam suasana keterbatasan dan pembatasan. Pembatasan dilakukan sebagai bagian dari strategi untuk memutus rantai penularan dan penyebaran virus corona.

Tidak ada orang yang nyaman dengan berbagai pembatasan yang telah dan sedang dilakukan oleh pemerintah. Apalagi tidak ada kepastian sampai kapan pembatasan ini dilakukan.

Pemerintah berulang kali telah menyampaikan bahwa pembatasan dilakukan untuk tujuan melindungi masyarakat dari paparan virus corona (COVID-19).

Demi tujuan itu, seluruh daya dan upaya telah dikerahkan dan diyakini akan terus dikerahkan untuk terwujudnya pengendalian terhadap wabah ini.

Bukan hanya Indonesia, semua negara di dunia sampai saat ini juga masih berjibaku untuk mengatasi virus yang bermula dari Kota Wuhan (China) tersebut. Bahkan negara yang mengklaim sudah mampu mengendalikan pun masih harus menghadapi gelombang serta varian baru.

Karena itu, bukan hanya warga Indonesia saja yang merayakan Idul Fitri dalam suasana pembatasan. Di negara-negara tetangga pun, Lebaran hadir dalam suasana pembatasan serta ketidakpastian sosial dan ekonomi.

Baca juga: MUI: Masyarakat harus tetap waspada dan patuhi protokol kesehatan

Ketika meninjau Terminal Pulo Gebang di Jakarta Timur, akhir pekan lalu, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan kasus COVID-19 di beberapa negara tetangga di Asia Tenggara tercatat lebih parah dibandingkan Indonesia setelah merebaknya kembali penyakit dari virus SARS CoV-2 itu.

Beberapa tempat seperti Filipina harus dilakukan penguncian (lockdown) berarti lebih parah dari Indonesia. Namun bukan berarti Indonesia harus bangga yang bisa membuat lengah.
Seorang laki-laki menggunakan masker melintas dekat mural bertuliskan "save earth" di Lingkungan Peresak Tempit, Kelurahan Ampenan Tengah, Mataram, NTB, Minggu (5/4/2020). Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi NTB jumlah kasus warga terkonfirmasi positif COVID-19 di wilayah NTB yang tersebar di Kota Mataram, Lombok Tengah, Lombok Timur dan Kabupaten Sumbawa hingga Minggu (5/4) pukul 14.00 Wita berjumlah delapan orang, tujuh orang masih dirawat dan satu orang meninggal.ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi/aww. (ANTARA FOTO/AHMAD SUBAIDI)


Penguncian nasional
Selain India yang terjadi kenaikan kasus secara eksponensial, saat ini virus corona kembali merebak juga di Malaysia dan Singapura. Beberapa negara lainnya di Asia Tenggara terjadi kenaikan kasus.

Malaysia pada Senin (10/5) kembali memberlakukan penguncian nasional baru. Malaysia juga sedang bergulat dengan lonjakan kasus virus corona dan varian yang sangat menular, yang menurut pemerintah sedang menguji sistem kesehatan negara itu.

Perdana Menteri Muhyiddin Yassin mengatakan semua perjalanan antarnegara bagian dan antardistrik akan dilarang. Begitu juga dengan pertemuan sosial.

Institusi pendidikan ditutup tetapi sektor ekonomi akan dibiarkan terus berlanjut. Malaysia menghadapi gelombang ketiga COVID-19 yang dapat memicu krisis nasional.

Tindakan penguncian akan berlanjut hingga 7 Juni. Penguncian diperlukan karena adanya varian virus corona baru dengan tingkat infeksi yang lebih tinggi dan kendala yang berkembang pada sistem kesehatan masyarakat.

Baca juga: Lindungi diri dari pandemi lewat silaturahmi virtual

Malaysia telah mencatat lonjakan infeksi COVID-19 dalam beberapa pekan terakhir, dengan laporan 3.807 kasus baru pada Senin (10/5). Secara total, negara Asia Tenggara itu telah mencatat 444.484 kasus dan 1.700 kematian.

Malaysia berada dalam keadaan darurat, yang diumumkan oleh Muhyiddin pada Januari lalu untuk mengendalikan penyebaran COVID-19.

Seruan penguncian
Seruan penguncian nasional di India meningkat karena kasus virus corona baru dan kematian mendekati rekor tertinggi pada Senin (105). Seruan itu meningkatkan tekanan pada pemerintahan Perdana Menteri Narendra Modi.

Kementerian kesehatan setempat melaporkan 366.161 infeksi baru dan 3.754 kematian, sedikit dari puncak kasus baru-baru ini. Penghitungan infeksi di India sekarang mencapai 22,66 juta, dengan 246.116 kematian.

Karena banyak rumah sakit bergulat dengan kekurangan oksigen dan tempat tidur yang akut sementara kamar mayat dan krematorium meluap, para ahli mengatakan angka aktual India bisa jauh lebih tinggi daripada yang dilaporkan.

Data dari Dewan Penelitian Medis India menunjukkan, sebanyak 1,47 juta sampel yang diuji pada Minggu (9/5) untuk COVID-19 adalah yang terendah bulan ini. Angka tersebut dibandingkan dengan rata-rata harian 1,7 juta selama delapan hari pertama bulan Mei.

Banyak negara bagian telah memberlakukan penguncian ketat selama sebulan terakhir, sementara yang lain telah mengadopsi pembatasan pergerakan dan menutup bioskop, restoran, bar dan pusat perbelanjaan.

Baca juga: Satgas COVID-19 minta kegiatan komunitas di RT/RW diawasi ketat

New Delhi, ibu kota India, memasuki minggu keempat penguncian, dengan pembatasan yang lebih tegas seperti penutupan jaringan kereta pinggiran kota, sementara penduduk bergegas mencari tempat tidur rumah sakit yang langka dan persediaan oksigen.
 
Panitia Lembaga Amil Zakat (LAZ) menerima zakat fitrah dari warga di Masjid Raya Nurul Islam, Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Selasa (11/5/2021). ANTARA FOTO/Makna Zaezar/wsj.

Pembatasan
Situasi dan perkembangan wabah virus corona di beberapa negara tetangga tampaknya layak untuk dicermati. Kemudian dijadikan perbandingan dan pertimbangan dalam pengambilan keputusan.

Terlebih saat ini di akhir Ramadhan dan menjelang Hari Raya Idul Fitri 1442 Hijriah. Idul Fitri adalah hari kemenangan setelah setiap muslim melalui ujian berat menahan nafsu.

Selama ini hari kemenangan itu dirayakan dalam suasana suka cita. Tentu ada perasaan gembira.

Namun di tengah wabah saat ini, meluapkan perasaan gembira dengan euforia bukan saja tidak tepat tetapi juga berisiko. Itu karena kegembiraan yang diwarnai euforia sering identik dengan keterlepasan pada situasi.

Kegembiraan merayakan kemenangan kemudian berlanjut dengan saling kunjung dan silaturahmi secara langsung antarpersonal, antarkeluarga dan antarkomunitas dalam bingkai "halal bihalal".

Tak jarang berlanjut pula menjadi rekreasi ke objek-objek wisata.

Baca juga: Wapres: Larangan mudik demi keselamatan bersama

Karena itu, Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19 telah mengingatkan mengenai situasi terburuk dari euforia suka cita Lebaran.

Satgas pun memperketat pengawasan mobilitas serta kerumunan masyarakat yang cenderung terjadi di sejumlah tempat wisata untuk merayakan Idul Fitri 1442 Hijriah. Tidak semua objek wisata boleh dibuka.

Untuk tempat pariwisata yang berlokasi di zona merah dan zona oranye akan ditutup. Sedangkan tempat wisata yang berlokasi di zona kuning dan hijau dapat beroperasi dengan pembatasan pengunjung maksimal 50 persen dari kapasitas.

Pembatasan demi pembatasan memang masih harus dilakukan hingga Lebaran ini agar suka cita di hari yang fitri tidak menjadi duka cita setelahnya nanti.

Pewarta : Sri Muryono
Editor: Edy Sujatmiko
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar