Digitalisasi dorong UMKM naik kelas

id umkm,umkm go digital,digitalisasi umkm,menkop ukm

Digitalisasi dorong UMKM naik kelas

Pelaku UMKM melakukan digitalisasi produk saat mengikuti pelatihan ekosistem digital dalam rangkaian Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia (Gernas BBI) 2021 di Kantor Gubernur Bali, Denpasar, Bali, Selasa (26/1/2021). ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo/foc.

Jakarta (ANTARA) - Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (Menkop UKM) RI Teten Masduki mengatakan digitalisasi mampu mendorong UMKM untuk naik kelas dan memperluas bisnisnya ke level yang lebih tinggi.

"Sudah mulai bertumbuh, karena market demand-nya ada. UMKM saya kira punya pengalaman luar biasa, dari krisis ke krisis mampu melakukan adaptasi dan inovasi produk, dan salah satunya adalah mereka hijrah ke online," kata Menkop UKM Teten dalam acara bincang virtual, Senin.

Lebih lanjut, Menkop UKM mengatakan, selama pandemi, terdapat kenaikan angka untuk UMKM yang sudah terhubung ke ekosistem digital. Ia memaparkan, sebelum pandemi COVID-19 melanda, Indonesia baru memiliki sebanyak kurang lebih 8 juta UMKM yang terhubung secara daring. Namun, per Mei 2021, terdapat setidaknya 13,5 juta UMKM (naik 21 persen) yang melakukan digitalisasi.

Baca juga: Keterlibatan UMKM di rantai pasok industri picu daya saing

Baca juga: "Go digital", kunci UMKM sukses lalui pandemic COVID-19


Melihat hal ini, pemerintah menargetkan di tahun 2024 akan ada setidaknya 30 juta pelaku UMKM yang telah on boarding di platform digital.

Meski demikian, ia tak mengelak bahwa terdapat sejumlah hal yang menjadi tantangan bagi UMKM untuk mulai beralih dan mengintegrasikan bisnisnya di dunia digital.

"Di usaha mikro, tantangan pertama itu adalah literasi digital. Ini sudah ada solusinya, yaitu dengan dibantu oleh para reseller untuk membantu UMKM yang masih ada masalah literasi digital dan jumlah SDM mereka yang (mengurus) produksi dan berjualan online yang gerakannya cepat," jelas Menteri Teten.

Menurut dia, isu kedua adalah kapasitas produksi. Jika UMKM akhirnya masuk ke pasar yang besar, tentu diperlukan berbagai adaptasi termasuk kapasitas dan ketersediaan, serta layanan digital yang memudahkan penjual maupun pembelinya.

"Sekarang muncul platform lokal yang tinggi penjualannya di media sosial. Ada juga aplikasi yang membantu payment, logistik untuk berjualan di media sosial. Ini adalah tahap pertama sebelum mereka masuk ke e-commerce yang (kapasitasnya) lebih besar," paparnya.

Lebih lanjut, adalah kualitas dan daya saing produk. Menurut Menkop UKM, meski banyak produk UMKM yang bagus kualitasnya, tapi produsen harus mulai memikirkan bagaimana mencapai pasar global. Misalnya dengan mengikuti pelatihan terkait pengemasan hingga branding produk, agar nantinya produk UMKM bisa bersaing secara luas dan bisa diekspor ke luar negeri.

Baca juga: Menperin perkirakan industri otomotif melesat di paruh kedua

Baca juga: Honda jual 2.488 mobil pada Juni, separuhnya melalui online

Pewarta : Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar