Konsep pembangunan JIS jadi katalisator peremajaan kota masa datang

id JIS,Jakarta International Stadium,Katalisator Peremajaan Kota,Urban Regeneration

Konsep pembangunan JIS jadi katalisator peremajaan kota masa datang

Pekerja menyelesaikan proyek pembangunan Jakarta International Stadium (JIS) di Papanggo, Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (22/6/2021). ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/foc.

Jakarta (ANTARA) - Konsep pembangunan Stadion Internasional Jakarta (Jakarta International Stadium/ JIS) dengan pengakuan desain bangunan hijau (greenship design recognition) akan menjadi katalisator peremajaan kota masa mendatang.

Direktur Hubungan Internasional dan Pemerintah Lembaga Konsili Bangunan Hijau Indonesia Tiyok Prasetyoadi mengatakan green building bukan hanya sekedar konsep bangunannya saja, melainkan juga merubah pola pikir dan pola perilaku masyarakat sekitar.

"Green building tidak hanya bangunan, tapi juga merubah pola pikir dan pola perilaku masyarakat," ujar Tiyok saat menjadi pembicara seminar dengan tema 'Konsep Pembangunan Berkelanjutan Jakarta International Stadium (JIS) dan Sertifikasi Green Building' dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat. 

Seperti diketahui, Jakarta International Stadium (JIS) meraih predikat platinum dengan skor 91 untuk pengakuan desain bangunan hijau (greenship design recognition) dari lembaga sertifikasi dari Dewan Lembaga Konsili Bangunan Hijau Indonesia (Green Building Council Indonesia/ GBCI).

GBCI merupakan anggota dari Lembaga Konsili Bangunan Hijau Dunia (World Green Building Council / WGBC) yang berpusat di Toronto, Kanada dengan beranggotakan 102 negara di seluruh dunia.

Baca juga: Persija Jakarta tak sabar bermain di JIS

Penilaian greenship level platinum pada Design Recognition disandarkan kepada enam parameter pemeriksaan (verifikasi) yaitu:

  1. Appropriate Site Development (ASD), memperoleh poin sebesar 12,
  2. Energy Efficiency and Conservation (EEC) mendapatkan poin 24
  3. Water Conservation (WAC) memperoleh poin 18,
  4. Material Resources and Cycle (MRC) meraih dua poin,
  5. Indoor Health and Comfort (IHC) mendapatkan empat poin, dan
  6. Building Environment Management (BEM) memperoleh tiga poin

Menurut Tiyo, Jakarta International Stadium (JIS) menjadi ruang publik pertama di Indonesia yang mengusung konsep green building.

Harapannya, stadion standar FIFA yang berlokasi di Papanggo, Tanjung Priok, Jakarta Utara dan menjadi kebanggaan masyarakat Provinsi DKI Jakarta itu akan memicu kawasan publik lainnya di Indonesia untuk menerapkan konsep green building.

Sehingga, hadirnya JIS yang merupakan stadion pertama di Indonesia yang memiliki atap buka-tutup (retractable roof) akan menjadi simbol pembangunan berkelanjutan di Indonesia sekaligus menjadi katalisator peremajaan kota (urban regeneration).

Baca juga: Jakpro kupas teknologi angkat atap JIS bareng Persatuan Insinyur

Hal itu sejalan dengan visi kota Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang sedang fokus memajukan kotanya, membahagiakan warganya.

Untuk mendukung ekosistem green building di JIS, menurut Tiyok, ada beberapa indikator yang mesti terpenuhi, di antaranya lahan tepat guna yang mudah diakses oleh transportasi umum maupun pejalan kaki.

Itu sebabnya, JIS nantinya perlu terintegrasi dengan angkutan publik seperti TransJakarta, LRT Jakarta, hingga KRL Commuter Line.

Selain itu, JIS juga mendesain "ramp" sebagai pintu masuk utama bagi suporter dan "concourse" di lantai 3 yang menjadi sirkulasi bagi penonton dari stadion utama JIS. Nantinya, akan terdapat dua "ramp" yakni dari sisi Timur dan Barat.

Manfaat lainnya, kedua belah pihak suporter yang bertanding akan memiliki akses utama masing-masing.

Baca juga: Stadion megah di Jakarta itu bernama JIS

Indikator kedua yakni efisiensi energi. Misalnya saja 5,4 persen kebutuhan listrik stadion utama akan menggunakan panel surya. Ini berarti "Stadion Kita" kebanggaan Indonesia itu akan menjadi ruang publik pertama yang memanfaatkan energi terbarukan.

Tiyok berharap seiring berjalannya waktu, persentase bangunan yang memanfaatkan energi terbarukan itu di Indonesia akan terus meningkat.

Kemudian, JIS juga akan dikelilingi oleh dinding muka bangunan (fasad) yang memiliki selubung atau rongga. Artinya, setengah keliling stadion utama JIS bakal memiliki sirkulasi udara dan cahaya matahari yang cukup. Hal itu berarti juga akan mengurangi pemakaian pendingin udara (air conditioner/ AC).

Indikator ketiga aspek green building di JIS yaitu konservasi air. Dengan konsep water conservation atau penghematan penggunaan air.

Nantinya, wastafel, kran tembok maupun pancuran (shower) akan dilengkapi dengan fitur berhenti otomatis (auto stop). Itu artinya, setiap fitur diatur sesuai dengan standar bangunan green building.

Baca juga: Pembibitan rumput Jakarta International Stadium di Tangerang

"Semaksimal mungkin air hujan dan air limbah tidak keluar dari JIS," jelasnya.

Indikator selanjutnya untuk memenuhi green building di JIS seperti: material ramah lingkungan, kesehatan dalam ruang dan manajemen lingkungan.

Sebagai desainer stadion berkualitas internasional yang ingin menyelaraskan konsep green building dengan perilaku masyarakat, Jakpro mulai berkolaborasi dengan berbagai komunitas lingkungan, sepakbola maupun warga sekitar untuk terus mensosialisasikan dan mengkampanyekan budaya green attitude atau budaya pelestarian lingkungan.

Salah satu contohnya, para pengunjung JIS diwajibkan membawa botol minuman (tumbler) sendiri. Nantinya hal itu juga akan diterapkan bagi para suporter sepakbola maupun para pengunjung agenda besar yang terselenggara di JIS.

Sertifikat final
Sementara itu, Wakil Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia Danis Hidayat Sumadilaga mengapresiasi pembangunan JIS yang mengusung konsep bangunan hijau (green building).

Baca juga: Atap Jakarta International Stadium mampu serap energi surya

Sebab, di Indonesia, tren global pembangunan perkotaan membawa tantangan yang kompleks. Karena tantangan yang kompleks, pembangunan kota dan kawasan perkotaan tidak bisa dilakukan hanya dengan infrastruktur. Menciptakan lingkungan perkotaan yang berkelanjutan sangat penting.

Danis yang juga menjabat sebagai Direktur Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia itu menambahkan, pembangunan juga harus memberikan dampak terhadap lingkungan ke depannya.

Sehingga mendorong peningkatan kesadaran tentang menjaga lingkungan hidup yang sehat, kesiapan terhadap perubahan iklim, dan mitigasi bencana.

Terlebih, banyak aspek yang dapat menjadikan suatu bangunan tersebut green building di antaranya: bentuk dan orientasi bangunan, desain facade, sistem pencahayaan, sistem pendingin udara, sistem transportasi vertikal, manajemen limbah, manajemen air bersih dan aspek-aspek lain.

"Aspek-aspek desain ini dapat dieksplorasi lebih lanjut dalam desain Jakarta International Stadium," ujarnya.

Baca juga: Jakpro bersama KAI dan Kemenhub bahas transportasi terintegrasi di JIS

JIS merupakan sedikit bangunan yang telah meraih sertifikasi atau greenship level platinum kategori bangunan baru atau New Building pada Design Recognition.

Sertifikasi atau greenship level platinum, yakni predikat bangunan yang ramah lingkungan level tertinggi.

Selanjutnya, JIS akan menyiapkan berbagai syarat tambahan untuk memperoleh sertifikat kategori bangunan baru (sertifikat final).


Pewarta : Abdu Faisal
Editor: Edy Sujatmiko
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar