Kemendikbudristek: PJJ harus dilakukan secara menyenangkan

id PJJ, asesmen, pelaksanaan PJJ,Kemendikbduristek

Kemendikbudristek: PJJ harus dilakukan secara menyenangkan

Tangkapan layar Analis Kebijakan Ahli Muda Direktorat SMA Ditjen PAUD Dikdasmen Kemendikbudristek, Junus Simangunsong, dalam taklimat media di Jakarta, Kamis (29/7/2021). ANTARA/Indriani/pri.

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) menyatakan pelaksanaan pendidikan jarak jauh (PJJ) harus dilakukan secara menyenangkan.

“Pembelajaran yang menyenangkan membuat siswa tidak merasa bosan, meskipun pembelajaran dilakukan secara daring,” ujar Analis Kebijakan Ahli Muda Direktorat SMA Ditjen PAUD Dikdasmen Kemendikbudristek, Junus Simangunsong, dalam taklimat media di Jakarta, Kamis.

Pembelajaran yang menyenangkan tersebut terdiri dari beberapa aspek yakni peserta didik terlibat dalam semua proses pembelajaran, kontekstual atau menarik jika dihubungkan dengan kebutuhan peserta didik dan kebutuhan riil, umpan balik atau peserta didik merasa diperhatikan, dihargai dan anak menerima masukan dan memperoleh nilai.

Selanjutnya, pembelajaran dilakukan dengan belajar dan bermain serta mempraktikkan secara langsung.

“Terakhir adalah bermakna, yang mana pesan dan arti dari pembelajaran yang ingin disampaikan dan bermanfaat bagi peserta didik,” terang dia.

Baca juga: PJJ bikin stres? Kenali karakter anak agar belajar lancar
Baca juga: Produksi konten pembelajaran digital penting imbangi PJJ

Dalam pelaksanaan PJJ, lanjut dia, pembelajaran maupun penilaian juga dilakukan secara terintegrasi, yang terdiri dari penilaian hasil belajar, asesmen diagnostik dan proses pembelajaran itu sendiri.

Ia juga menganjurkan agar sekolah rutin melakukan asesmen secara berkala untuk memantau dampak pandemi pada siswa.

Pemantauan tersebut bertujuan untuk memantau siswa yang paling berpotensi tertinggal. Asesmen nonkognitif ditujukan untuk mengukur aspek psikologi dan emosional anak, kesejahteraan psikologi dan sosial siswa, aktivitas selama belajar dari rumah, dan kondisi keluarga siswa.

Sementara asesmen diagnostik kognitif bertujuan untuk menguji kompetensi dan capaian pembelajaran anak, mengidentifikasi capaian kompetensi peserta didik, hasil asesmen menjadi dasar pilihan strategi pembelajaran, dan memberikan remidial atau pelajaran tambahan untuk peserta yang paling tertinggal.

“Asesmen ini harus dilakukan secara berkala, agar sekolah dapat mengetahui kondisi siswa saat pandemi COVID-19,” imbuh dia.

Baca juga: Nadiem Makarim: Teknologi bukan hanya untuk menunjang PJJ
Baca juga: Legislator sebut belum ada data pendidikan terbaru akibat pandemi
Baca juga: BAKTI upayakan pemerataan akses belajar daring


Pewarta : Indriani
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar