BPPT: TKDN alat radiografi digital DDR bisa capai 81,37 persen

id alat radiografi digital,BPPT,DDR

BPPT: TKDN alat radiografi digital DDR bisa capai 81,37 persen

Produk Inovasi Direct Digital Radiography (DDR). ANTARA/Martha Herlinawati Simanjuntak

Jakarta (ANTARA) - Hasil kajian Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menunjukkan potensi penggunaan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) pada alat radiografi digital Direct Digital Radiography (DDR) bisa mencapai 81,37 persen.

"Prediksi TKDN sangat tinggi 81,37 persen," kata Perekayasa Madya di Pusat Pengkajian Industri Proses dan Energi BPPT Ermawan DS dalam Webinar Kemandirian Alat Kesehatan Melalui Produk Inovasi Direct Digital Radiography (DDR) di Jakarta, Jumat.

DDR merupakan inovasi yang dihasilkan oleh Universitas Gadjah Mada, dengan PT Madeena sebagai mitra industri. BPPT berperan sebagai pendamping prototipe dan perolehan izin edar. DDR nantinya dapat digunakan terutama dalam skrining pemeriksaan COVID-19. Namun, saat ini masih proses untuk mendapatkan izin edar produk.

DDR merupakan alat radiografi digital yang menggunakan sinar X-flouresen digital dengan intensitas penyinaran lebih rendah dan tetap menghasilkan kualitas citra yang sama dengan radiografi konvensional. DDR dapat dioperasionalkan untuk posisi berdiri maupun posisi tidur.

Baca juga: TFRIC-19 dorong hilirisasi DDR sebagai alat radiografi digital
Baca juga: BPPT: Produk inovasi DDR miliki peluang pasar komersial di Indonesia


Ia mengungkapkan, potensi penggunaan TKDN dihitung menggunakan Permenperin Nomor 22 Tahun 2020, dan hasil penghitungan menunjukkan potensi TKDN sebesar 81,37 persen yang terdiri dari aspek manufaktur tercapai 54,87 persen dan aspek pengembangan 26,50 persen.

"Bahan baku atau komponen utama DDR berupa X-ray generator yang masih impor dari China. Komponen pendukung lain seperti sensor, kamera, display, komputer, software, paltform disuplai dari lokal dan diimpor," katanya.

Selain instrumen TKDN, daya saing produk inovasi harus didorong melalui perkuatan rantai pasok (supply chain).

Pengadaan komponen impor berisiko terhadap gangguan pasokan karena faktor gangguan suplai dari pemasok dan fluktuasi valuta asing. Oleh karena itu, diperlukan industri bahan baku dalam negeri untuk dapat menyuplai komponen utama DDR.

"Bahan baku untuk material langsung sebagian besar masih impor, di sini TKDN-nya hanya masih 9 persen. Ini butuh perhatian bagaimana caranya untuk memperbesar kandungan dalam negeri untuk material langsung," ujar Ermawan.

Di sisi pasar, DDR berpeluang menggantikan sebagian dari 6.000 alat rontgen (X-ray) konvensional di rumah sakit dan 9.500 puskesmas di Indonesia.

Selain itu, dapat pula memasok kebutuhan DDR di puskesmas terutama di daerah pelosok. Produk tersebut mudah digunakan bagi puskesmas di daerah pelosok karena tidak membutuhkan daya listrik yang besar serta mudah dikemas dan dirakit.

Baca juga: Dosen UGM kembangkan alat deteksi COVID-19 dengan radiografi digital
Baca juga: Vidar Perkenalkan Sistem Radiografi Digital Lengkap dan Terpercaya Pada ECR Tahun 2006


 

Pewarta : Martha Herlinawati Simanjuntak
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar