Akademisi: Metode pembelajaran Al Quran untuk usia dewasa masih minim

id metode pembelajaran Al Quran, usia dewasa,program doktoral UMM, Ilmu Agama Islam

Akademisi: Metode pembelajaran Al Quran untuk usia dewasa masih minim

Dr Heri Rifhan Halili saat ujian terbuka promosi doktornya di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Selasa (27/7) (ANTARA/HO/Herio Rifhan/End)

Malang, Jawa Timur (ANTARA) - Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Muhammadiyah (STAIM) Probolinggo Dr Heri Rifhan Halili mengemukakan metode pembelajaran Al Quran untuk orang dewasa masih sangat minim jika dibandingkan dengan metode belajar untuk anak-anak.

“Kenyataan inilah yang membuat saya tergerak untuk melakukan riset pengembangan model pembelajaran Al Quran yang dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan orang dewasa dalam belajar membaca kitab suci umat Islam ini, yakni meliputi buku ajar dan metode yang pas,” ujar Rifhan dalam rilis yang diterima di Malang, Jawa Timur, Kamis.

Mahasiswa Program Doktoral Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang menyelesaikan ujian terbuka promosi Doktornya pada Selasa (27/7) itu mengaku penelitian yang dilakukannya berangkat dari fenomena masih tingginya angka buta huruf Al Quran di Indonesia.

Baca juga: Rumah gadang berusia 100 tahun jadi tempat belajar hafiz di Agam

Dalam disertasinya yang berjudul "Pengembangan Model Pembelajaran Membaca Al Quran Usia Dewasa dengan Peta Konsep dan Kosakata Indonesia di Tiga Majelis Ta’lim Jawa Timur" itu, Rifhan mengambil sampel penelitian tiga majelis ta'lim.

Pria kelahiran Pulau Kangean 16 Maret 1988 ini membeberkan bahwa penelitian IIQ Jakarta tahun 2018 menyebut angka buta huruf Al Quran di Indonesia masih sangat tinggi, yaitu 65 persen dari total penduduk Muslim, sementara data dari BPS tahun 2013 menyebutkan persentase umat Islam yang belum bisa membaca Al Quran mencapai 54 persen.

Menurut Doktor 33 tahun itu, di antara faktor penyebab fenomena tersebut adalah masih banyaknya Muslim usia dewasa di Indonesia yang belum bisa membaca Al Quran, sementara lembaga dan metode pembelajaran Al Quran untuk dewasa masih minim jika dibandingkan dengan metode belajar Al Quran bagi anak-anak.

Dalam disertasinya Rifhan menjelaskan bahwa orang dewasa memiliki kebutuhan dan gaya belajar yang berbeda dengan anak-anak, di antaranya orang dewasa tidak bisa dipaksa belajar, tapi dengan kesadaran sendiri, tingkat stres mereka yang tinggi karena kesibukan pekerjaan.

Selain itu, psikologi yang mudah tersinggung jika merasa tidak dihargai, kekeluan lidah saat melafadzkan huruf Arab, hingga daya tangkap yang menurun bagi yang sudah memasuki masa lanjut usia.

Baca juga: Fasilkom UI kembangkan aplikasi belajar Al-Quran interaktif

Karena itu, kata Rifhan, para pengajar Al Quran usia dewasa harus memahami betul bagaimana kebutuhan dan psikologi belajar orang dewasa, sebab keterlibatan ego orang dewasa dalam belajar akan sangat menentukan keberhasilan pembelajaran bagi mereka.

Ia mengungkapkan setidaknya ada tiga hal baru yang menjadi keunggulan dari buku ajar dan metode pembelajaran Al Quran usia dewasa karya pria yang juga aktif membina pengajian dan pembelajaran Al Quran di berbagai instansi ini.

Ketiga hal tersebut, adalah pada buku ajarnya menggunakan media peta konsep dan kosa kata Indonesia yang mengacu pada sebagian kaidah Arab Pegon, serta metode pembelajarannya yang mengacu pada prinsip Andragogi atau cara mengajar orang dewasa.

Media peta konsep yang digunakan berupa gambar-gambar yang memuat rumusan singkat kaidah bacaan Al Quran, sehingga orang dewasa bisa dengan mudah memahami dan mengingatnya.

Baca juga: Pemegang "sanad" Al Quran ke-30 dihadirkan Komunitas Tahsin Al Ghozy

Dengan peta konsep, orang dewasa juga bisa belajar sendiri di tengah kesibukan mereka, selain tetap melalui bimbingan guru mengaji di saat waktu luang mereka.

Sedangkan media kosa kata Indonesia dalam buku ajar yang disusun Rifhan mengacu pada Arab Pegon meski tidak semua kaidahnya digunakan, artinya dalam latihan-latihan bacaan di buku ajarnya dimasukkan kosa kata Indonesia yang ditulis dengan huruf Arab, untuk menjembatani kekeluan lidah orang dewasa dalam membaca huruf Arab, sehingga menjadi mudah dan menarik dipelajari.

Dari sisi metode pembelajarannya, Rifhan juga menyusun tahapan pembelajaran yang disingkat "MUDAHKAN", yaitu Motivasi, Ulangi pelajaran lama dan Uraikan pelajaran baru, Dibaca-Disimak-Diulang, Apresiasi yang sudah bisa, Hormati yang belum bisa, Konsepkan, Arahkan, dan Nilai atau Evaluasi bersama.

Buku ajar dan metode pembelajaran yang telah disusun tersebut, kemudian diterapkan dalam pembelajaran untuk mengetahui tingkat efektivitasnya.

Rifhan memilih tiga majelis ta’lim dalam penerapan pembelajarannya, yaitu kalangan militer di TNI AL Pusdikpel Kodikopsla Kodiklatal Surabaya, kalangan dokter dan tenaga kesehatan di RS Randegansari Husada Driyorejo Gresik, dan masayarakat umum di Majeli Ta’lim Ahludz Dzikri Sidoarjo.

Baca juga: Cyber School Indonesia luncurkan aplikasi pembelajaran Al-Quran

“Saya memilih tiga tempat berbeda untuk melakukan uji coba buku dan metode pembelajaran Al Quran ini agar bisa mengakomodasi berbagai profesi dan latar belakang usia dewasa dalam belajar Al Quran. Alhamdulillah model pembelajaran baru ini lebih efektif sekitar 30 persen bila dibandingkan dengan model pembelajaran lama yang digunakan sebelumnya," tuturnya.

Atas penelitian dan karyanya ini, Rifhan akhirnya resmi menyandang gelar Doktor Pendidikan Agama Islam dengan predikat cumlaude di usia yang masih terbilang muda, yakni 33 tahun.

“Alhamdulillah meski di tengah pandemi saya bisa menyelesaikan pendidikan tepat waktu, saya berharap penelitian ini bisa memberi manfaat untuk mengurangi angka buta huruf Al Quran yang masih cukup tinggi di Indonesia,” pungkasnya.

Baca juga: LBIQ-JIC adakan pelatihan Bahasa Arab dan Al Quran

Pewarta : Endang Sukarelawati
Editor: Agus Salim
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar