Bukan cuma belanja, mal harus punya konsep segar agar tetap diminati

id Pusat perbelanjaan, mal,pusat belanja,APPBI

Bukan cuma belanja, mal harus punya konsep segar agar tetap diminati

Sejumlah toko tidak beroperasi di sebuah pusat perbelanjaan di kawasan Kuta, Badung, Bali, Rabu (25/8/2021). (ANTARA FOTO/FIKRI YUSUF)

Jakarta (ANTARA) - Pusat perbelanjaan harus menawarkan fungsi lain di luar tempat berbelanja agar tetap diminati masyarakat yang terbiasa belanja daring selama pandemi COVID-19.

Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja mencontohkan pusat belanja ASHTA di Jakarta yang viral karena punya sudut-sudut menarik yang jadi tempat favorit untuk berfoto dan akhirnya dibagikan di media sosial.

Baca juga: 5 mal di Bandung terancam dijual, akibat minimnya pengunjung

"ASHTA menurut saya pribadi, fungsi belanjanya nomor dua, fungsi peringkat satu adalah yang membuat ASHTA jadi begitu happening pada awal pertama hadir, saya yakin customer saat datang ke sana bukan buat belanja," kata Alphonzus di webinar "Marketeers Goes to Mall Episode Episode 5, Navigating Lifestyle F&B Business Beyond Pandemic", Kamis.

Langkah mencari fungsi baru yang bakal menarik konsumen ini menjadi tantangan bagi pengelola pusat perbelanjaan lainnya. Kreativitas untuk membuat terobosan baru diuji, terlebih konsep yang baru butuh waktu untuk bisa diterima oleh konsumen. Namun ia yakin bila pengelola pusat belanja bisa konsisten, kerja keras itu akan terbayar.

Alphonzus menyebut pusat belanja di BSD yang punya konsep luar ruangan lengkap dengan danau sebagai salah satu pionir yang berani menawarkan konsep baru. Ketika mulai berdiri, pusat belanja itu tidak serta merta menuai kesuksesan.

"Dulu orang takut dengan konsep outdoor. (Kini sukses) walau tiga tahun pertama 'berdarah-darah' karena butuh waktu lama untuk memperkenalkan konsep baru, yang penting terus usaha dan konsisten," jelas dia.

Dia mengajak para pengelola pusat perbelanjaan untuk mengerahkan kreativitas dan berinovasi bila ingin menjadi pionir, bukan pengikut.

David Hilman, Chief Operating Officer Agung Sedayu Realestat Indonesia, mengulas pentingnya menerapkan diferensiasi dan memahami perilaku konsumen sebagai strategi bertahan di masa krisis.

Dia menjelaskan tantangan yang dihadapi oleh mal ASHTA, mal kecil yang dikelilingi dengan pusat belanja ikonik Jakarta lainnya yang sudah lama dikenal oleh masyarakat. Dengan demikian, mal ini harus menawarkan sesuatu yang baru, unik dan kreatif.

"Kita memilih arahnya ke lifestyle yang difokuskan pada what matters ke orang-orang yang tinggal di daerah situ, lebih ke orang-orang yang environmentally responsible," jelas David.

Maka, mal tersebut menawarkan pemandangan hijau-hijau menyegarkan mata yang membuat pengunjung serasa di luar ruangan, tapi dalam lindungan pendingin udara. Restoran dan toko yang ada di dalamnya juga dipilih secara seksama, melewati kurasi ketat agar jadi daya tarik konsumen. Kafe atau restoran yang baru hadir di Indonesia mereka gandeng agar membuka gerai pertama di sana. Untuk fesyen, toko fesyen independen yang kualitasnya mumpuni dipilih agar pengunjung bisa membeli produk lokal dengan kualitas global.

Baca juga: APPBI optimis kondisi usaha pada 2022 akan lebih baik

Baca juga: Hindari PHK, APBI minta pemerintah segera realisasikan stimulus

Pewarta : Nanien Yuniar
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar