BRIN fasilitasi pemanfaatan teknologi peternakan bagi masyarakat

id Badan Riset dan Inovasi Nasional,BRIN,teknologi peternakan

BRIN fasilitasi pemanfaatan teknologi peternakan bagi masyarakat

Bimbingan Teknis (Bimtek) Teknologi Peternakan Terpadu di Desa Mrebet di Kabupaten Purbalingga di Jawa Tengah. ANTARA/HO-BRIN/am.

Jakarta (ANTARA) - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memfasilitasi pemanfaatan teknologi salah satunya pada sektor peternakan untuk masyarakat sehingga dapat mendatangkan manfaat sebesar-besarnya bagi warga.

"BRIN akan mengenalkan teknologi-teknologi aplikatif sesuai dengan potensi dan kebutuhan masyarakat di daerah, mulai dari pengembangan pakan ternak bersumber bahan-bahan lokal hingga cara memanfaatkan hasil-hasil peternakan agar bernilai ekonomi,” kata Kepala Balai Penelitian Teknologi Bahan Alam (BPTBA) BRIN Satriyo Krido Wahono dalam keterangan tertulis yang diterima ANTARA di Jakarta, Senin.

Ia menjelaskan sektor peternakan merupakan salah satu bidang yang mendukung perekonomian Indonesia, khususnya bagi masyarakat agraris di perdesaan, sehingga penggunaan teknologi diharapkan makin meningkatkan produktivitas peternakan dan kinerja masyarakat tersebut.

Sementara itu, peneliti Teknologi Hasil Ternak Balai Penelitian Teknologi Bahan Alam (BPTBA) BRIN Andi Febrisiantosa mengenalkan konsep peternakan terpadu kepada masyarakat sebagai upaya mengelola input usaha ternak berbasis inovasi teknologi yang menguntungkan secara ekonomi, dapat diterima secara sosial budaya, dan ramah lingkungan.

"Konsep terapan sistem pertanian dan peternakan terpadu ini dapat menghasilkan pangan, pakan, pupuk organik, bahan bakar energi dan limbah yang dapat diolah," katanya.

Sejauh ini BPTBA BRIN telah mengembangkan teknologi olahan hasil ternak untuk kebutuhan pangan, teknologi biogas yang menghasilkan pupuk organik, serta teknologi pakan unggas dan ruminansia.

Ia juga mengenalkan cara-cara pengawetan hijauan (pakan ternak) dengan sistem silase yaitu melalui fermentasi terkontrol bagi tanaman yang mengandung kadar air tinggi, teknologi pengolahan telur, dan pengemasan daging untuk menunjang usaha terpadu sistem produksi pangan dalam suatu kawasan.

"Teknologi ini cukup mudah untuk dipraktikkan karena menggunakan bahan-bahan lokal yang mudah didapat oleh petani atau peternak,” kata doktor  lulusan Seoul National University itu.

BRIN bersama dengan anggota Komisi VII DPR mengadakan Bimbingan Teknis (Bimtek) Teknologi Peternakan Terpadu di Desa Mrebet di Kabupaten Purbalingga di Jawa Tengah. Kegiatan tersebut diikuti oleh perwakilan kepala desa se-Purbalingga yang tergabung dalam Paguyuban Wira Praja pada Sabtu (16/10).

Anggota Komisi VII Rofik Hananto mengatakan desa memiliki potensi besar di sektor pertanian dan peternakan termasuk di desa-desa di Purbalingga.

"Ke depan, desa akan menjadi pusat ekonomi bangsa sebab setiap desa memiliki potensinya masing-masing, apabila dikembangkan maka desa tersebut dapat menjadi destinasi yang mampu meningkatkan perekonomian bagi desa," katanya.

Ia mendukung kegiatan bakti inovasi yang dilakukan BRIN di mana BRIN dapat mengenalkan dan menerapkan hasil-hasil risetnya kepada masyarakat.

Menurut dia, melalui kegiatan tersebut, masyarakat juga dapat menyampaikan kendala yang dihadapi dalam mengelola hasil pertanian maupun peternakan, dan BRIN dapat memberikan solusi melalui hasil riset yang dimanfaatkan oleh masyarakat.

Salah satu peternak yang menjadi peserta bimtek antusias merespons kegiatan itu.

"Kami siap dibina oleh BRIN untuk mendapatkan hasil pertanian dan peternakan dengan kualitas yang lebih baik, mulai dari proses tanam hingga pascapanen,” kata Didik yang merupakan salah satu warga Desa Pakuncen di Kecamatan Bobotsari, Purbalingga, Jawa Tengah.

Baca juga: Diseminasi teknologi peternakan BPPT diharapkan tepat sasaran

Baca juga: Perbaikan teknologi inseminasi buatan percepat swasembada daging

Baca juga: Pemprov ajak USU riset peningkatan hasil peternakan

Baca juga: Kalbar Kembangkan Bibit Sapi Unggul

 

Pewarta : Martha Herlinawati Simanjuntak
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar