Wamenag dorong santri abad 21 agar melek literasi digital

id Hari santri,Wamenag,Zainut tauhid Sa'adi

Wamenag dorong santri abad 21 agar melek literasi digital

Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Sa'adi. (ANTARA/HO-Kemenag)

Jakarta (ANTARA) - Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Sa'adi mendorong santri abad 21 melek literasi digital agar bisa berdaya, tak hanya dari sisi keilmuan agama, tetapi juga mengisi ruang-ruang perubahan teknologi informasi.

"Santri abad ke-21 harus memiliki keterampilan literasi digital di samping literasi baca tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi finansial, serta literasi budaya dan kewargaan," ujar dia dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Jumat.

Indonesia menetapkan Hari Santri setiap 22 Oktober. Tanggal ini merujuk pada terbitnya Resolusi Jihad, 22 Oktober 1945, yang berawal dari semangat juang para santri dan masyarakat untuk mempertahankan NKRI dari ancaman pendudukan kembali tentara sekutu Belanda dan Inggris (NICA).

Baca juga: Menteri Agama apresiasi upaya pesantren tanggulangi pandemi COVID-19

Zainut menilai jihad para santri saat ini semakin berat. Selain kemampuan ilmu keislaman, santri juga diharapkan memiliki keluasan cakrawala dalam beragam perspektif keilmuan.

"Kalau dulu berhadapan dengan penjajahan Belanda, tantangan santri saat ini jauh lebih kompleks. Mereka akan bergelut dengan isu-isu sosial kemasyarakatan, lingkungan, politik, ekonomi, dan kebangsaan yang lebih rumit dibanding dengan masa lalu, termasuk tantangan revolusi industri 4.0," kata dia.

Menurut dia, dunia saat ini tengah memasuki periode perubahan transformatif dan pergeseran dalam berbagai aspek kehidupan. Sejumlah bentuk teknologi digital telah berkembang seperti kecerdasan buatan, data besar (big data), buku besar digital (blockchain), komputasi awan (cloud computing), hingga internet untuk segala (Internet of Things atau IoT).

"Revolusi digital diperkirakan akan menghilangkan 800 juta lapangan kerja di seluruh dunia, yang diestimasi terjadi sampai tahun 2030 karena digantikan oleh mesin. Hal ini bisa menjadi ancaman dunia, termasuk bagi Indonesia, sebagai negara yang memiliki angkatan kerja dan angka pengangguran yang cukup tinggi," kata dia.

Maka dari itu, santri milenial dituntut untuk berpikir kritis, kreatif, komunikatif, dan mampu berkolaborasi.

Proses pembelajaran di pesantren, selain tetap berorientasi pada nilai keagamaan, juga harus menyesuaikan agar selalu relevan dengan perkembangan dan tuntutan zaman.

"Para ustadz di pesantren semakin penting untuk menanamkan dan mengembangkan nilai-nilai pendidikan karakter kepada santri, yaitu karakter religius dan jiwa berlomba-lomba untuk kebaikan," kata dia.

Baca juga: Ma'ruf Amin: Santri berperan dalam penanggulangan COVID-19
Baca juga: Puan: Santri harus jadi pelopor penanggulangan COVID-19
Baca juga: Gubernur dan ASN Jawa Tengah "ngantor" pakai sarung pada Hari Santri

Pewarta : Asep Firmansyah
Editor: M. Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar