BNPB: Keluarga Tangguh Bencana jadi tolok ukur keberhasilan Destana

id Bnpb, keluarga tangguh bencana, penyuluh katana

BNPB: Keluarga Tangguh Bencana jadi tolok ukur keberhasilan Destana

Tangkapan layar Direktur Kesiapsiagaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Pangarso Suryotomo saat memberikan pembekalan penyuluh Keluarga Tangguh Bencana secara daring di Jakarta, Selasa (26/10/2021). (ANTARA/Devi Nindy)

Jakarta (ANTARA) - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan Keluarga Tangguh Bencana (Katana) menjadi salah satu tolok ukur keberhasilan program Desa Tangguh Bencana (Destana).

Direktur Kesiapsiagaan BNPB Pangarso Suryotomo mengatakan perlunya program Keluarga Tangguh Bencana guna mempersiapkan anggota keluarga lebih memahami potensi bencana yang akan mereka hadapi.

"Ini bukan program terpisah dari Destana, tetapi menjadi tolok ukur di segala penjuru Desa Tangguh Bencana. Di permukiman pasti ada keluarga, dan bagaimana keluarga itu harus kita upayakan lebih tangguh," kata Pangarso saat memberikan pembekalan penyuluh Keluarga Tangguh Bencana secara daring di Jakarta, Selasa.

Menurut Pangarso, kapasitas penanganan awal 95 persen ada pada masyarakat. Namun saat terjadinya bencana, masyarakat menjadi korban dan pihak paling menderita.

Dalam Destana, terdapat tujuh obyek yang harus diperkuat ketangguhannya, salah satunya adalah permukiman yang melibatkan satu keluarga.

Baca juga: Membangun desa tangguh bencana untuk ketahanan nasional

Baca juga: BNPB: Perlu kolaborasi pentahelix perbanyak Desa Tangguh Bencana


Pangarso mengatakan perlunya Katana untuk mengurangi korban akibat suatu bencana dari keluarga. Menilik dari tahun 2018, Indonesia merupakan negara dengan jumlah korban terbanyak dari bencana yaitu 6.240 orang meninggal atau hilang, sehingga hal tersebut menjadi dasar.

Kemudian ditinjau dari hasil survei Great Hansin Earthquake 1995 di Jepang, Pangarso menjabarkan presentase terbesar korban yang selamat dari bencana gempa diselamatkan diri sendiri (35 persen), anggota keluarga (31,9 persen), dan teman atau tetangga (28,1 persen).

"Inilah yang melatarbelakangi perlunya program Katana. Itu yang perlu dikuatkan," ujar dia.

Selain itu, Pangarso mengharapkan para penyuluh Katana dapat memberikan pengetahuan kepada keluarga tentang ancaman risiko bencana kepada keluarga, hingga dapat menciptakan perilaku selaras dengan prinsip pengurangan risiko bencana.

Pada April 2022, BNPB merencanakan program Katana dapat diisi dengan latihan evakuasi mandiri dalam peringatan Hari Kesiapsiagaan.

Para penyuluh Katana, ujarnya selain diharapkan dapat melibatkan berbagai pihak untuk penyebarluasan informasi bencana pada tiap anggota keluarga, meningkatkan ketangguhannya untuk bersiap hadapi bencana, serta menjadi suatu gerakan yang berkelanjutan dalam mengurangi kejadian bencana mengantisipasi kejadian bencana, dan pulih secara optimal dari kejadian bencana.

Baca juga: BNPB: Pariaman harus wujudkan keluarga tangguh bencana

Baca juga: BNPB luncurkan program keluarga tangguh bencana di Aceh

Pewarta : Devi Nindy Sari Ramadhan
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar