Agar para peternak nantinya lebih mandiri, BRGM tak hanya memproduksi pakan ternak sapuring dan membentuk kelompok ternak, melainkan juga memberikan pelatihan manajemen bisnis dan pemasaran
Jakarta (ANTARA) - Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) mengembangkan industri produk pakan ternak ayam dengan bahan dasar sagu parut kering (Sapuring) di Kepulauan Meranti, Riau sebagai salah satu program revitalisasi ekonomi yang diusung lembaga tersebut.

Dalam pengembangan industri pakan ternak tersebut, menurut Kepala Kelompok Kerja Kerjasama, Hukum dan Hubungan Masyarakat BRGM Didy Wurjanto, pihaknya. menggandeng Badan Usaha Milik Desa Bersama (BUMDESMA) Rumbio Nusa Mandiri dan empat Kelompok Usaha Ternak (KUT) masing-masing di Desa Bagan Melibur, Desa Mayangsari, Desa Mekarsari dan Desa Sungai Anak Kamal, Kecamatan Merbau, Kepulauan Meranti, Riau.

"Agar para peternak nantinya lebih mandiri, BRGM tak hanya memproduksi pakan ternak sapuring dan membentuk kelompok ternak, melainkan juga memberikan pelatihan manajemen bisnis dan pemasaran," ujarnya melalui keterangan tertulis di Jakarta, Senin.

Pelatihan menajemen bisnis, lanjutnya, meliputi manajemen bisnis pakan ternak sapuring, manajemen pemeliharaan ternak ayam dengan pakan sapuring, manajemen kesehatan ternak ayam, pelatihan manajemen pemasaran pakan ternak sapuring hingga pelatihan manajemen pemasaran ternak ayam KUB.

"Pelatihan pemasaran kami berikan untuk memastikan kegiatan yang BRGM berikan dapat meningkatkan perekonomian masyarakat, mereka tidak hanya bisa memproduksi tapi juga menemukan pasar dan mengelola keuangannya," ujarnya.

Didy menyatakan, bantuan ekonomi dan pelatihan kepada masyarakat ini sifatnya adalah investasi jangka panjang, bukan proyek.

Sementara itu Kepala Seksi Bidang Industri dari Dinas Perdagangan, Perindustrian, Koperasi dan UKM, Kepulauan Meranti Miftah menilai, sapuring mempunyai potensi besar untuk terus dikembangkan.

“Kalau UMKM dan industri kecil di situ pengolahan sapuringnya terus tumbuh, maka tidak menutup kemungkinan daerah tersebut bisa jadi sentra pakan ternak,” ujar Miftah.

Namun, menurut dia, untuk menjadi sentra pakan ternak ada kategorinya, minimal untuk di luar pulau Jawa ada 14 Industri Kecil Menengah (IKM) sehingga pihaknya berharap beberapa kelompok terus muncul dan berkesinambungan,

"Sehingga ini bisa diangkat menjadi sentra industri, ada tempatnya, gudangnya, ada ruang produksinya, lalu packing dan pelatihannya,” katanya.

Baca juga: Perusahaan pakan ternak Belanda De Heus ekspansi bisnis 50 juta dolar
Baca juga: Bulog masuki industri pengolahan pakan ternak
Baca juga: Sumut ekspor pakan hewan ke Malaysia

 

Pewarta: Subagyo
Editor: Biqwanto Situmorang
Copyright © ANTARA 2021