Olimpian ikut soroti soal bonus bagi tim Piala Thomas

id Piala thomas, bonus piala thomas, jonatan christie, menpora

Olimpian ikut soroti soal bonus bagi tim Piala Thomas

Presiden Joko Widodo (delapan kanan), Ketua Umum PP PBSI Agung Firman Sampurna (kedelapan kiri) dan Tim Piala Thomas berfoto bersama di Nusa Dua, Bali, Kamis (2/12/2021). ANTARA FOTO/HO/HUMAS PP PBSI/wpa/foc (ANTARA FOTO/HUMAS PBSI)

Jakarta (ANTARA) - Olimpian dari cabang olahraga angkat besi Hadi Wihardja ikut menyoroti soal permintaan bonus bagi tim Piala Thomas yang saat ini banyak diperbincangkan, dan menurutnya atlet diharapkan tidak selalu menuntut pemberian bonus.

"Sebaiknya, seorang atlet itu memang tidak harus menuntut bonus, meski dirinya mampu berprestasi di level internasional. Kalau melihat 19 tahunnya, memang agak wajar, namun pemerintah pasti telah memperhitungkan itu," kata mantan atlet angkat besi yang tampil di Olimpiade Musim Panas 1984 dalam keterangan resminya, Minggu.

"Lebih baik fokus saja ukir prestasi terus, pasti yang lainnya akan mengikuti, baik itu penghargaan berupa bonus uang, rumah atau lainnya seperti PNS, jangan di balik, bonus saya mana," tambahnya.

Soal bonus untuk tim Piala Thomas mencuat setelah salah satu punggawa Indonesia Jonatan Christie memberi isyarat menanti bonus dari pemerintah, bertepatan dengan hadirnya Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo di Indonesia Badminton Festival di Nusa Dua, Bali.

Baca juga: Menpora tak ingin sembarangan kucurkan uang negara untuk bonus 

Pria yang menjabat sebagai Kepala Bidang Pembinaan Prestasi (Kabid Binpres) Pengurus Besar Persatuan Angkat Besi Seluruh Indonesia (PB PABSI) itu menambahkan jika pemerintah pasti akan hadir untuk memberikan apresiasi kepada atlet yang berprestasi, namun alangkah baiknya tidak menuntut akan hal itu, karena dinilai kurang tepat.

"Prinsipnya adalah atlet fokus berlatih dengan target juara. Jika dia punya prestasi tinggi, fasilitas berupa bonus dan lainnya pasti akan mengikuti, jangan dibalik. Ya, dewasa ini muncul seorang atlet yang dalam konteks membela negara, berbicara mengenai bonus, apalagi dengan istilah menagih atas pencapaiannya tersebut. Hadiah berupa bonus itu merupakan kebaikan pemerintah, namun semestinya tidak menjadi kewajiban," tegas Hadi.

Berdasarkan Peraturan Menteri Nomor 1684 tahun 2015 tentang Persyaratan Pemberian Penghargaan Olahraga kepada Olahragawan, Pembina Olahraga, Tenaga Keolahragaan, dan Organisasi Olahraga diatur bahwa pemerintah akan memberikan bonus berupa uang atau barang bagi olahragawan yang memenuhi persyaratan.

Persyaratan yang dimaksud adalah meraih medali pada ajang SEA Games, ASEAN Para Games, Asian Games, Asian Para Games dan Olimpiade serta Paralimpiade. 

Baca juga: Bonus Piala Thomas temui titik terang termasuk dari pengusaha beras 

Selain itu, ada juga kategori untuk juara kejuaraan dunia maupun kejuaraan Asia resmi single event untuk cabang olahraga Olimpiade, serta menjadi juara pada ajang Islamic Solidarity Games atau Asian Beach Games. Namun aturan tersebut memang belum mengatur secara spesifik kejuaraan single event apa saja yang masuk dalam kategori pemberian bonus pemerintah.

Perihal pemberian bonus ini, sejatinya Kemenpora sudah memiliki niatan untuk memberikan apresiasi atas prestasi tim Thomas Cup di Denmark beberapa waktu lalu itu. Namun karena waktu yang belum tepat, pemberian apresiasi itu belum bisa dilakukan.

Pasalnya, usai perhelatan Thomas Cup tersebut, tim Indonesia tidak langsung pulang dan meneruskan tur Eropa ke French Open, German Open dan langsung ke Bali mengikuti International Badminton Festival, yakni Indonesia Masters, Indonesia Open dan World Tour Finals 2021. 

Baca juga: Menpora sebut tak ada kaitan bonus Piala Thomas dengan desakan publik 
Baca juga: Pemerintah siapkan bonus untuk tim Piala Thomas 



Pewarta : Bayu Kuncahyo
Editor: Rr. Cornea Khairany
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar