Panel suryanya memang membutuhkam sinar matahari yang tidak terhalang oleh awan agar lebih efektif. Sehingga, dalam waktu lima jam saja itu sudah bisa menghasilkan energi yang diinginkan."
Jakarta (ANTARA News) - Konsorsium Kemandirian Industri Fotovoltaik Nasional (KKFIN) menargetkan implementasi pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebesar 6.500 megawatt hingga 2020, demikian disampaikan Ketua Umum KKFIN Ngakan Timur Antara.




"Target jangka pendeknya 6.500 megawatt, saat ini yang terpasang itu baru 100 megawatt. Memang masih jauh," kata Ngakan, yang juga Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri Kementerian Perindustrian di Jakarta, Selasa.




Untuk itu, lanjut Ngakan, KKFIN berupaya untuk memfasilitasi calon investor yang berminat untuk investasi di sektor industri fotovoltaik agar mendapatkan izin yang mudah dan tepat dalam menggunakan modalnya.




"Investor ingin ada kepastian, sehingga dia bisa menghitung kalkulasi modalnya. Dengan dia mengeluarkan investasi sebesar itu, maka berapa lama akan kembali," papar Ngakan.




Ngakan menambahkan, estimasi besaran investasi untuk membangun PLTS mencapai 1 juta dollar AS per 1 megawatt dalam waktu pembangunan sekira enam bulan.




Selain itu, pembangunan PLTS membutuhkan lahan mencapai 1,5 hektar untuk menempatkan solar panel pendukung dalam menyerap sinar matahari.




Di Indonesia, lanjut Ngakan, hampir seluruh daerah dapat menjadi lokasi pembangunan PLTS, namun beberapa daerah dinilai lebih efektif menghasilkan energi solar, di antaranya Nusa Tenggara Timur, Bali, Ambon, Sulawesi dan Sumatera.




"Panel suryanya memang membutuhkam sinar matahari yang tidak terhalang oleh awan agar lebih efektif. Sehingga, dalam waktu lima jam saja itu sudah bisa menghasilkan energi yang diinginkan," tukas Ngakan.




Dengan berbagai upaya tersebut, Ngakan berharap agar target implementasi tersebut dapat tercapai, sejalan dengan berkembangnya industri komponen yang mendukung pembangunan PLTS itu sendiri.

Pewarta: Sella Panduarsa Gareta
Editor: Kunto Wibisono
Copyright © ANTARA 2017