Nelayan Sangihe diminta waspada gelombang tinggi

id gelombang tinggi,nelayan

Ilustrasi - Nelayan berusaha menerobos ombak usai memasang jaring di pesisir Perairan Kolaka, Kolaka, Sulawesi Tenggara, Selasa (30/1/2018). (ANTARA FOTO/Jojon)

Sangihe (ANTARA News) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kepulauan Sangihe, Provinsi Sulawesi Utara meminta nelayan setempat tetap waspada terhadap gelombang tinggi saat melaut.

"Kami minta semua masyarakat yang berprofesi sebagai nelayan untuk tetap waspada saat beraktivitas di laut," kata Kepala BPBD Kabupaten Kepulauan Sangihe Rivo Pudihang di Tahuna, Jumat.

Ia menjelaskan kewaspadaan nelayan saat melaut sebagai hal penting sebab gelombang di perairan daerah tersebut hingga saat ini masih tinggi tinggi.

"Gelombang di perairan Sangihe saat ini masih tinggi sehingga nelayan kalau melaut harus waspada," kata dia.

Kondisi laut dengan gelombang tinggi masih terjadi di wilayah perairan Kepulauan Sangihe sejak Kamis (12/7). Hal itu juga mengakibatkan kawasan parkir di Pelabuhan Tahuna terendam.

"Tadi subuh, sebagian kawasan parkir di Pelabuhan Tahuna terendam air laut akibat gelombang," kata dia.

Selain itu, katanya, jalan pantai di Kota Tahuna juga sempat terendam air laut.

Ia mengatakan sebagian besar masyarakat di daerah kepulauan setempat bekerja sebagai nelayan.

Sekalipun nelayan Sangihe sudah terbiasa dengan kondisi laut dengan gelombang tinggi, pemerintah kabupaten setempat tetap meminta agar mereka tidak memaksakan diri untuk melaut apabila situasi belum memungkinkan.

"Pemerintah tetap mengingatkan agar nelayan tidak memaksakan diri untuk ke laut apabila gelombang laut masih tinggi," kata dia.

Selain nelayan, kata dia, masyarakat yang bermukim di pinggir pantai juga perlu waspada terhadap gelombang pasang yang setiap saat mengancam pemukiman penduduk.

"Kami minta masyarakat yang bermukim di wilayah pesisir pantai untuk tetap waspada terhadap gelombang pasang," kata dia.

Peta Sangihe (tanda merah)


 

Pewarta : Jerusalem Mendalora
Editor: Unggul Tri Ratomo
COPYRIGHT © ANTARA

Komentar