BPN Prabowo-Sandi sayangkan KPU coret aktivis antikorupsi

id BPN Prabowo-Sandi,debat capres,pilpres 2019

Ketua Umum Bidang Hukum DPP Partai Gerindra Habiburokhman (kedua kiri), Wakil Ketua Umum DPP Partai Demokrat Roy Suryo (kiri), Koordinator Bidang Hukum DPP PKB Razman Arif Nasution (kanan) dan moderator Margi Syarif menyampaikan pendapatnya pada diskusi Melodrama Capres-Cawapres di Jakarta, Sabtu (11/8/2018). Diskusi tersebut membahas lika-liku dan manuver koalisi partai pendukung petahana dan oposisi pada penentuan capres dan cawapres beberapa waktu lalu. ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/aww/18.

Jakarta (ANTARA News) - Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandi menyayangkan sikap Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang telah mencoret dua aktivis antikorupsi sebagai panelis debat capres pertama yang digelar 17 Januari 2019.
 
Mantan Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto dan Koordinator Indonesia Corruption Watch (ICW) Adnan Topan Husodo dicoret sebagai panelis dalam debat capres-cawapres dengan tema Hukum, HAM, Korupsi dan Terorisme tersebut.
 
Anggota Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Habiburokhman dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Sabtu, mengatakan, pencoretan kedua nama tokoh antikorupsi sebagai panelis debat tersebut bermula dari masukan kubu Jokowi-Ma'ruf.
 
"Jadi ceritanya begini, kan saya ikut mendampingi tim inti yang dikoordinasi oleh Mas Priyo (Priyo Budi Santoso/Wakil Ketua BPN), mereka tidak mau dengan usulan kami Pak BW (Bambang Widjojanto) menjadi panelis. Mereka minta BW di-drop. Kubu kami juga minta mereka mencoret satu panelis rekomendasi dari mereka, siapa saja. Tapi kami terkejut kenapa malah nama Adnan Topan ICW yang mereka coret," tutur Habiburokhman.
 
Padahal Topan merupakan rekomendasi kubu Jokowi-Ma'ruf. "Jadi jelas, penolakan kedua tokoh antikorupsi ini sebagai panelis berasal dari kubu Jokowi-Maruf," ujarnya.

Ia juga merasa heran, mengapa kubu Jokowi-Ma'ruf seakan alergi dengan kedua tokoh yang sejauh ini memiliki rekam jejak yang sangat baik sebagai pegiat antikorupsi.
 
"Kami juga tidak paham dengan pihak sana (Jokowi-Ma'ruf), mengapa seorang yang memiliki integritas tinggi dalam pemberantasan korupsi malah ditakuti. Kalau bersih kenapa risih?," tanya Habiburokhman.
 
Kubu Prabowo-Sandi, kata dia, selama ini tidak pernah mempermasalahkan siapapun yang akan menjadi panelis debat capres. termasuk kedua nama yang dicoret KPU tersebut.
 
"Intinya dari kami, siapapun nama yang diajukan pihak sana maupun KPU kami anggap semuanya bagus. Kalau perlu, meski Adnan Topan itu rekomendasi mereka, kembalikan saja lagi jadi panelis. Kami tidak masalah. Sekali lagi, kalau bersih kenapa risih? Dulu janjinya memperkuat KPK, sekarang seperti alergi dengan yang pro pemberantasan korupsi," kata Ketua DPP Partai Gerindra ini.
 
Habiburokhman juga menyayangkan eliminasi Karni Ilyas dan Rosiana Silalahi dari kandidat moderator debat. Padahal keduanya terbukti memiliki kemampuan yang andal di bidang jurnalistik serta pengalaman panjang dalam mengatur alur diskusi dan debat.
 
KPU memilih Ira Koesno dan Imam Priyono sebagai moderator debat capres-cawapres. Namun demikian, pasangan calon nomor 02 tetap menghormati keputusan KPU sebagai penyelenggara debat. "Kami hormati keputusan KPU, tentunya dengan harapan kedepan bisa lebih baik lagi," kata Habiburokhman.
 
Menanggapi hal itu, Ketua KPU Arief Budiman mengatakan keputusan tersebut merupakan hasil kesepakatan dua kubu pasangan calon capres-cawapres dalam rapat yamg digelar Jumat (4/1) malam.
 
Menurut Arief masing-masing tim pemenangan pasangan calon yang menginginkan dua nama itu dicoret. Bambang Widjojanto merupakan usulan dari pasangan calon Prabowo-Sandi, sementara Adnan Topan Husodo merupakan usulan dari tim Jokowi-Ma'ruf.
 
"Silahkan tanya kepada mereka (kedua pasangan calon). Mereka yang memutuskan," katanya. 
Baca juga: KPU coret ICW dari daftar panelis debat capres-cawapres
Baca juga: KPU gelar pertemuan dengan panelis debat capres
Baca juga: Ketua KPK tidak ingin terkesan di tarik ke politik

Pewarta : Syaiful Hakim
Editor: Sri Muryono
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar