Menteri BUMN jadikan Burno Lumajang sebagai desa BNI

id Menteri bumn rini soemarno,menteri bumn desa

Menteri BUMN Rini Soemarno (kanan) berdialog dengan sejumlah pelajar di tempat wisata edukasi peternakan sapi perah dan kambing etawa ketika kunjungan program Perhutanan Sosial di Dusun Karang Anyar, Lumajang, Jawa Timur, Jumat (15/2/2019). Sejak program Perhutanan Sosial dan KUR BNI menyentuh desa tersebut tercatat ada pertumbuhan jumlah sapi perah dari 400 ekor menjadi 882 ekor sehinga produksi susu meningkat menjadi sedikitnya 5.000 liter per hari dan jumlah ternak kambing etawa tumbuh dari 8.000 menjadi 11.000 ekor. ANTARA FOTO/Zabur Karuru/ama.

Lumajang (ANTARA News) - Menteri BUMN Rini Soemarno menjadikan Desa Burno, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, sebagai Desa BNI, karena program kesejahteraan ekonomi masyarakat didukung penuh oleh Bank BNI melalui program kredit usaha rakyat (KUR).

"Saat ini saya jadikan Desa Burno menjadi Desa BNI. Jadi bagi warga desa yang ingin meningkatkan kesejahteraan ekonominya bisa langsung ke BNI," kata Rini, dalam acara Sarasehan Petani Perhutanan Sosial, di Lumajang, Jumat.

Rini mengaku bangga sebab dengan bantuan KUR dari pemerintah, perekonomian masyarakat Desa Burno mulai tumbuh, seperti naiknya penghasilan sejumlah peternak sapi.

Sebelumnya, pemerintah memberikan dukungan berupa SK pengakuan dan perlindungan kemitraan bagi kelompok Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Wonosari Lestari di Desa Burno dengan luas lahan 940 hektare dan anggota 367 KK.

Petani di Desa Burno memanfaatkan hutan sosial ini untuk aktivitas peternakan, pemeliharaan rumput, madu dan perkebunan kopi, dan dua BUMN yaitu Perum Perhutani dan PT Bank Negara Indonesia (BNI) Tbk bersinergi dalam program ini.

Perhutani menyediakan lahan hutan yang siap digunakan untuk mendukung program perhutanan sosial, sementara BNI memberikanpembiayaan KUR kepada petani penggarap.

Rini mengatakan, program Perhutanan Sosial di Kabupaten Lumajang merupakan wujud nyata keseriusan pemerintah dalam mendorong perbaikan kesejahteraan petani dan pemerataan ekonomi di wilayah tersebut.

Konsep Perhutanan Sosial akan memberikan aspek legal masyarakat dimana masyarakat menanam di hutan rakyat sembari melestarikan sumber daya hutan.

"Saya senang kawasan hutan sosial sudah dimanfaatkan masyarakat, yang artinya optimalisasi lahan sudah berjalan dan masyarakat atau Petani di sini sudah merasakan manfaatnya. Kawasan di sini sangat potensial dan ke depan harus ditingkatkan. Terima kasih juga kepada BUMN yang sudah bersinergi mendukung upaya pemerintah dalam mendorong kesejahteraan petani," katanya.

Sementara itu, di hutan sosial Desa Burno, Petani Rumput Gajah tercatat memanfaatkan lahan seluas 133 hektare dan menghasilkan 1.700 ikat per hari.

Petani sapi perah tercatat memiliki jumlah sapi sebanyak 804 ekor dan menhasilkan susu 5.172 liter per hari. Sementara petani madu dapat memanen setiap 3 bulan dan menghasilkan 30 liter untuk sekali panen.

Di kawasan hutan sosial tersebut juga dibangun fasilitas-fasilitas yang mendukung produktivitas dan kegaiatan pertanian melalui program bina lingkungan BNI seperti bantuan pembuatan reaktor biogas yang dimanfaatkan untuk penanganan limbah ternak, bantuan kandang sapi terpadu serta pembuatan jalan menuju kandang.

Dari sisi pembiayaan, BNI mencatat hingga saat ini perseroan telah melakukan penyaluran KUR sebesar Rp4,6 miliar bagi petani di Desa Burno.

Fasilitas KUR dicairkan dalam bentuk kartu tani yang terkoneksi dengan sistem database kelompok tani yang sudah teregistrasi dari hulu sampai hilir yaitu mulai pengadaan pupuk, penanaman sampai pemasaran hasil pertanian dan perkebunan.

Rini berharap, melalui skema pemberdayaan dan pendampingan, kehadiran perhutanan sosial di Kabupaten Lumajang pada akhirnya mampu memberikan manfaat terutama dalam memecahkan persoalan sosial ekonomi masyarakat.
 

Pewarta : A Malik Ibrahim
Editor: Royke Sinaga
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar