Jakarta (ANTARA) - Pandemi COVID-19 yang telah melanda Indonesia dalam beberapa bulan terakhir telah berdampak kepada berbagai sendi kehidupan.

Guna menekan penyebaran virus corona, banyak aktivitas yang terpaksa harus berhenti atau dihentikan, salah satu di antaranya pertunjukan konser musik yang kemeriahannya seakan terasa hilang begitu saja.

Tak sedikit musisi yang harus menunda rencana konser mereka ataupun penyelenggara yang terpaksa harus membatalkan konser demi menghindari berkumpulnya banyak orang dan menekan penyebaran COVID-19.

Kini, tak ada lagi sorakan histeris dari penonton yang mengelu-elukan idolanya saat tampil di atas panggung atau paduan suara massal para penonton yang kerap terjadi dalam setiap pertunjukan konser musik.

Pengalaman-pengalaman yang dianggap biasa itu menjadi sebuah pemandangan mahal yang dirindukan oleh hampir setiap penikmat musik di seluruh dunia saat ini.

Menyelenggarakan aktivitas seperti konser musik yang dapat mengumpulkan banyak orang menjadi sebuah hal yang terlarang di masa pandemi seperti sekarang. Dengan berhentinya pertunjukan di panggung konser tentu berdampak besar bagi seluruh pelaku yang terlibat di dalamnya.

Mulai dari promotor acara, musisi, hingga para kru panggung yang jumlahnya tak sedikit itu terpaksa harus bersabar menanti kepastian kapan pandemi ini berakhir dan Indonesia bebas dari COVID-19.

Adaptasi

Namun alih-alih pasrah terhadap kondisi pandemi, sejumlah pelaku industri musik pun tetap mencoba bertahan di tengah kondisi sulit seperti sekarang dengan menjalani adaptasi baru.

Konser musik yang biasanya diselenggarakan langsung secara fisik di hadapan penonton, kini penyelenggara dan musisi beralih ke pertunjukan virtual dengan memanfaatkan kemajuan teknologi. Sejak awal pandemi hingga sekarang ini tercatat sudah beberapa kali pertunjukan musik dengan adaptasi baru diselenggarakan.

Mulai dari yang tujuannya untuk mengobati rindu kepada para penggemar hingga konser virtual yang diadakan untuk menggalang dana bagi mereka yang terdampak COVID-19.

Perhelatan musik tahunan "Prambanan Jazz" misalnya, terpaksa diselenggarakan secara virtual pada 18 Juli 2020 lalu.

Rajawali Indonesia selaku promotor acara tersebut mengatakan penyelenggaraan "Prambanan Jazz Online" sebagai bentuk untuk menggairahkan kembali industri musik Indonesia yang terdampak akibat pandemi virus corona.

"Kita lihat selama ini dari sisi bisnis industri yang masih tertutup dari musik terutama di konser. Kami berharap teman-teman industri kreatif bisa berkreativitas dan direspons," kata Anas Syahrul Alimi selaku CEO Rajawali Indonesia.

Anas mengatakan bahwa penyelenggaraan "Prambanan Jazz Online" sudah berkoordinasi dengan berbagai pihak, termasuk dengan Gugus Tugas COVID-19 wilayah Yogyakarta.

Selain itu, penyelenggaraan "Prambanan Jazz Online" diadakan dengan memperhatikan protokol kesehatan secara ketat bagi seluruh penampil dan tim produksi di lokasi konser.

Adaptasi baru dalam menggelar pertunjukan musik juga dilakukan oleh Berlian Entertainment yang menggelar konser "Drive-in" pada 29 - 30 Agustus 2020 lalu di Parkir Barat, JIExpo Kemayoran, Jakarta.

Meski membolehkan penonton hadir dalam lokasi konser di dalam kendaraan mereka masing-masing, namun penyelenggara tetap membatasi jumlah yang hadir hanya sebanyak 300 kendaraan setiap harinya.

"Kita kapasitas 300 mobil per hari. Jadi siapa cepat dia dapat lah. Tiketnya itu dijual per hari," ujar Dino Hamid selaku CEO Berlian Entertainment.

Konser yang menghadirkan Kahitna, Armand Maulana, hingga Afgan sebagai penampil itu juga digelar dengan menjalankan protokol kesehatan ketat dengan penonton maksimal dalam mobil hanya tiga orang saja.

Bagi musisi sendiri, penyelenggaraan pertunjukan konser dengan adaptasi baru menjadi salah satu alternatif untuk kembali menggairahkan industri musik yang lesu akibat pandemi.

Eka Annash yang dikenal sebagai vokalis dari grup band The Brandals menyambut baik gelaran konser virtual yang menurutnya berdampak baik bagi para pelaku di industri musik.

"Kita concern sama teman-teman anak produksi yang mereka penghasilannya benar-benar dari bantu kita. Dengan adanya aktivitas ini bisa bantu operasional band, dan operasional krunya," papar Eka Annash dalam jumpa pers konser virtual Soundstream.

Hal senada juga diungkapkan oleh Henry Foundation yang merupakan personel dari grup band Goodnight Electric yang mengaku banyak tawaran mengisi acara yang terpaksa dibatalkan karena pandemi.

"Dari awal tahun udah banyak job masuk untuk pertengahan tahun ini tapi cancel semua. Dengan adanya festival online ini sangat membantu sekali terutama untuk tim produksi kita," terang Henry Foundation mewakili Goodnight Electric.

Tetap kreatif berkarya

Sementara itu, Kemenparekraf mengajak serta mendorong musisi dan para pelaku di industri musik untuk secara kreatif memanfaatkan digitalisasi di tengah suasana pandemi seperti sekarang ini.

Direktur Industri Musik, Seni Pertunjukan, dan Penerbitan Kemenparekraf Amin Abdullah mengatakan bahwa pandemi COVID-19 membawa dampak besar bagi para pelaku industri musik, terutama berkurangnya kesempatan menggelar pertunjukan secara langsung.

"Sekarang ada alternatif melalui konser virtual dan drive-in seperti yang sudah dilakukan. Itu alternatif," kata Amin Abdullah saat dikonfirmasi ANTARA.

Kemenparekraf, menurut Amin, telah mengeluarkan panduan protokol kesehatan bagi para pelaku ekonomi kreatif termasuk di bidang musik agar tetap dapat berproduksi di tengah pandemi.

Menurut Amin, pelaku industri musik seperti para musisi masih menunjukkan produktivitas yang sangat tinggi di tengah masa pandemi ini berkat memanfaatkan teknologi digital.

"Produksi itu bisa dilakukan di rumah dan kemudian bisa direct selling atau kemudian saat distribusi bisa menggunakan platform media sosial. Itu untungnya di musik dibandingkan sub sektor lain yang harus bertatap muka," ujar dia.

Meskipun dia juga memberikan penegasan bahwa perlu adanya kreativitas dalam memanfaatkan teknologi digital tersebut dalam memasarkan karya di tengah pandemi seperti sekarang ini.

"Mengadakan pertunjukan daring itu dianjurkan. Cuma harus dipikirkan juga monetisasinya. Bagaimana kemudian misalnya bisa dengan donasi pakai QR Code," tuturnya.

Jadi intinya, pandemi tidak boleh mematikan kreativitas para seniman, demikian juga bisnis pertunjukan. Kemanjuan teknologi, seperti hadirnya aplikasi panggilan video yang mendadak populer di tengah pandemi, Zoom, dan lainnya, bisa menjadi sarana untuk tetap bisa mengekpresikan dan mempertunjukkan kreativitas para seniman dan musisi.

Banyak musisi dan penyelenggara pertunjukan yang telah membuktikan bahwa pandemi bukan menjadi penghalang bagi mereka untuk berkreasi, menggelar pertunjukan konser secara virtual, dan menghasilkan banyak uang dari donasi demi tetap bisa menghidupi dan membantu para seniman yang terdampak COVID-19.

Dengan pandemi COVID-19 ini semua menjadi banyak belajar, bagaimana beradaptasi terhadap keadaan luar biasa yang menyulitkan seperti sekarang ini. Semoga pelajaran yang didapat dari kondisi sekarang ini akan membuat pelaku industri musik dan dunia hiburan di Indonesia menjadi semakin kreatif dan menemukan cara-cara baru dalam upaya terus menghidupkan industri hiburan di Tanah Air. Baik pada masa sekarang maupun di masa mendatang dengan keadaan yang sulit diprediksikan.

Pewarta : Yogi Rachman
Editor : Muhsidin
Copyright © ANTARA 2024