Jakarta (ANTARA) -
Budayawan yang juga mantan Ketua Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Labumi) PBNU Sastro Al Ngatawi menyarankan pemerintah untuk mengatasi konflik di Papua dengan pendekatan kebudayaan.
 
"Pendekatan kebudayaan juga dapat digunakan dalam konflik yang ada di Papua karena yang disentuh kebudayaan adalah perasaan. Ini berbeda dengan pendekatan politik maupun militer karena mengabaikan perasaan itu sendiri," kata Sastro dalam talkshow bertajuk Papua and Civilizatioan: an Insider perspective yang diselenggarakan Channel INC TV dan NU Channel secara daring, Rabu.
 
Ia mengatakan bahwa Papua sejak dahulu telah menjadi bagian dari Indonesia dan talenta-talentanya memiliki nilai yang sama dengan warga Indonesia lainnya.
 
Selain itu, kata dia, melihat Papua juga harus melalui bahasa kebudayaan yang dapat mempererat silaturahmi karena yang tersentuh adalah hati (perasaan) untuk berbagi kebersamaan.
 
"Tugas kita sekarang adalah mengasah dan mengolah butiran emas, mutiara-mutiara peradaban, mutiara kebudayaan yang ada di Papua dan di mana-mana. Banggalah menjadi bangsa Papua sebagai bagian dari Indonesia untuk masa depan peradaban," kata mantan Juru Bicara Presiden RI K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini dalam siaran persnya.
 
Gus Dur pun, lanjut dia, secara gamblang melakukan pendekatan secara budaya dalam merangkul warga Papua sebagai bagian dari Indonesia.
 
Penyelenggara talkshow dari Channel INC TV Ali A.H. mengatakan bahwa polemik tentang ikon PON XX Papua telah menyadarkan bahwa orang Papua sangat bangga menjadi salah satu bagian peradaban Indonesia yang memiliki kekhasan seperti daerah lainnya.
 
"Bahwa Papua itu sangat bernilai dan mampu memberikan nilai bagi kebangsaan Indonesia. Forum ini membincang Papua sebagai kekayaan budaya yang memiliki kekhasan tersendiri sebagai bagian dari peradaban Indonesia," ujarnya.
 
Sejak era prakemerdekaan, kata Ali, Papua telah menyatu dengan daerah lainnya bagian timur Indonesia, seperti Sulawesi, Maluku, dan Nusa Tenggara, dalam ikatan ras melanisia.
 
"Artinya, Indonesia itu terdiri atas berbagai ras termasuk ras melanisia, jadi sejak dahulu kala, Indonesia telah menghilangkan sekat-sekat rasis," ujarnya.
 
Menurut dia, sejatinya warga Papua bangga menjadi bagian dari Indonesia. Peradaban Papua adalah bagian dari peradaban Indonesia.

"Oleh karena itu, wajar jika dalam PON XX di Papua, para anak muda ingin menampilkan representasi dari identitas budaya asli Papua dalam pagelaran nasional tersebut," katanya.
 
Hal itu juga menjadi bukti atas pernyataan Menko Polhukam Mahfud MD bahwa warga Papua puas dengan kebijakan Indonesia di provinsi paling timur tersebut.
 
"Bahkan, 82 persen sangat setuju dengan adanya otonomi khusus dan hanya 8 persen yang menolaknya," ucapnya.

Pewarta : Syaiful Hakim
Editor : Muhsidin
Copyright © ANTARA 2024