Epidemiolog minta semua pihak tidak remehkan varian Omicron
Selasa, 8 Februari 2022 19:16 WIB
Tangkapan layar Epidemiolog Griffith University Australia Dicky Budiman saat hadir secara virtual di Instagram Liputan6.SCTV yang diikuti dari Jakarta, Kamis (13/1/2022). (ANTARA/Andi Firdaus)
Jakarta (ANTARA) - Epidemiolog Griffith University Australia Dicky Budiman meminta semua pihak baik itu pemerintah maupun masyarakat agar tak meremehkan varian Omicron karena masih berpotensi tinggi menimbulkan kematian.
"Untuk meresponnya harus ada mitigasi optimal di perlindungan pada kelompok berpotensi kesakitan dan kematian. Kelompok rawan inilah yang harus diproteksi dengan booster serta adanya peningkatan 3T (testing, tracing, treatment)," kata Dicky dalam pesan suara yang diterima di Jakarta, Selasa.
Dicky mengatakan varian Omicron masuk dalam varian of concern yang ditetapkan Badan Kesehatan Dunia (WHO). Dengan demikian, varian Omicron mesti mendapat perhatian lebih agar dampaknya bisa direduksi tak seperti saat varian Delta.
Upaya yang bisa dilakukan pemerintah adalah dengan memperluas cakupan vaksinasi. Namun ia menyayangkan angka vaksinasi dosis penguat di Indonesia masih rendah. Pun demikian dengan vaksinasi dosis kedua di luar Jawa-Bali yang mengalami hal serupa.
Padahal, potensi kematian yang diakibatkan oleh varian Omicron ini masih tinggi, utamanya bagi lansia serta mereka yang memiliki penyakit penyerta. Maka dari itu pemerintah harus sesegera mungkin memperluas cakupan vaksinasi bagi kelompok rentan.
"Kita booster masih di bawah lima persen, potensi kematian tinggi. Bahkan (vaksin) dua dosisnya saja masih kurang di luar Jawa-Bali, ini berisiko," kata dia.
Di samping itu, ia mendorong pemerintah agar berbenah dalam menjalankan strategi komunikasi risiko karena akan menentukan naik turunnya respon publik dalam menghadapi pandemi COVID-19.
Saat ini narasi-narasi soal varian Omicron tak seganas Delta bermunculan di masyarakat. Namun bagi Dicky bukan soal ganas atau tidaknya dampak yang ditimbulkan, tetapi akan berpengaruh pada pelemahan respon di masyarakat.
Ia khawatir jika narasi-narasi itu dibiarkan, maka yang terjadi adalah pengabaian terhadap protokol kesehatan. Padahal disiplin menerapkan Prokes menjadi kunci utama melawan pandemi COVID-19.
"Dan kita sekali lagi harus meluruskan hoaks bahwa ini mild, melemah, dan lain-lain. Itu tidak berdasar karena itu akan membawa ke arah pelemahan respon, pengabaian, dan meremehkan," kata dia.
"Untuk meresponnya harus ada mitigasi optimal di perlindungan pada kelompok berpotensi kesakitan dan kematian. Kelompok rawan inilah yang harus diproteksi dengan booster serta adanya peningkatan 3T (testing, tracing, treatment)," kata Dicky dalam pesan suara yang diterima di Jakarta, Selasa.
Dicky mengatakan varian Omicron masuk dalam varian of concern yang ditetapkan Badan Kesehatan Dunia (WHO). Dengan demikian, varian Omicron mesti mendapat perhatian lebih agar dampaknya bisa direduksi tak seperti saat varian Delta.
Upaya yang bisa dilakukan pemerintah adalah dengan memperluas cakupan vaksinasi. Namun ia menyayangkan angka vaksinasi dosis penguat di Indonesia masih rendah. Pun demikian dengan vaksinasi dosis kedua di luar Jawa-Bali yang mengalami hal serupa.
Padahal, potensi kematian yang diakibatkan oleh varian Omicron ini masih tinggi, utamanya bagi lansia serta mereka yang memiliki penyakit penyerta. Maka dari itu pemerintah harus sesegera mungkin memperluas cakupan vaksinasi bagi kelompok rentan.
"Kita booster masih di bawah lima persen, potensi kematian tinggi. Bahkan (vaksin) dua dosisnya saja masih kurang di luar Jawa-Bali, ini berisiko," kata dia.
Di samping itu, ia mendorong pemerintah agar berbenah dalam menjalankan strategi komunikasi risiko karena akan menentukan naik turunnya respon publik dalam menghadapi pandemi COVID-19.
Saat ini narasi-narasi soal varian Omicron tak seganas Delta bermunculan di masyarakat. Namun bagi Dicky bukan soal ganas atau tidaknya dampak yang ditimbulkan, tetapi akan berpengaruh pada pelemahan respon di masyarakat.
Ia khawatir jika narasi-narasi itu dibiarkan, maka yang terjadi adalah pengabaian terhadap protokol kesehatan. Padahal disiplin menerapkan Prokes menjadi kunci utama melawan pandemi COVID-19.
"Dan kita sekali lagi harus meluruskan hoaks bahwa ini mild, melemah, dan lain-lain. Itu tidak berdasar karena itu akan membawa ke arah pelemahan respon, pengabaian, dan meremehkan," kata dia.
Pewarta : Asep Firmansyah
Editor : Muhsidin
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Belasan warga kota Makassar rugi Rp10 miliar tertipu investasi bodong
04 January 2022 16:47 WIB, 2022
Dubes RI Rachmat Budiman serahkan surat kepercayaan kepada Raja Thailand
21 April 2021 10:48 WIB, 2021
KPK duga Budiman Saleh terima aliran dana Rp686 juta terkait kasus PT DI
22 October 2020 16:39 WIB, 2020
Ketua KPU RI: Penguatan masyarakat sipil untuk demokrasi perlu dijaga
20 August 2020 19:40 WIB, 2020
Ketua KPU Arif Budiman harapkan jaminan keamanan penyelenggara pilkada
12 August 2020 15:43 WIB, 2020