Timika (ANTARA) - Di tengah Kota Timika, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah, yang padat dengan aktivitas masyarakat di malam hari,  Ketua Lembaga Masyarakat Adat Suku Amungme (LEMASA) Menuel John Magal, secara panjang lebar mengurai tentang kearifan serta keunikan budaya suku Amungme.

Kabupaten Mimika pada awalnya adalah bagian dari Kabupaten Fakfak yaitu hanya terdiri dari tiga Distrikamatan, yakni Distrikamatan Agimuga, Distrikamatan Mimika Barat, dan Distrikamatan Mimika Timur. Kabupaten Mimika terbentuk pada tahun 1996 berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 1996.

Wilayah Kabupaten Mimika memiliki luas sekitar 21.693,51 kilometer persegi dengan topografi dataran tinggi dan rendah. Sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Paniani dan Puncak Jaya, sebelah selatan Laut Arafuru, sebelah timur Kabupaten Merauke dan sebelah barat Kabupaten Fakfak. 

Kabupaten Mimika yang dikenal kaya tambang ini didiami sejumlah suku. Dua suku asli daerah ini yaitu Amungme yang mendiami wilayah pegunungan dan Kamoro di wilayah pantai.

“Kebudayaan suku Amungme itu terdiri dari beberapa aspek, tetapi hari ini kita fokus membahas tentang kebudayaan sehari-hari yang melekat pada masyarakat Amungme,” kata Ketua LEMASA John Magal dengan ramah menyambut ANTARA yang sebelumnya telah membuat janji untuk  wawancara di Kota Timika.

Suku Amungme merupakan salah satu suku asli di Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah. Ada dua suku asli di daerah ini yakni Amungme dan Kamoro. Suku-suku itu hidup berdampingan dengan lima suku kekerabatan lainnya yaitu Suku Dani, Damal, Mee, Nduga dan Moni.

Dalam praktek kehidupan sehari-hari masyarakat adat suku Amungme memiliki budaya yang unik, mulai dari seni tari, nyanyian-nyanyian, pakaian tradisional rok rumbai dan koteka, bahasa  Uhunduni dengan dialeknya, makanan dari sagu yang  khas serta kearifan-kearifan lokal yang masih melekat.

Suku Amungme memiliki kekayaan sastra lisan yang luar biasa. Mereka bertutur lewat nyanyian dan setiap kalimat yang dikeluarkan menggambarkan keindahan alam ciptaan Tuhan serta mengagungkan sang pencipta.

Masyarakat Amungme sangat suka bernyanyi dan dalam setiap lantunan lagunya menggambarkan gunung-gunung yang tinggi, sungai yang mengalir, serta keindahan dan keagungan alam ciptaan Tuhan.

Sastra Amungme ini sangat kaya tetapi belum pernah terdokumentasikan. Oleh karena itu, generasi Amungme masa depan diharapkan dapat mengabadikan seni yang luar biasa tersebut. 

Suku Amungme memiliki alat musik tradisional yang terbuat dari bambu yang disebut Pikol. Alat musik ini merupakan alat musik tiup yang digunakan untuk mengiringi nyanyian.

"Jika di lapangan yang luas, suku Amungme menepuk anak panah dan busur sambil menghentakkan kaki, bernyanyi bersama dengan suara yang khas," ujar John Magal sambil mencontohkan hentakan kaki dan bernyanyi. 

Suku Amungme adalah suku yang juga dikenal memiliki ikatan kuat dengan gunung sehingga bagi suku ini, gunung dan sekitarnya merupakan tempat suci yang diyakini di dalamnya hidup roh dari leluhur dan harus dijaga.

Sedangkam Amungme sendiri berasal dari kata 'amung' yang berarti utama dan 'mee' yang artinya manusia. Jadi, Amungme berarti manusia yang utama.

Tari Tup, Waisak dan Noken

Dalam memainkan tarian selalu beriringan dengan nyanyian. Keduanya saling berkaitan dan memberi kekuatan, kolaborasi yang menyatukan antara seni gerak dan suara.

Ada dua jenis tarian tradisional suku Amungme yakni tari Tup dan Waisak. Kedua tarian ini memiliki ciri dan keunikannya masing-masing dan selalu diiringi nyanyian.

Untuk jenis tari Tup dapat dimainkan di lapangan luas maupun di dalam rumah, sedangkan tari Waisak hanya khusus dimainkan di lapangan saja.

Jenis nyanyian yang dilantunkan pada tarian tup dapat dinyanyikan di lapangan luas dan di dalam rumah, tetapi nyanyian untuk tari Waisak khusus hanya untuk di dalam rumah saja.

Di masyarakat adat suku Amungme juga terdapat satu warisan budaya leluhur yakni noken (tas khas Papua). Noken memiliki makna yang mendalam bagi masyarakat setempat.

Noken merupakan simbol perlindungan dan ekonomi. Dalam kondisi dan situasi apapun masyarakat suku Amugme akan selalu menggunakan noken, kecuali saat hendak tidur maka dapat dilepaskan.

Suku Amungme sangat memegang janji, sehingga jika sudah mengatakan akan melindungi maka mereka akan memegang janji itu. Hal ini yang dilambangkan sebagai simbol perlindungan dari noken.

Noken dalam bahasa lokal Amungme yakni 'wi'. Sebutan untuk noken kecil yakni 'wi nebel'. Dalam kehidupan sehari-hari Suku Amungme mengunakan noken untuk membawa berbagai hasil bumi sehingga dilambangkan sebagai simbol ekonomi.

Sampai dengan saat ini simbol noken tidak pernah bergeser dari makna kehidupan sehari-hari pada suku Amungme yang berdiam di dataran tinggi Kabupaten Mimika. Noken merupakan warisan budaya leluhur yang masih terus dirawat dan dipertahankan oleh suku Amungme.

Warna khas dari noken rajutan suku Amungme yakni merah, putih, hitam, kuning serta kombinasi warna coklat sebagai warna dasar rajutan noken.

John Magal menjelaskan, dirinya sebagai anak adat selalu menggunakan noken dalam beraktivitas sehari-hari. Meskipun mengunakan tas modern, tapi noken juga tetap diselempangkan di dadanya.

"Noken ini tidak terlepas dari kehidupan sehari-hari kami. Sehingga dalam segala situasi tetap menggunakan noken sampai tidur barulah dilepaskan," katanya sambil menunjukkan noken yang dimiliki.

Seni adalah napas kehidupan

Dihubungi secara terpisah, pelatih seni tari di Sanggar Cycloop di Kota Timika, Billy Yoku, menambahkan seni merupakan napas kehidupan suku Amungme. 

"Di sini saya menemukan jati diri saya sebagai anak Papua dan belajar memahami jati diri saya yang sebenarnya," ujar Billy.

Ia mengakui dirinya sangat menjiwai dan mencintai seni tari sehingga dirinya terus merangkul pemuda-pemudi sekitar tempat tinggalnya dalam satu wadah sanggar seni tari.

Tari dan musik tidak dapat dipisahkan. Dimana ada tari pasti ada alunan musik yang mengiringi, sebaliknya jika ada musik maka akan mengundang hentakan kaki untuk menari.

Billy mendirikan sanggar tari Cycloop dengan tujuan ingin menjaga dan melestarikan budaya Papua, khususnya budaya suku Amungme dan Kamoro.

Bermodalkan kecintaan terhadap seni tari telah menghantarkan Billy hingga saat ini, memiliki 30 orang anggota sanggar aktif.

Sanggar Cycloop sering diundang pada acara formal dan nonformal untuk membawakan tarian khas suku Amungme dan Kamoro. 

Budaya suku Amungme dan Kamoro unik dan menarik karena membangun semangat penarinya, sehingga pada setiap momen memberi keceriaan dan semangat tersendiri.

Anggota sanggar tari Cycloop terhimpun dari anak-anak jenjang Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA) dan mahasiswa.

Setiap anggota sanggar memiliki tujuan yang sama yakni menjaga dan melestarikan budaya Papua di Tanah Amungsa. 

Pelestarian budaya

Pemerintah Kabupaten Mimika terus berupaya melestarikan budaya serta kearifan lokal daerah ini, mengingat banyak seni budaya yang masih belum dikembangkan dengan maksimal.

Pada momen tertentu pemerintah juga membuat kegiatan seni, dengan tujuan melestarikan budaya lokal setempat melalui ajang perlombaan.

Biasanya dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun Kabupaten Mimika diselenggarakan lomba tari tradisional guna terus merawat kekayaan budaya Mimika.

Kabupaten Mimika sangat kaya akan ragam budaya, mulai dari kerajinan tangan, seni tari, seni suara dan sebagainya, sehingga memberi warna tersendiri sebagai simbol identitas kesukuan.

Pemerintah berkewajiban untuk merangkul para pelaku seni, tokoh adat, praktisi budaya serta masyarakat umum untuk bersama-sama mencintai dan merawat kebudayaan setempat.

"Mari bersama-sama kita lestarikan budaya yang ada di Kabupaten Mimika baik dari Suku Amugme, Kamoro maupun lima suku kekerabatan lainnya, sehingga tercipta Mimika rumah kita bersama," ucap Menuel John Magal.
 

Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Mengenal lebih dekat budaya suku Amungme di Mimika 

Pewarta : Agustina Estevani Janggo
Editor : Muhsidin
Copyright © ANTARA 2024