
Mama-mama Mimika pamer kue dari bakau

"Jadi buahnya seperti terong kecil dengan panjang 20-30 CM, diameter kira-kira 2 CM. Lalu sebelum direbus, dicuci bersih dan dikuliti. Sesudah itu dipotong-potong kemudian dihaluskan degan cara ditumbuk," kata Mama Berlinda Mawane.
Jayapura (Antara Papua) - Mama-mama dari Kampung Pigapu, Distrik Iwaka, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua, memanfaatkan momentum lokakarya pembelajaran multipihak yang digelar di Kota Jayapura, untuk memamerkan penganan atau kue dari bahan dasar buah pohon bakau.
Lokakarya yang digelar pada Kamis itu difasilitasi oleh Lembaga pemerintah federal Amerika Serikat yang bersifat independen (USAID) dalam proyek bantuan kehutanan dan perubahan iklim Indonesia (IFACS), di salah satu hotel ternama di Kota jayapura.
Mama Berlinda Mawane (50), salah satu peserta lokakarya itu mengatakan, mama-mama dari Kampung Pigapu, Distrik Iwaka, Kabupaten Mimika, sejak setahun terakhir membuat kue berbahan dasar buah pohon Bakau atau Mangrove.
Penganan berbentuk kue bolu itu menurut Mama Berlinda, seperempat bahan bakunya selain dari tepung terigu, mentega, telur dan air, terbuat dari buah pohon bakau dari jenis Bruguiera yang tumbuh disekitar kampungnya.
"Jadi buahnya seperti terong kecil dengan panjang 20-30 CM, diameter kira-kira 2 CM. Lalu sebelum direbus, dicuci bersih dan dikuliti. Sesudah itu dipotong-potong kemudian dihaluskan degan cara ditumbuk," katanya.
Setelah itu, lanjut Mama Berlinda yang datang ke Kota Jayapura didampingi pamannya, Fransiskus Manereke (60) mengatakan, buah bakau yang telah halus itu dicampur kedalam adonan panganan atau kue yang akan dibuat.
"Buah bakau yang telah halus itu bisa dicampur kedalam adonan kue apa saja. Atau bisa dimakan juga, tapi ada baiknya dibuat kue atau panganan yang lebih memiliki nilai tinggi," katanya.
Lebih lanjut Mama Berlinda menyampaikan bahwa panganan atau kue dari buah Bakau itu telah dipamerkan pada suatu kegiatan di Denpasar, Bali pada tahun lalu. "Saya juga sudah ajak teman-teman saya untuk membuat panganan atau kue dari buah pohon Bakau," kata Mama Berlinda.
Sementara itu, Marthina Wonatorey, Comdev Officer USAID-IFACS Kabupaten Mimika mengatakan, pihaknya telah mendampingi sejumlah warga di wilayah kerjanya untuk memberikan sejumlah pelatihan yang bertujuan meningkatkan keterampilan dan pengetahuan masyarakat setempat.
"USAID-IFACS Mimika fokus kerja pada hutan mangrove dan hutan dataran rendah untuk perlindungan atau konservasinya. Kompensasi kepada masyarakat Mimika adalah peningkatan ekonomi masyarakat miskin dengan berikan pemberdayaan, pendampingan dan peningkatan kapasitas," katanya.
Salah satunya dengan mendampingi masyarakat di kampung-kampung yang ada di Distrik Iwaka, Kabupaten Mimika yang daerahnya merupakan hutan mangrove.
"Dalam konservasi yang saya maksudkan tadi itu, didalamnya ada kegiatan pemetaan wilayah adat, pengembangan community conservation and livehood agreemant dan sejumlah pelatihan-pelatihan," katanya.
Pelatihan tersebut, lanjut Wonatorey, diantaranya pengelolaan hutan bakau atau mangrove, pengelolaan tepung mangrove, pengelolaan tepung sagu dan kue sagu.
"Salah satu contohnya tadi itu adalah bagaimana mendorong masyarakat untuk membuat buah bakau menjadi panganan yang berguna bagi masyarakat. Kemudian kita promosikan ketingkat kecamatan, hingga kabupaten bahkan tingkat nasional," katanya.
Luas hutan bakau atau mangrove yang ada di Kabupaten Mimika sekitar 250 ribu hektare, terluas ketiga di Indonesia setelah Asmat dan Merauke.
"Kami ingin memperjuangkan ekonomi masyarakat lewat hutan mangrove atau bakau yang ada di kampung mereka. Ini adalah salah satu bentuk kepedulian USAID IFACS kepada masyarakat di Papua," katanya.
United States Agency for International Developmen (USAID) dan Indonesia Forest and Climate Support (IFACS) merupakan program bantuan dari Pemerintah Amerika Serikat untuk mendukung komitmen Pemerintah Indonesia dalam menurunkan emisi GRK melalui peningkatan kapasitas pemerintah dan masyarakat Indonesia untuk mengelola dan melestarikan hutan secara berkelanjutan. (*)
Pewarta : Pewarta: Alfian Rumagit
Editor:
Anwar Maga
COPYRIGHT © ANTARA 2026
