Logo Header Antaranews Papua

Pejabat Dinkes: Mimika KLB campak

Rabu, 8 Maret 2017 11:23 WIB
Image Print
Pelaksana Tugas Kepala Seksi Wabah Bencana, Dinkes Mimika, Usman La Alimuda (Foto: Antara Papua/Jeremias Rahadat)
Kami langsung menetapkan KLB penyakit campak lantaran jumlah penderita cukup banyak. Syarat penetapan KLB penyakit campak minimal ada lima penderita di satu lokasi.

Timika (Antara Papua) - Pejabat Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mimika, Provinsi Papua, menyatakan kasus campak yang menyerang belasan anak usia tujuh bulan hingga 15 tahun di wilayah itu sampai tiga bulan terakhir ini dinyatakan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB).

"Kami langsung menetapkan KLB penyakit campak lantaran jumlah penderita cukup banyak. Syarat penetapan KLB penyakit campak minimal ada lima penderita di satu lokasi," kata Pelaksana Tugas Kepala Seksi Wabah Bencana, Dinkes, Usman La Alimuda di Timika, Rabu.

Usman mengatakan secara teknisnya memang penyakit campak ini sudah KLB karena baru masuk bulan ketiga tahun 2017 sudah mencapai 19 orang anak yang terkena campak berdasarkan laporan dari beberapa Pusat Kesehatan Masyarakat (PKM).

Sebanyak 19 orang anak yang terkena campak berasal dari wilayah PKM Timika sebanyak 11 orang anak, PKM Wania 6 orang dan Puskesmas Jile Alle 2 orang anak.

"Saya sudah laporkan ke kepala dinas dan sekretaris. Campak ini disebabkan karena virus nurbili, campak ini hampir sama dengan rubella atau cacar air yang sudah tidak ada imunisasi pada tahun 80-an," ujar Usman.

Usman menjelaskan penyakit campak yang ditemukan, gejalanya panas lebih kurang 3 atau 4 hari dan akan timbul bintik-bintik merah, panas, batuk, pilek.

Namun, untuk mendiognasanya harus melakukan pemeriksaan sample berupa urine dan darah.

"Kami sudah laksanakan penyelidikan epidemiologi beberapa kasus yang ditemukan di Puskesmas Timika, Wania dan Jile Alle dan diharapkan kepada puskesmas lain juga bisa melaporkan," ujarnya.

Menurut dia, penyakit campak itu sebenarnya tidak berbahaya dan yang membuat penyakit tersebut berbahaya adalah penyakit ikutan.

Penyakit ikutan seperti penimonia yang dapat berikan sesak napas dan kematian, dan jika ditemukan penyakit ini maka langsung diberikan Vitamin A.

"Kenapa bisa muncul ini pada anak-anak diatas 9 bulan yang terimunisasi karena vaksin itu sendiri tidak memberikan kekebalan pada tubuh bayi. Efikasi vaksin 85 persen, jika 100 orang yang kita laksanakan vaksin dan yang bisa kekebalan 85 persen sedangkan 15 persen masih bisa terkena campak. Makanya progam campak ini 9 bulan laksanakan campak, dua tahun, 5 tahun sehingga bisa memberikan kekebalan yang lama," ujar Usman. (*)



Pewarta :
Editor: Anwar Maga
COPYRIGHT © ANTARA 2026