Logo Header Antaranews Papua

Presiden menghendaki penanganan jangka menengah di Asmat

Selasa, 23 Januari 2018 21:42 WIB
Image Print
Presiden Joko Widodo (keempat kiri) didampingi Mendagri Tjahjo Kumolo (keempat kanan), Menteri Kesehatan Nila F Moloek (ketiga kanan), Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko (kedua kanan) serta Menteri Sosial Idrus Marham (kanan) melakukan pertemuan dengan Gubernur Papua Lukas Enembe (ketiga kiri), Bupati Asmat Elisa Kambu (kedua kiri) dan Bupati Nduga Yairus Gwijangge (kiri) di Istana Bogor, Jawa Barat, Selasa (23/1). Pertemuan tersebut membahas masalah gizi buruk dan wabah campak yang menimpa anak-anak di Kabupaten Nduga dan Asmat, Papua. (ANTARA FOTO/Handout/Setpres/Laily Rachev)
Mungkin perlu relokasi terbatas atau memerlukan infrastruktur khusus. Lapangannya saya lihat kemarin, saya kerahkan Panglima TNI, Kapolri untuk semuanya membantu tapi bukan jangka pandek tapi jangka menengahnya saya kira harus kita lihat

Bogor (Antaranews Papua) - Presiden Joko Widodo menghendaki ada penanganan jangka menengah dalam mengatasi Kejadian Luar Biasa (KLB) campak dan gizi buruk di kabupaten Asmat, Papua.

"Mungkin perlu relokasi terbatas atau memerlukan infrastruktur khusus. Lapangannya saya lihat kemarin, saya kerahkan Panglima TNI, Kapolri untuk semuanya membantu tapi bukan jangka pandek tapi jangka menengahnya saya kira harus kita lihat," kata Presiden Joko Widodo di Istana Bogor, Selasa.

Presiden didampingi Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo, Menteri Kesehatan Nila Moeloek, Menteri Sosial Idrus Marham, Kepala Kantor Staf Presiden Moeldoko menemui Bupati Asmat Elisa Kambu, Wakil Bupati Nduga Wentius Nimiangge dan Gubernur Papua Lukas Enembe.

"Beberapa lembaga seperti Kementerian Sosial, Mabes TNI, Kantor Sekretariat Presidenan, Kemendagri ditambah dengan Kepolisian, mereka telah memback up Pemda kabupaten Asmat dan kita sudah melakukan operasi bersama," kata Bupati Asma Elisa Kambu.

Ada 3 pekerjaan yang sudah dilakukan oleh tim tersebut.

"Pertama, mengobati campak itu sendiri, kedua secara bersamaan melakukan vaksin dan memberikan imunisasi kepada anak-anak kita di sana yang umurnya di bawah 14 tahun dan ketiga adalah menyiapkan upaya kita pasca penangangan campak itu sendiri," tambah Elisa.

Penanganan pasca bencana itu termasuk rencana pendampingan dan pembinaan pasien-pasien khusunya gizi buruk yang membutuhkan waktu lebih lama.

"Campak ditargetkan 1 bulan ini kita selesaikan dan di Asmat perkembangannya sudah kita sisir semua kampung, dari 224 kampung kurang lebih 187 yang sudah kita sisir, sisanya kita kerjakan beberapa waktu ke depan," ungkap Elisa.

Presiden, menurut Elisa, juga memerintahkan untuk pengerjakan perbaikan lainnya seperti ketahanan pangan, pelayanan dasar, pembinaan infrastruktur dasar maupun perubahan masyarakat.

KLB campak dan gizi buruk terjadi di Kabupaten Asmat sejak September 2017, mengakibatkan 68 balita dan anak meninggal dunia.

Pada 1-11 Januari 2018 dilaporkan telah dirawat ratusan pasien yang terkena penyakit campak, dimana 393 orang diantaranya menjalani rawat jalan dan 175 orang diantaranya terpaksa harus menjalani rawat inap.

Sejumlah kendala yang dialami adalah minimnya tenaga dokter, yakni hanya 12 dokter dan satu dokter spesial di Asmat. (*)



Pewarta :
Editor: Anwar Maga
COPYRIGHT © ANTARA 2026