Perempuan paruh baya ini selalu tampil modis, hijab di kepalanya merupakan bagian dari style-nya. Dia adalah Rhidian Yasminta Wasaraka, perempuan peranakan Kaimana, Papua Barat-Madiun, Jawa Timur, yang amat peduli lingkungan.

Ia lahir dan besar di Tanah Papua, tepatnya di Manokwari, 33 tahun silam. Lingkungan di Papua dengan topografi dataran rendah berawa sampai dataran tinggi yang dipenuhi dengan hutan hujan tropika, padang rumput dan lembah, sudah menjadi bagian dari kehidupannya, dan itu sebabnya ketertarikannya terhadap isu lingkungan boleh dikata sudah ada sejak kecil.

Apalagi, ayahnya seorang dosen kehutanan di Universitas Papua (Unipa) telah banyak mempengaruhi cara pandangnya akan lingkungan yang harus selalu dilestarikan demi anak cucu di masa mendatang. "Dari sekian banyak hal yang menarik perhatian, isu lingkungan, perempuan dan masyarakat adat yang menjadi hal utama, menyedot perhatian saya sejak dulu," ujar Rhidian yang akrab disapa Dian oleh keleganya dan sesama dosen di Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (Stikom) Muhammadiyah Jayapura, Papua.

Ia mengaku kecintaannya terhadap alam semakin menggelora saat ia mengikuti Pramuka. "Pramuka itu cinta alam dan kasih sayang sesama manusia. Saat SMP pernah ikut lomba karya tulis ilmiah tentang hemat energi, tidak menang sih tapi jadi pengalaman berharga karena akhirnya jadi banyak baca tentang isu-isu lingkungan terbaru," kata anggota Club Pecinta Alam (CPA) Mangrove dan Forum Peduli Port Numbay Green (FPPNG).

Perempuan lajang ini aktif di media konsultan CPA Mangrove sejak 2006 dan FPPNG sejak 2011 hingga sekarang.

Semasa kuliah, Dian terlibat aktif di UKM pegiat alam dan sempat meraih penghargaan pada 1999 sebagai 100 pegiat Alam terbaik se-Indonesia dan diundang oleh Kementrian Kehutanan di Pemalang, Jawa tengah.

"Pada 2001 saya juga sempat menjadi penyiar di salah satu radio swasta di Jayapura, tiap minggu saya harus bawakan siaran tentang lingkungan, selama satu jam. Saat itu  internet susah sekali sehingga sering ikuti diskusi bersama sejumlah dosen dan pegiat lingkungan," kata perempuan kelahiran 4 Desember 1980 itu.

 Anak dari pasangan Ir. Abdul Rachman Wasaraka, MP dan Hj. Farina Widjayanti itu juga mengaku pernah membuat pameran tunggal fotografi di Museum Loka Budaya Universitas Cenderawasih pada 2007. Pameran itu berisi  foto-foto human interest tentang manusia-alam Papua yang digunakan untuk "found rising" di Jerman dan Swiss guna membangun pendidikan anak-anak Papua.

"Foto-foto saya tentang alam, khususnya alam Kaimana diterbitakan secara exclusive sebanyak 29 halaman di Majalah Tamasya edisi November periode 2011-2012. Foto-foto itu ikut di pamerkan dalam kegiatan pameran "Photo Greenpeace" di Jayapura, Papua dan Manokwari, Papua Barat," katanya.

Dian mengaku karena kecintaannya kepada alam dan lingkungan begitu kuat, dirinya pernah menjadi relawan di Yayasan Pendidikan Lingkungan Hidup Cyclop Papua (YPLHC) pada 2006-2008, lalu di Yayasan Telapak 2007-2008. Hingga pada akhirnya ia menjajaki karir profesional di Conservation International (CI) Kaimana Marine Program sebagai "communication assistant" pada 2008-2011, lalu di Greenpeace Southeast Asia Kantor Papua pada 2011-2013.

"Suatu pengalaman yang tidak bisa dilupakan saat mendapat kesempatan berharga untuk melakukan penelitian di daerah Suku Korowai, wilayah Selatan Papua yang terkenal dengan sebutan manusia rumah pohon "Papua people of trees" pada Juni-November 2003 lalu," ujarnya.

Selama enam bulan bersama komunitas itu, Dian mengaku mendapatkan sejumlah pelajaran dan pengalaman berharga. "Saya bisa melihat dan memiliki pengalaman secara jelas bagaimana sesungguhnya hubungan antara kepentingan manusia termasuk didalamnya kepentingan ekonomi, budaya dan sosial dengan alam semesta dan Tuhan sebagai pencipta," katanya.

"Saya melihat bagaimana arifnya suku ini mengelola alam dan bagaimana mereka mendapatkan keuntungan secara ekonomi dari ekotourisem yang dibangun dengan apik disana sejak 1998. Dari sinilah saya belajar bahwa memang manusia tidak bisa apa-apa jika alam rusak," lanjut Wakil Ketua Bidang Lingkungan KNPI Provinsi Papua sejak 2014.

Dian berharap, kedepan semua pihak tergerak untuk melestarikan alam sekitarnya tanpa memandang kepentingan dan SARA. "Saya ingin setiap orang sadar bahwa kalau alam, yang rugi adalah kita semua tanpa pandang suku, agama dan bangsa apapun. Semua akan kena, tidak peduli siapa yang merusak alam," kata Dian, yang bercita-cita melanjutkan S2 di Amerika Serikat. (*)


Pewarta : Penulis: Alfian Rumagit
Editor : Anwar Maga
Copyright © ANTARA 2024