Menkeu Sri Mulyani terus berupaya jaga APBN tetap sehat di tengah pandemi
Selasa, 24 November 2020 11:29 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam acara "Grand Final The Asset Manager 2020" di Jakarta, Selasa (24/11/2020). ANTARA/Astrid Faidlatul Habibah
Jakarta (ANTARA) - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan pemerintah terus berupaya menjaga anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) tetap sehat, meskipun mendapat tekanan akibat pandemi COVID-19.
"APBN mengalami tekanan, tapi Alhamdulillah selama ini APBN kita jaga untuk sehat, sehingga saat kita harus menghadapi COVID-19, kita masuk dalam kondisi sehat," katanya dalam acara Grand Final The Asset Manager 2020 di Jakarta, Selasa.
Sri Mulyani menegaskan hal itu harus dilakukan karena APBN bekerja sangat keras untuk membantu meringankan dampak pandemi yang menerpa masyarakat dan dunia usaha sehingga mereka tetap mampu bertahan.
Ia mencontohkan untuk bidang kesehatan yang merupakan penyebab krisis ini, APBN berfungsi dalam pengadaan test, tracing, treatment, insentif bagi para tenaga medis, penyediaan APD, obat-obatan, hingga alat ventilator.
APBN juga memberikan dukungan kepada masyarakat yang menghadapi secara langsung pandemi ini yang tercermin melalui lebih dari 37 juta keluarga mendapatkan bantuan langsung baik dalam bentuk tunai atau sembako.
APBN turut membantu lebih dari 35 juta keluarga dari sisi tagihan listriknya baik diskon sebesar 50 persen hingga 100 persen serta lebih dari 20 juta pegawai berpendapatan di bawah Rp5 juta mendapat subsidi upah termasuk untuk para guru honorer.
Kemudian, APBN membantu kegiatan belajar dan mengajar para siswa dan guru yang harus dilakukan melalui daring sehingga disediakan internet gratis bagi lebih dari 50 juta bagi siswa, guru, dan dosen.
Tak hanya itu, APBN juga membantu lebih dari 20 juta UMKM mulai dari dalam bentuk bantuan produktif hingga dilakukan relaksasi pembayaran cicilan karena penerimaannya tidak banyak, sedangkan biaya meningkat akibat adanya pembatasan sosial.
"Dunia usaha mengalami beban yang luar biasa dan masyarakat mengalami beban yang luar biasa, maka APBN dalam hal ini instrumen fiskal memberikan banyak sekali dukungan," tegasnya.
Defisit APBN hingga akhir Oktober 2020 adalah sebesar Rp764,9 triliun atau 4,67 persen dari target Perpres 72/2020 Rp1.039 triliun atau 6,34 persen dari PDB.
Hal itu akibat dari realisasi penerimaan negara yang hingga Oktober hanya sebesar Rp1.276,9 triliun dan lebih rendah dibandingkan realisasi belanja yang telah mencapai Rp2.041,8 triliun.
"APBN mengalami tekanan, tapi Alhamdulillah selama ini APBN kita jaga untuk sehat, sehingga saat kita harus menghadapi COVID-19, kita masuk dalam kondisi sehat," katanya dalam acara Grand Final The Asset Manager 2020 di Jakarta, Selasa.
Sri Mulyani menegaskan hal itu harus dilakukan karena APBN bekerja sangat keras untuk membantu meringankan dampak pandemi yang menerpa masyarakat dan dunia usaha sehingga mereka tetap mampu bertahan.
Ia mencontohkan untuk bidang kesehatan yang merupakan penyebab krisis ini, APBN berfungsi dalam pengadaan test, tracing, treatment, insentif bagi para tenaga medis, penyediaan APD, obat-obatan, hingga alat ventilator.
APBN juga memberikan dukungan kepada masyarakat yang menghadapi secara langsung pandemi ini yang tercermin melalui lebih dari 37 juta keluarga mendapatkan bantuan langsung baik dalam bentuk tunai atau sembako.
APBN turut membantu lebih dari 35 juta keluarga dari sisi tagihan listriknya baik diskon sebesar 50 persen hingga 100 persen serta lebih dari 20 juta pegawai berpendapatan di bawah Rp5 juta mendapat subsidi upah termasuk untuk para guru honorer.
Kemudian, APBN membantu kegiatan belajar dan mengajar para siswa dan guru yang harus dilakukan melalui daring sehingga disediakan internet gratis bagi lebih dari 50 juta bagi siswa, guru, dan dosen.
Tak hanya itu, APBN juga membantu lebih dari 20 juta UMKM mulai dari dalam bentuk bantuan produktif hingga dilakukan relaksasi pembayaran cicilan karena penerimaannya tidak banyak, sedangkan biaya meningkat akibat adanya pembatasan sosial.
"Dunia usaha mengalami beban yang luar biasa dan masyarakat mengalami beban yang luar biasa, maka APBN dalam hal ini instrumen fiskal memberikan banyak sekali dukungan," tegasnya.
Defisit APBN hingga akhir Oktober 2020 adalah sebesar Rp764,9 triliun atau 4,67 persen dari target Perpres 72/2020 Rp1.039 triliun atau 6,34 persen dari PDB.
Hal itu akibat dari realisasi penerimaan negara yang hingga Oktober hanya sebesar Rp1.276,9 triliun dan lebih rendah dibandingkan realisasi belanja yang telah mencapai Rp2.041,8 triliun.
Pewarta : Astrid Faidlatul Habibah
Editor : Muhsidin
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Pj Bupati Jayapura minta OPD percepat serapan anggaran cegah defisit
12 September 2024 14:01 WIB, 2024
Kepala KSP Moeldoko: Perlu sumber pendanaan alternatif untuk BPJS Kesehatan
29 November 2021 13:40 WIB, 2021
Menkeu Sri Mulyani: Defisit APBN menurun hingga 3,29 persen pada Oktober
16 November 2021 13:17 WIB, 2021
Pelatih Djanur puji daya juang Barito Putera kejar defisit tiga gol dari PSIS
22 March 2021 3:59 WIB, 2021
Pebalap Espargaro ungkap defisit akselerasi untungkan Aprilia di Portimao
21 November 2020 3:59 WIB, 2020
Menkeu Sri Mulyani: Jangan sampai "shock" COVID-19 sebabkan kesejahteraan merosot
17 November 2020 17:13 WIB, 2020
Menkeu Sri Mulyani: Belanja negara hingga Agustus 2020 tumbuh 10,6 persen
22 September 2020 14:37 WIB, 2020
Presiden Joko Widodo: Defisit anggaran 5,5 persen akan dikelola secara hati-hati
14 August 2020 15:29 WIB, 2020
Terpopuler - Ekonomi
Lihat Juga
BPJS Kesehatan Jayapura catat klaim JKN sebesar Rp235 M hingga Februari 2026
18 April 2026 19:44 WIB