Poso, Sulawesi Tengah (ANTARA) - Pelaksanaan Operasi Tinombala Satuan Tugas (Satgas) gabungan TNI-Polri dalam memburu sisa-sisa teroris kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) di wilayah Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, kembali diperpanjang setelah berakhir pada Desember 2020.

Hal itu disampaikan langsung oleh Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Brigjen Pol. Rusdi Hartono, didampingi Kapuspen TNI, Mayjen Achmad Riad, kepada wartawan, di Poso, Rabu, (23/12).

Ia mengatakan, dalam operasi ini personel Satuan Tugas (Satgas) Tinombala akan ditambah dengan melibatkan unsur TNI.
 

Namun, ia tidak menyebut secara rinci jumlah personel yang dilibatkan dalam Operasi Tinombala yang rencananya akan diperpanjang pada Januari 2021 mendatang.

''2021 kita lanjutkan, akan bertambah dengan keterlibatan TNI, diharapkan dengan ketambahan ini mudah-mudahan cepat menyelesaikan masalahnya,'' ujarnya.

Ia mengatakan untuk memaksimalkan proses pengejaran para terduga teroris ini, operasi ini juga akan dikaji kembali.

''Ada beberapa yang dikaji kembali, jika memang itu efektif kita akan lakukan,'' katanya.

Ia mengatakan data dari Polri, saat ini sisa kelompok sipil bersenjata MIT Poso masih berjumlah 11 orang.
 

Ia mengaku kondisi Medan di pegunungan Poso, Sigi dan Parigi Moutong, masih menjadi kendala untuk menangkap para pelaku.

Ia menjelaskan, pelaksanaan Operasi Tinombala sendiri telah memasuki tahun ke lima, sejak digelar pada 2016 lalu.

Hasil operasi ini membuat pimpinan awal MIT Poso, Santoso alias Abu Wardah dan beberapa anak buahnya tewas tertembak dan sebagian menyerahkan diri.

Seperti diketahui, sisa terduga teroris MIT Poso yang dipimpin oleh Ali Kalora masih melakukan aksi terornya di wilayah Sulawesi Tengah, bahkan baru-baru ini warga di Lemban Tongoa, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah menjadi korban.
 


Pewarta : Rangga Musabar/Sulapto Sali
Editor : Muhsidin
Copyright © ANTARA 2024