Jakarta (ANTARA) - Anggota Komisi VII DPR RI Mulyanto, menekankan pentingnya untuk mempercepat produksi Vaksin Merah Putih, agar Indonesia ke depannya tidak lagi tergantung kepada vaksin impor.

"Hal ini penting karena kita tengah berkejaran dengan waktu terkait pandemi COVID-19 ini. Komitmen terhadap 3 juta vaksin Sinovac sudah terlanjur diambil pemerintah meski vaksin ini hanya memiliki efikasi sebesar 65 persen. Karena itu masih diperlukan tambahan lebih dari 100 juta dosis vaksin untuk vaksinasi penduduk Indonesia secara signifikan," kata Mulyanto dalam rilis di Jakarta, Selasa.

Mulyanto mengemukakan bahwa jumlah tersebut sangat besar dan secara bisnis merupakan pasar yang empuk.

Menurut dia, produksi dan penggunaan vaksin Merah Putih sangat penting agar Indonesia tidak tergantung pada vaksin impor dan sekedar menjadi pasar bisnis vaksin semata.

Selain itu, Mulyanto khawatir uang negara yang terbatas terkuras habis hanya untuk membeli vaksin impor.

"Karena itu sangat masuk akal kalau kita menggesa riset dan produksi vaksin Merah Putih agar segera digunakan bagi pemulihan pandemi," katanya.

Ia berpendapat bahwa hal tersebut jangan sampai terlambat, yakni diproduksi pada saat pasar vaksin sudah jenuh.

Mulyanto menambahkan pengadaan vaksin tidak boleh dimonopoli oleh satu produk dengan harga yang tak terkendali.

"Potensi pasar vaksin jangan hanya dinikmati oleh berbagai produk impor yang menyedot devisa negara. Untuk itu perlu intervensi negara untuk mendorong riset dan produksi vaksin Merah Putih," ucapnya.

Sebagaimana diwartakan Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Bambang Brodjonegoro memperkirakan pemberian izin darurat dan produksi massal vaksin COVID-19 Lembaga Biologi Molekuler Eijkman dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia dengan platform protein rekombinan diperkirakan pada Januari 2022.

Sementara vaksin yang dikembangkan oleh Universitas Airlangga dengan platform adenovirus ditargetkan pada September 2021.

"Uji klinis dan pengolahan akan menjadi kecepatan dari Bio Farma yang didukung oleh Badan POM (Pengawas Obat dan Makanan). Tugas kami adalah secepat mungkin memberikan bibit vaksin kepada PT Bio Farma," kata Bambang.

Selain PT Bio Farma, Bambang menuturkan pengembangan Vaksin Merah Putih juga mengajak sejumlah perusahaan swasta yang dapat membantu mempercepat lahirnya vaksin tersebut.
 

Pewarta : M Razi Rahman
Editor : Muhsidin
Copyright © ANTARA 2024