Konferensi Internasional AIDS di Jayapura hasilkan 11 butir kesimpulan
Sabtu, 3 Agustus 2019 22:26 WIB
Suasana penutupan Konferensi Internasional AIDS Jayapura, Sabtu(3/8). (ANTARA News Papua/Musa Abubar)
Jayapura (ANTARA) - Konferensi internasional AIDS Jayapura atau "Jayapura International AIDS conference" menghasilkan 11 butir kesimpulan diakhir kegiatan tersebut.
Sebelas butir kesimpulan itu dibacakan Ketua Panitia pelaksanaan konferensi Ni Nyoman Sri Antari di sela-sela penyampaian sambutan diakhir konferensi, pada Sabtu (3/8/2019).
Konferensi tersebut berlangsung selama empat hari yakni sejak Rabu (30/7) di salah satu hotel di Jayapura.
"Peserta yang hadir dalam JIAC ini yakni dari tokoh adat, tokoh perempuan, pemuda bahkan seluruh lapisan masyarakat kami mencoba menyimpulkan ini semua semoga membantu kita untuk menuju Fast Track 999 dan ending AIDS 2030," katanya.
Pertama, program penanggulangan HIV/AIDS di Papua khususnya di Kota Jayapura berjalan on the track dan berbagi inovasi dilakukan untuk mencapai target Fast Track 999.
Kedua, gerakan berani tes merupakan salah satu inovasi yang perlu ditingkatkan untuk mencapai target target Fast Track 999 di 2027 dan dan ending AIDS 2030.
Ketiga, kerja sama global sangat diperlukan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia baik dalam pemberian layanan bagi para ODHA yang belum diri.
"Melalui Jayapura International AIDS conference (JIAC) diharapkan semua yang telah terdeteksi status HIV/AIDS tidak lagi menutup diri tetapi membuka diri untuk mendapatkan akses pengobatan sehingga bisa hidup sehat," ujar Sri Antari.
Keempat, HIV/AIDS merupakan masalah bersama sehingga perlu kerja sama lintas sektor untuk menuju tri Zero 2030. Untuk menuju tri Zero 2030 perlu kombinasi pencegahan dengan fasilitas kesehatan pada populasi umum tanpa mengabaikan populasi kunci.
Kelima, Penggunaan kondom yang benar dan konsisten, sirkumsisi khusus di Papua dengan metode prep prepeks semoga tetap berlanjut.
"Berikut yang keenam yakni mengenalkan praktek-praktek baik yang telah kita capai baik seperti layanan yang kita dengar bersama sakses story yang telah dilakukan diberbagi tempat," ujarnya.
Ia menyebut bukan hanya pada JIAC, tetapi juga dalam praktek ditemukan hanya beberapa yang bisa ditampilkan di konferensi ini seperti dari Kabupaten Merauke, dari Klinik Walihole.
"Tetapi kami tahu bahwa praktek baik masih banyak ditempat lain yang belum muncul ke permukaan dan kami berharap itu akan terus kita ekspos sehingga benar-benar kita sudah berusaha berjuang untuk memerangi HIV/AIDS," kata Ni Nyoman Sri Antari yang juga Kepala Dinas Kesehatan Kota Jayapura itu.
Selanjutnya, butir ketujuh yakni penguatan sistem pelayanan kesehatan. Penggiat kesehatan terus berjuang untuk membenahi dalam diskusi, banyak keluhan tentang pelayanan kesehatan dari cara menerima pasien,merawat pasien yang tidak manusiawi.
"Kami akan berbenah sehingga kami benar-benar memanusiakan manusia. Jadi yang kami rawat adalah manusia. Dengan program akreditasi semua itu harus kami benahi kami berjanji memperluas akses layanan, pekerjaan rumah kami, bukan saja Kota Jayapura tetapi seluruh tanah Papua, kami harus memperbaiki, harus memperluas akses layanan HIV/AIDS sampai ke tingkat RT/RW," ujarnya.
Sedangkan butir kedelapan yakni desentraslisasi ARV menjadi prioritas meningkatkan cakupan layanan bagi ODHA terutama layanan pengobatan ARV.
"Tidak cukup untuk itu, kami harus melakukan monitoring dan evaluasi. Selama ini itu yang kurang pada kami sehingga kami harus lakukan monitor terus menerus, mengevaluasi sehingga kami bisa melaksanakan pelayanan lebih baik," ujarnya.
Butir kesembilan berupa pengembangan layanan yang ramah terhadap anak dan terhadap remaja, layanan itu masih sedikit, sehingga layanan itu akan dikembangkan.
"Posyandu remaja masih sedikit, kami akan kembangkan. Layanan dan juga pengembangan layanan ramah perempuan," ujarnya.
Butir kesepuluh adalah stigma diskriminasi masih merupakan tantangan besar, masih ada berita yang sangat direspon cukup ekstrim, itu artinya stigma diskriminasi masih tinggi.
"Kami bermohon media tetap bijak supaya kita tetap menurunkan stigma diskriminasi dalam penanggulangan HIV/AIDS menuju Tri Zero," ujarnya.
Butir kesebelas yakni memaksimalkan strategi stop HIV semua pihak bisa melakukannya, semua pengetahuan tentang HIV bisa menyampaikannya kepada setiap orang yang dijumpai.
"Temukan, kita harus melakukan tes HIV kemudian obati dan pertahankan. Peran serta masyarakat dalam penanggulangan HIV/AIDS," katanya.
Sebelas butir kesimpulan itu dibacakan Ketua Panitia pelaksanaan konferensi Ni Nyoman Sri Antari di sela-sela penyampaian sambutan diakhir konferensi, pada Sabtu (3/8/2019).
Konferensi tersebut berlangsung selama empat hari yakni sejak Rabu (30/7) di salah satu hotel di Jayapura.
"Peserta yang hadir dalam JIAC ini yakni dari tokoh adat, tokoh perempuan, pemuda bahkan seluruh lapisan masyarakat kami mencoba menyimpulkan ini semua semoga membantu kita untuk menuju Fast Track 999 dan ending AIDS 2030," katanya.
Pertama, program penanggulangan HIV/AIDS di Papua khususnya di Kota Jayapura berjalan on the track dan berbagi inovasi dilakukan untuk mencapai target Fast Track 999.
Kedua, gerakan berani tes merupakan salah satu inovasi yang perlu ditingkatkan untuk mencapai target target Fast Track 999 di 2027 dan dan ending AIDS 2030.
Ketiga, kerja sama global sangat diperlukan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia baik dalam pemberian layanan bagi para ODHA yang belum diri.
"Melalui Jayapura International AIDS conference (JIAC) diharapkan semua yang telah terdeteksi status HIV/AIDS tidak lagi menutup diri tetapi membuka diri untuk mendapatkan akses pengobatan sehingga bisa hidup sehat," ujar Sri Antari.
Keempat, HIV/AIDS merupakan masalah bersama sehingga perlu kerja sama lintas sektor untuk menuju tri Zero 2030. Untuk menuju tri Zero 2030 perlu kombinasi pencegahan dengan fasilitas kesehatan pada populasi umum tanpa mengabaikan populasi kunci.
Kelima, Penggunaan kondom yang benar dan konsisten, sirkumsisi khusus di Papua dengan metode prep prepeks semoga tetap berlanjut.
"Berikut yang keenam yakni mengenalkan praktek-praktek baik yang telah kita capai baik seperti layanan yang kita dengar bersama sakses story yang telah dilakukan diberbagi tempat," ujarnya.
Ia menyebut bukan hanya pada JIAC, tetapi juga dalam praktek ditemukan hanya beberapa yang bisa ditampilkan di konferensi ini seperti dari Kabupaten Merauke, dari Klinik Walihole.
"Tetapi kami tahu bahwa praktek baik masih banyak ditempat lain yang belum muncul ke permukaan dan kami berharap itu akan terus kita ekspos sehingga benar-benar kita sudah berusaha berjuang untuk memerangi HIV/AIDS," kata Ni Nyoman Sri Antari yang juga Kepala Dinas Kesehatan Kota Jayapura itu.
Selanjutnya, butir ketujuh yakni penguatan sistem pelayanan kesehatan. Penggiat kesehatan terus berjuang untuk membenahi dalam diskusi, banyak keluhan tentang pelayanan kesehatan dari cara menerima pasien,merawat pasien yang tidak manusiawi.
"Kami akan berbenah sehingga kami benar-benar memanusiakan manusia. Jadi yang kami rawat adalah manusia. Dengan program akreditasi semua itu harus kami benahi kami berjanji memperluas akses layanan, pekerjaan rumah kami, bukan saja Kota Jayapura tetapi seluruh tanah Papua, kami harus memperbaiki, harus memperluas akses layanan HIV/AIDS sampai ke tingkat RT/RW," ujarnya.
Sedangkan butir kedelapan yakni desentraslisasi ARV menjadi prioritas meningkatkan cakupan layanan bagi ODHA terutama layanan pengobatan ARV.
"Tidak cukup untuk itu, kami harus melakukan monitoring dan evaluasi. Selama ini itu yang kurang pada kami sehingga kami harus lakukan monitor terus menerus, mengevaluasi sehingga kami bisa melaksanakan pelayanan lebih baik," ujarnya.
Butir kesembilan berupa pengembangan layanan yang ramah terhadap anak dan terhadap remaja, layanan itu masih sedikit, sehingga layanan itu akan dikembangkan.
"Posyandu remaja masih sedikit, kami akan kembangkan. Layanan dan juga pengembangan layanan ramah perempuan," ujarnya.
Butir kesepuluh adalah stigma diskriminasi masih merupakan tantangan besar, masih ada berita yang sangat direspon cukup ekstrim, itu artinya stigma diskriminasi masih tinggi.
"Kami bermohon media tetap bijak supaya kita tetap menurunkan stigma diskriminasi dalam penanggulangan HIV/AIDS menuju Tri Zero," ujarnya.
Butir kesebelas yakni memaksimalkan strategi stop HIV semua pihak bisa melakukannya, semua pengetahuan tentang HIV bisa menyampaikannya kepada setiap orang yang dijumpai.
"Temukan, kita harus melakukan tes HIV kemudian obati dan pertahankan. Peran serta masyarakat dalam penanggulangan HIV/AIDS," katanya.
Pewarta : Musa Abubar
Editor : Anwar Maga
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Gubernur Fakhiri: Hari HIV/AIDS momentum percepatan pelayanan epidemi di Papua
02 December 2025 2:04 WIB
Pemkab Deiyai minta KPA bersinergi dengan lembaga pemerintah atasi HIV/AIDS
13 October 2025 15:26 WIB
Gubernur Papua Tengah minta pemkab perkuat sinergi atasi penyebaran HIV/AIDS
15 August 2025 20:08 WIB
Terpopuler - Daerah
Lihat Juga
Pemprov Papua Selatan nilai Jembatan Garuda buka akses layanan bagi masyarakat
07 April 2026 20:43 WIB
Pemkab Jayawijaya distribusikan alat pertanian bagi kelompok tani di Distrik Bpir
03 April 2026 20:55 WIB