Goldman Sachs: Dikhawatirkan perang dagang AS-China menuju resesi
Senin, 12 Agustus 2019 11:06 WIB
Deretan peti kemas terlihat di pelabuhan Yantian di Shenzhen, provinsi Guangdong, Cina 4 Juli 2019. REUTERS/Stringer.
Washington (ANTARA) - Goldman Sachs Group Inc mengatakan pada Minggu (11/8) bahwa kekhawatiran perang dagang AS-China mengarah ke resesi meningkat dan Goldman tidak lagi memperkirakan kesepakatan perdagangan antara dua ekonomi terbesar dunia sebelum pemilu presiden AS 2020.
"Kami memperkirakan tarif yang menargetkan sisa 300 miliar dolar AS impor dari China akan berlaku," kata bank itu dalam catatan yang dikirim kepada para nasabahnya.
Presiden AS Donald Trump mengumumkan pada 1 Agustus bahwa pihaknya akan mengenakan tarif tambahan 10 persen pada impor China senilai 300 miliar dolar AS pada 1 September, mendorong China untuk menghentikan pembelian produk-produk pertanian AS.
Amerika Serikat juga menyatakan China sebagai manipulator mata uang. China menyangkal telah memanipulasi yuan untuk keuntungan kompetitif.
Perselisihan perdagangan selama setahun telah berkisar pada masalah-masalah seperti tarif, subsidi, teknologi, kekayaan intelektual dan keamanan siber, di antara lainnya.
Goldman Sachs mengatakan pihaknya menurunkan perkiraan pertumbuhan kuartal keempat AS sebesar 20 basis poin menjadi 1,8 persen karena dampak yang lebih besar dari yang diperkirakan dari perkembangan ketegangan perdagangan.
"Secara keseluruhan, kami telah meningkatkan perkiraan kami tentang dampak peningkatan perang dagang," kata bank itu dalam catatan yang ditulis oleh tiga ekonomnya, Jan Hatzius, Alec Phillips dan David Mericle.
Meningkatnya biaya input dari gangguan rantai pasokan dapat menyebabkan perusahaan-perusahaan AS mengurangi aktivitas domestik mereka, kata catatan itu. "Ketidakpastian kebijakan" seperti itu juga dapat membuat perusahaan-perusahaan menurunkan belanja modal mereka, tambah para ekonom.
"Kami memperkirakan tarif yang menargetkan sisa 300 miliar dolar AS impor dari China akan berlaku," kata bank itu dalam catatan yang dikirim kepada para nasabahnya.
Presiden AS Donald Trump mengumumkan pada 1 Agustus bahwa pihaknya akan mengenakan tarif tambahan 10 persen pada impor China senilai 300 miliar dolar AS pada 1 September, mendorong China untuk menghentikan pembelian produk-produk pertanian AS.
Amerika Serikat juga menyatakan China sebagai manipulator mata uang. China menyangkal telah memanipulasi yuan untuk keuntungan kompetitif.
Perselisihan perdagangan selama setahun telah berkisar pada masalah-masalah seperti tarif, subsidi, teknologi, kekayaan intelektual dan keamanan siber, di antara lainnya.
Goldman Sachs mengatakan pihaknya menurunkan perkiraan pertumbuhan kuartal keempat AS sebesar 20 basis poin menjadi 1,8 persen karena dampak yang lebih besar dari yang diperkirakan dari perkembangan ketegangan perdagangan.
"Secara keseluruhan, kami telah meningkatkan perkiraan kami tentang dampak peningkatan perang dagang," kata bank itu dalam catatan yang ditulis oleh tiga ekonomnya, Jan Hatzius, Alec Phillips dan David Mericle.
Meningkatnya biaya input dari gangguan rantai pasokan dapat menyebabkan perusahaan-perusahaan AS mengurangi aktivitas domestik mereka, kata catatan itu. "Ketidakpastian kebijakan" seperti itu juga dapat membuat perusahaan-perusahaan menurunkan belanja modal mereka, tambah para ekonom.
Pewarta : Apep Suhendar
Editor : Anwar Maga
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Kemenlu RI pastikan Indonesia berkontribusi lebih di kawasan Pasifik
14 October 2024 20:59 WIB, 2024
Dirut Akhmad Munir: ANTARA sejalan dengan OANA untuk pemberantasan hoaks
24 October 2023 12:20 WIB, 2023
Dispar Jayapura: KTT ASEAN berdampak pada kemajuan sektor pariwisata daerah
29 August 2023 23:37 WIB, 2023
Terpopuler - Internasional
Lihat Juga
Kemenlu RI pastikan Indonesia berkontribusi lebih di kawasan Pasifik
14 October 2024 20:59 WIB, 2024
Dirut Akhmad Munir: ANTARA sejalan dengan OANA untuk pemberantasan hoaks
24 October 2023 12:20 WIB, 2023