Jakarta (ANTARA) - Ketika Lionel Messi masuk bursa transfer, hanya dua klub yang sanggup mengontraknya padahal harga superstar sepak bola Argentina ini tetap tinggi.

Manchester City dan Paris Saint Germain memang anomali, bahkan saat yang lain semaput diterkam pandemi, kedua klub ini anteng memburu pemain baru.

Ketika Manchester United maju mundur menakar gelandang kreatif Jack Grealish, Man City menyambar Grealish dalam hitungan pekan.

Pun demikian PSG, yang dengan entengnya membeli pemain-pemain hebat selama jendela musim transfer yang walau hampir seluruhnya bebas transfer tetap sulit terbeli klub biasa atau klub kaya namun konservatif dalam mengelola pembukuannya.

Ketika raksasa-raksasa seperti Barcelona, Real Madrid dan Juventus, hati-hati berhitung karena tak ingin neraca semakin goyah, PSG dengan gampangnya menggaet Sergio Ramos, Gianluigi Donnarumma dan Georginio Wijnaldum.

Terakhir mereka menyambar Messi begitu kesempatan baru nongol di depan pintu, laksana singa lapar melihat mangsa. Kekuatan keuangannya sungguh mengerikan, tak kering dihisap pandemi, mengalir tak mengenal musim.

Keadaan itu mungkin karena tak seperti kebanyakan klub sepak bola profesional Eropa, City dan PSG pada dasarnya dimiliki negara.

Mereka memang milik pemerintah Uni Emirat Arab dan Qatar lewat lengan-lengan investasinya yang juga tak hanya mencengkeram kedua klub sepak bola besar Eropa itu.

Membeli Manchester City pada 2008 dari Thaksin Shinawatra yang dikudeta militer sehingga bukan saja tanggal dari jabatan perdana menteri Thailand tapi juga membuat asset-assetnya terbekukan, Abu Dhabi United Group (ADUG) mempermak Man City menjadi klub kelas atas seperti dikenal saat ini.

ADUG adalah perusahaan ekuitas swasta Uni Emirat Arab (UEA) yang dimiliki Sheikh Mansour bin Zayed Al Nahyan dari keluarga kerajaan Abu Dhabi dan sekaligus Menteri Urusan Kepresidenan UEA.

UEA adalah federasi tujuh keemiran yang terdiri dari Abu Dhabi yang menjadi ibu kotanya, Ajman, Dubai, Fujairah, Ras Al Khaimah, Sharjah, dan Umm Al Quwain.

ADUG lalu menjadi bagian grup induk City Football Group Limited (CFG) dengan menguasai 78 persen saham. Sedangkan 10 persen dikuasai Silver Lake dari AS dan 12 persen saham lainnya dipegang oleh dua perusahaan China, yakni China Media Capital serta CITIC Capital.

Sementara itu di Prancis, setelah berulang kali ganti kepemilikan, PSG diakuisisi penguasa atau emir Qatar Tamim bin Hamad Al Thani pada 2011 melalui Qatar Sports Investments (QSI) yang adalah lengan investasi negara Qatar.

Kepanjangan tangan negara

Sekalipun Nasser Al-Khelaifi memimpin QSI dan presiden PSG sejak akuisisi 2011, Al Thani adalah penentu kata akhir untuk setiap keputusan besar menyangkut PSG, termasuk saat mengontrak Messi dari transfer bebas bulan ini.

Seperti ADUG di Manchester City, QSI juga agresif menarik pemain-pemain hebat untuk bergabung, selain juga terus memoderninasi infrastruktur klub. Dan sejak awal akuisisi, QSI bertekad mengubah PSG sebagai klub yang mampu menjuarai Liga Champions.

Untuk mencapai ambisi itu, sejak musim panas 2011, PSG telah menggelontorkan 1,3 miliar euro (Rp21,8 triliun) untuk membeli bintang-bintang seperti Zlatan Ibrahimovic, David Beckham, Neymar, Kylian Mbappe dan Messi. Dan mereka pun berubah menjadi raksasa sepak bola Prancis dan Eropa.

Menurut taksiran majalah Forbes, PSG adalah klub sepak bola yang memiliki valuasi terbesar kesembilan di dunia dengan nilai 3 miliar euro (Rp50,5 triliun), sedangkan menurut Deloitte, pendapatan mereka adalah tertinggi ketujuh di dunia dengan 541 juta euro (Rp9,1 triliun).

Postur keuangannya yang kuat juga membuat PSG tak kekurangan sponsor. Nama-nama besar mulai Qatar Tourism Authority, Nike, Accor, sampai Air Jordan menempel pada mereka.

Kedua negara Teluk itu berinvestasi dalam industri sepak bola Eropa untuk memajukan soft power mereka di dunia.

PSG dan Manchester City dianggap sebagai jembatan dalam menangguk pemirsa dan penggemar di seluruh dunia yang nantinya bisa mengangkat profil negara, iklim investasi dan wajah pariwisatanya.

“Ini proses yang sudah dimulai sejak awal milenium baru dan UEA dan Qatar menjadi yang paling ambisius,” kata James Montague yang meliput sepak bola Timur Tengah seperti dikutip laman DW.

"Awalnya Dubai merupakan pihak yang berinvestasi pada bidang olahraga dan memanfaatkannya untuk tujuan politik. Tetapi krisis finansial 2008 membuat Dubai yang tak memiliki sumber daya alam di-bail out oleh Abu Dhabi."

Abu Dhabi lalu menggunakan cetak biru Dubai untuk mengakuisisi Man City sampai membawanya ke level teratas Liga Inggris.

Sementara Qatar yang belakangan masuk dunia olah raga, menggeluti dunia ini dengan mengakuisisi PSG dari perusahaan investasi Amerika Serikat Colony Capital.

Bagi pemilik-pemilik PSG dan City, dua klub ini bukan semata klub sepak bola, melainkan kepanjangan negara.

Segera setelah itu, Abu Dhabi dan Al Thani menjadi kian sengit bersaing. Abu Dhabi tak ingin tersalip Qatar, sebaliknya Qatar pun begitu.

Kian sengit bersaing

Menurut peneliti Timur Tengah dari Universitas Lancaster, Mustafa Menshawy, sekalipun Qatar sudah kembali ke pangkuan Dewan Kerjasama Teluk, persaingan antara penguasa Qatar dan UEA tak pernah surut, tetap saja melebar ke mana-mana, sampai sepak bola.

Jadi tak usah heran jika Man City dan PSG bertemu lagi seperti dalam semifinal Liga Champions April lalu, bukan lagi soal pertarungan antara Kevin de Bruyne dengan Lionel Messi atau Pep Guardiola dengan Mauricio Pochettino, tetapi juga persaingan antara Qatar dan UEA.

Kedua pemilik klub memiliki motif serupa saat mengakuisisi dua klub terkaya Eropa itu, yakni demi citra mereka.

Kedua negara kaya raya ini ingin menunjukkan siapa di antara mereka yang lebih kuat. Namun sekalipun sudah miliaran dolar AS mereka kucuran, City dan PSG masih belum sukses di kancah Eropa.

PSG mencapai final Liga Champions tahun lalu sebelum menyerah kepada Bayern Muenchen, sebaliknya Man City dijegal Chelsea dalam final Liga Champions lainnya 30 Mei lalu.

Tetapi kini PSG disebut-sebut mempunyai kans lebih besar karena memiliki Messi.

Dan rumor semakin liar saja. Ada ide menyatukan Cristiano Ronaldo dan Messi di PSG tahun depan. Sebaliknya, Ronaldo kabarnya malah ingin berlabuh di Etihad Stadium yang jika ini terjadi bakal membuat penggemar Manchester United meradang.

Meskipun demikian, persaingan UEA dan Qatar ini ada bagusnya. Mereka membuat profit dan uang tak lagi dilihat sebagai faktor utama sehingga nilai keolahragaan sepak bola menjadi lebih berbobot.

Dan ini juga terlihat ketika kedua tim menunjukkan minat yang rendah saat sejumlah klub elite Eropa membentuk Liga Super Eropa.

Man City memang bergabung, tapi seperti pemilik Chelsea Roman Abramovich yang merasa uang bukan segalanya dalam sepak bola, City menjadi salah satu pihak yang langsung memutuskan ikatan.

Bukan karena mengkhawatirkan penggemar seperti dikhawatirkan Manchester United dan Tottenham Hotspur. Tapi City mereka tak terlalu membutuhkan profit yang dijanjikan dari Liga Super Eropa.

PSG lebih ekstrem lagi. Seperti Bayern Muenchen di Jerman, mereka langsung menolak Liga Super Eropa, karena merasa tak dihimpit kesulitan uang sekalipun sejak diakuisisi Qatar tak pernah untung.

Bagi sepak bola, fakta PSG dan Man City ini membuat sepak bola menjadi kian menarik karena pemain dan sepak bola tidak terlihat terlalu sebagai sumber profit.
 

Pewarta : Jafar M Sidik
Editor : Muhsidin
Copyright © ANTARA 2024