Jayapura (ANTARA) - PT PLN Unit Induk Wilayah Papua dan Papua Barat (UIWP2B) terus mempercepat pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT) ini dilakukan untuk mewujudkan listrik berkeadilan pada wilayah setempat.
General Manager PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah Papua dan Papua Barat, Diksi Erfani Umar di Jayapura Minggu mengatakan, sistem kelistrikan seluruh Tanah Papua dalam kondisi cukup namun perlu ditingkatkan bauran energi hijau demi ketahanan energi berkelanjutan.
“Saat ini untuk sistem kelistrikan di enam provinsi Tanah Papua terdiri dari 8 sistem besar dan 372 sistem isolated di mana dari seluruh sistem tersebut, sebanyak 190 sistem diantaranya merupakan pembangkit energi baru terbarukan," katanya.
Menurut Diksi, di antaranya Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH), lalu Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM), Pembangkit Listrik Tenaga Air ( PLTA) serta Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa (PLTBm).
"Di mana dengan total daya mampu sistem kelistrikan di enam provinsi mencapai 527,88 megawatt (MW) dengan beban puncak tertinggi tercatat sebesar 345,31 MW," ujarnya.
Dia menjelaskan, di mana ketersediaan listrik dikatakan sangat cukup sehingga masih menyisakan cadangan daya sebesar 182,57 MW.
"Hanya saja hingga kini masih ada daerah-daerah di 3T yang belum mendapatkan aliran listrik dikarenakan kondisi geografis Tanah Papua yang menantang sehingga kami dituntut pendekatan inovatif untuk agar bisa menghadirkan listrik yang merata," katanya.
Dia menambahkan, untuk itu Energi Baru Terbarukan (EBT) dinilai menjadi salah satu solusi dalam mencapai keadilan energi karena dapat memanfaatkan ketersediaan potensi alam daerah setempat.
"Melalui Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025-2034, sejumlah pembangunan proyek strategis telah direncanakan untuk membangun pembangkit hijau yang tersebar di seluruh Tanah Papua. Hal ini dilakukan agar jangkauan fasilitas kelistrikan dapat dirasakan seluruh masyarakat hingga ke seluruh negeri," ujarnya.

