Logo Header Antaranews Papua

Danlanud sebut personel Paskhas TNI AU amankan 11 lapangan terbang di Tanah Papua

Jumat, 13 Maret 2026 10:00 WIB
Image Print
Danlanud Silas Papare Marsma TNI Mokh. Mukhson. (ANTARA/Evarukdijati)

Jayapura (ANTARA) - Komandan Pangkalan Angkatan Udara (Danlanud) Silas Papare Marsma TNI Mokh. Mukhson mengatakan TNI-AU saat ini sudah menggerahkan personel Paskhas untuk mengamankan 11 lapangan terbang yang sebelumnya ditutup akibat dampak gangguan keamanan yang dialami pesawat Smart Air hingga menewaskan dua kru-nya.

Saat ini personel Paskhas TNI AU sudah dikerahkan untuk mengamankan lapangan terbang yang sebelumnya ditutup setelah insiden penembakan yang dialami pesawat Smart Air beserta crewnya di Korowai Batu, Kabupaten Boven Digoel, tanggal 12 Februari lalu.

"Sebanyak 18 personel Paskhas kini ditempatkan di setiap lapter untuk mengamankan dari gangguan KKB," kata Danlanud Silas Papare Marsma TNI Mokh. Mukhson di Jayapura, Kamis.

Ditemui disela-sela gelar pasukan Operasi Ketupat Cartenz di lingkungan Polda Papua, Danlanud Silas Papare mengatakan, selain dijaga personel Paskhas, juga akan ditempatkan personel TNI-AD .

"Memang personel Paskhas TNI AU sudah dikerahkan untuk mengamankan lapangan terbang yang sebelumnya ditutup termasuk Korowai Batu namun pihaknya belum memastikan apakah semuanya sudah kembali normal beroperasi atau belum," kata Marsma TNI Mokh. Mukhson.

Sebelumnya Kementerian Perhubungan menutup 11 lapangan terbang di Tanah Papua karena rawan gangguan keamanan yaitu Satuan Pelayanan Korowai Batu, Bandara Bomakia, Satpel Yaniruma, Satpel Manggelum, Lapter Kapiraya, Lapter Iwur, Lapter Fawi, Lapter Dagai, Lapter Aboy, Lapter Teraplu dan Lapter Beoga.

Gerombolan bersenjata pimpinan Elkius Kobak menyerang dengan menembaki pesawat milik Smart Air dengan nomor penerbangan PK-SNR saat mendarat di Lapangan Terbang Karowai Rabu (12/2) saat hendak terbang ke Dekai.

Akibat penyerangan itu Pilot Kapten Enggo dan Kapten Baskoro meninggal setelah ditembak gerombolan bersenjata itu.



Pewarta :
Editor: Hendrina Dian Kandipi
COPYRIGHT © ANTARA 2026