Jayapura (ANTARA) -
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) terus melakukan konsolidasi dan membangun jejaring guna meningkatkan cakupan imunisasi campak dan rubella yang pada 2022 masih di bawah angka 50 persen.
 
Kepala Seksi Imunisasi Dinas Kesehatan Provinsi Papua Elianus Tabuni di Jayapura, Minggu, mengatakan, sesuai target nasional cakupan imunisasi di Papua harusnya mencapai 95 persen pada 2022, namun selama Bulan Imunisasi Nasional (Bian) hanya 39,6 persen.
 
"Ada sejumlah penyebab rendahnya cakupan imunisasi seperti faktor keamanan, tantangan geografis dan pandemi COVID-19, sehingga faktor-faktor tersebut yang membuat layanan imunisasi di daerah tidak berjalan maksimal, bahkan ada yang menutup akses karena situasi keamanan tidak kondusif,” katanya.
 
Menurut Elianus, untuk ke depan pihaknya akan melakukan konsolidasi dan membangun jejaring juga dengan tiga provinsi Daerah Otonomi Baru (DOB) agar bersama-sama mencegah terjadinya rubella dan campak di Tanah Papua.
 
"Kami akan memberikan informasi dan sosialisasi kepada Dinkes yang ada di tiga provinsi DOB tersebut sehingga diharapkan pemerintah tersebut memiliki pengetahuan tentang situasi imunisasi di wilayahnya,” ujarnya.
 
Dia menjelaskan, pihaknya juga bakal melibatkan berbagai tokoh mulai dari gereja, pemuda, adat dan lainnya dalam menyosialisasikan imunisasi campak dan rubella ini.
 
"Selain itu kami juga akan menggelar pertemuan bersama seluruh stakeholder terkait untuk menentukan strategi pencapaian cakupan imunisasi campak dan rubella pada 2023 di Papua," katanya.
 
Dia menambahkan, dengan situasi COVID-19 yang kini telah melandai, diharapkan semua pihak bisa ikut terlibat dalam memberi perhatian serius untuk mengampanyekan imunisasi campak dan rubella bagi para orang tua di Tanah Papua.

Pewarta : Qadri Pratiwi
Editor : Muhsidin
Copyright © ANTARA 2024