Logo Header Antaranews Papua

Ada minyak dibalik sampah plastik

Rabu, 15 Oktober 2014 14:05 WIB
Image Print
Proses pengolahan sampah plastik menjadi cairan bahan bakar. (Foto: Istimewa)
"Sudah kita coba plastik, terus dicoba plastik kok dalam skala lab (laboratorium) ya, dalam skala kecil itu kok ini ada ini (minyak) hasilnya meskipun hasilnya masih kurang sempurna," ujar Darwanta.

Bagi kebanyakan orang, melihat gelas plastik bekas kemasan minuman hanya menganggap sebagai barang bekas, limbah tidak bermanfaat, atau ada yang mengumpulkanya hanya sebagai sampah yang layak dipulung untuk ditukarkan dengan rupiah dan nilainya pun tidak seberapa.

Namun, berbeda dengan Darwanta. Dosen ilmu kimia di Universitas Cenderawasih (Uncen) di Jayapura, Papua itu, bersama rekan seprofesinya Sriyanto, Darwanta berhasil mengubah manfaat sampah plastik menjadi cairan bahan bakar.

Berbekal ilmu pengetahuannya di bidang kimia anorgani, Darwanta dan Sriyanto, mengolah sampah plastik kemasan minuman gelas dan botol oli menjadi cairan bahan bakar yang berkomposisi solar, minyak tanah, dan bensin.

Pria kelahiran Klaten 40 tahun silam itu, mengaku telah cukup lama menekuni pengolahan sampah plastik kemasan minuman gelas itu, yakni sejak 2008. "Jadi kebetulan saya dengan teman sebelah itu (Sriyanto) dulu kita sama-sama kuliah di kimia," ujarnya.

"Dulu ceritanya itu bukan berangkat dari plastiknya tetapi dari lempung (tanah liat). Kebetulan saya S2-nya tentang lempung yang diarahkan menjadi material, jadi berangkat dari lempung dibuat dimodifikasi kemudian dipakai untuk ngolah minyak bumi, jadi namanya 'cracking' minyak bumi," tutur Darwanta.

Usai merampungkan studi pascasarjananya di Universita Gadja Mada, Darwanta kembali ke Jayapura, dan memulai pengolahan sampah plastik itu, yang dibantu Sriyanto serta beberapa orang mahasiswa yang sedang menyelesaikan tugas akhir.

Mereka mencoba menggunakan tanah liat sebagai katalis atau pengolah minyak, dengan bahan sampah kemasan minuman gelas.

"Sudah kita coba plastik, terus dicoba plastik kok dalam skala lab (laboratorium) ya, dalam skala kecil itu kok ini ada ini (minyak) hasilnya meskipun hasilnya masih kurang sempurna," ujarnya.

Dengan keberanian untuk mencoba dan terus mencoba, meskipun upaya yang dilakukan oleh Darwanta dan rekannya tidak serta-merta berhasil, akhirnya buah dari kerja keras mereka mulai terlihat.

Mereka nekat memperagakan jerih payahnya bersama beberapa orang mahasiswa di halaman SMA Muhammadiyah pada kegiatan pekan kreatif dan apresiasi seni pada 8 Maret 2014.

Hasilnya, lima kilogram sampah kemasan minuman gelas mampu diubah menjadi enam liter cairan bahan bakar dengan komposisi bensin, minyak tanah, dan solar.

"Ya memang cairan bahan bakar yang dihasilkan setelah pengolahan lima kilogram sampah kemasan minuman gelas menghasilkan enam liter bahan bakar solar, minyak tanah, dan bensin. Nah cairan bahan bakar yang dihasilkan ini setelah dilakukan proses pemisahan di laboratorium ternyata lebih didominasi oleh bensin," ujar Darmanta.

Ia menjelaskan, proses pengolahan sampah kemasan minuman gelas hingga menjadi cairan bahan bakar itu dimulai dengan pemilihan bahan utama yakni sampah kemasan minuman gelas, pembersihan bahan utama, penyusunan bahan utama dan dimasukan kedalam alat pemasak (reaktor), bersamaan dengan katali (tanah liat).

Setelah itu campuran sampah kemasan minuman gelas dan tanah liat tersebut dipanaskan. Uap hasil pemanasan dari kedua bahan tersebut disalurkan melalui selang atau saluran, yang kemudian dilewatkan pada media pendingan (air) dan pada akhirnya bahan yang tadinya uap akan berubah menjadi cairan dan keluar melalui ujung selang (proses pengembunan).

Sedangkan penggunaan katalis tanah liat, menurut Darwanta, perbandingannya adalah 3/1, (tiga kilogram sampah kemasan minuman gelas menggunakan satu kilogram tanah liat).

Pemilihan katalist atau tanah liat yang berfungsi sebagai penghantar sampah kemasan minuman gelas hingga menjadi cairan bahan bakar. Namun, tidak semua jenis tanah liat sama, masing-masing tanah liat dari daerah yang berbeda memiliki tingkat kemampuan katalis yang berbeda.

Sejauh ini, beberapa kali uji coba yang dilakukanya menggunakan berbagai tanah liat yang berasal dari Keerom, koya, Kota Jayapura, Sentani, Biak, Nabire, Merauke, dan daerah lainnya di Papua.

Bahkan, Darwanta lebih suka menggunakan tanah liat yang berasal dari kabupaten Boven Digul, karena jenisnya sangat baik digunakan sebagai katalis sebab kontur tanahnya yang berwarna putih, tidak terlalu bercampur dengan tanah lain, dan sangat lengket.

Selanjutnya, cairan bahan bakar yang dihasilkan dari proses pengolahan sampah kemasan minuman gelas setelah dilakukan proses pemisahan, diuji coba sebanyak dua kali, dengan media uji mesin pemotong rumput dan sepeda motor.

Hasilnya, kata Darwanta, cukup sukses karena mesin pemotong rumput dan sepeda motor dapat beroperasi dengan baik seperti saat menggunakan bahan bakar (bensin) yang dibeli dari SPBU.

Namun, Darwanta tidak berhenti meneliti menggunakan bahan yang berbeda, bukan lagi sampah plastik minuman gelas, tetapi plastik jenis lain seperti plastik botol beragam minuman.

"Sampai akhir semester ini, ada seorang mahasiswa yang membuat skripsi dengan penelitian cairan bahan bakar dengan bahan utama sampah botol oli (hdpe), tetapi katalis yang digunakan bukan tanah liat, melainkan biolit," ujarnya. (*)



Pewarta :
Editor: Anwar Maga
COPYRIGHT © ANTARA 2026