Logo Header Antaranews Papua

Pemerintah Asmat diminta bangun rumah warga

Rabu, 27 April 2016 08:55 WIB
Image Print
Menurut dia, hal itu harus diperhatikan oleh pemerintahan baru Asmat yang dipimpin oleh bupati Elisa Kambu dan wakil bupati Thomas EP Safanko agar masyarakat pribumi benar-benar merasakan sentuhan pembangunan

Jayapura (Antara Papua) - Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Asmat, Papua, Yosam Heluka meminta pemerintah membangun rumah yang layak bagi warga pribumi.

"Di Asmat masih ada masyarakat pribumi yang tinggal di bevak-bevak (tempat berlindung sementara terbuat dari daun dan dahan pohon, Red). Ini perlu diperhatikan dengan membangunn rumah yang layak," kata Yosam Heluka saat berada di Kota Jayapura.

Menurut dia, hal itu harus diperhatikan oleh pemerintahan baru Asmat yang dipimpin oleh bupati Elisa Kambu dan wakil bupati Thomas EP Safanko agar masyarakat pribumi benar-benar merasakan sentuhan pembangunan.

"Asmat pernah mendapat nilai WTP dan WDP, ABPD tembus Rp1 triliun, nah kalau hanya untuk bangun rumah untuk rakyat kan bisa dilakukan secara bertahap," kata wakil ketua Komisi A DPRD Asmat itu.

Menurut Yosam, persoalan rumah layak huni itu kerap mengemuka dalam kunjungan DPRD dan dengar pendapat di tengah masyarakat. Menurut dia, masyarakat menginginkan pembangunan yang benar-benar bisa mereka rasakan.

"Maka itu, saya sebagai wakil rakyat ingin mendorong ini," katanya tanpa merinci jumlah warga yang membutuhkan rumah layak huni itu.

Selain itu, lanjut Yosam, Bupati Elisa Kambu sebagai mantan birokrat harus selalu hadir di tengah masyarakat, karena ada sejumlah oknum aparat pemerintahan tingkat distrik yang jarang berada di tengah warganya.

"Ini juga sebagai masukan dan saran, agar Pak Bupati dan Wakil Bupati bisa cek ke lapangan, sejauh mana perpanjangan tangan di bawahnya bekerja, apakah sudah maksimal atau tidak," katanya.

Menyinggung soal kesehatan di Asmat, menurut Yosam juga masih perlu perhatian sangat besar karena penyakit hernia, kusta ,dan kudis masih di temukan ditengah warga, misalnya di Mumugu ada ratusan masyarakat yang mengidap penyakit tersebut.

"Belum lagi, ada laporan tenaga medis atau paramedis yang tidak bekerja maksimal karena kendala-kendala yang ditemui di lapangan. Bahkan warga yang sakit dari kampung dirujuk ke ibu kota kabupaten di Agats tidak tertolong. Ini juga masih menjadi perhatian kami," katanya.(*)



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026