Logo Header Antaranews Papua

Masyarakat Abar Jayapura tetap produksi gerabah di tengah wabah COVID-19

Sabtu, 4 April 2020 18:19 WIB
Image Print
Suasana festival makan papeda dalam gerabah di Kampung Abar (ANTARA/HO/Hari Suroto)

Jayapura (ANTARA) - Ancaman virus corona atau COVID-19 tidak berpengaruh pada pengrajin gerabah tradisional di Kampung Abar, Distrik Ebungfauw, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua tetap memproduksi gerabah

Naftali Felle, ketua kelompok perajin gerabah Titian Hidup Kampung Abar ketika dikonfirmasi dari Jayapura, Sabtu, mengatakan pengrajin gerabah tampak beraktivitas membuat gerabah di rumah masing-masing.

"Dari jaman dulu, dari jaman nenek moyang hingga sekarang walaupun ada pademi covid-19, kami di Kampung Abar tetap memproduksi gerabah," kata Naftali Felle.

Menurut dia, dari dulu, perajin gerabah di Kampung Abar membuat gerabah di rumah masing-masing, jadi begitu ada himbauan pemerintah agar menerapkan pencegahan virus corona yaitu dengan menjaga jarak fisik saat bekerja, warga Kampung Abar sudah terbiasa dengan hal itu.

Untuk membuat gerabah, kata dia, bahan-bahan mudah didapatkan di sekitar kampung, baik itu tanah liat, pelepah sagu kering untuk membakar sagu, semua ada, tinggal ambil di kebun.

"Saat ini perajin gerabah memproduksi gerabah, untuk dipakai sendiri atau untuk dijual di kampung-kampung di sekitar Danau Sentani. Selain itu kami juga membuat gerabah untuk souvenir PON XX Papua," ujarnya.

Naftali menyebutkan, perajin juga membuat gerabah untuk Festival Makan Papeda dalam Gerabah yang berlangsung 30 September setiap tahunnya.

"Jadi kami para perajin gerabah tidak terpengaruh dengan adanya pademi corona, kami akan terus produksi gerabah, walaupun daya beli masyarakat menurun, misalnya gerabah tidak laku, akan kami pakai sendiri. Menurut kami, dan masyarakat Sentani pada umumnya, membuat bubur sagu atau papeda menggunakan gerabah, rasanya lebih enak daripada dengan wadah plastik. Selain itu ikan danau yang dimasak menggunakan gerabah juga sangat enak," katanya.

Peneliti dari Balai Arkeologi Papua Hari Suroto mengaku, sangat mengapresiasi para perajin gerabah tradisional Kampung Abar, mereka tetap membuat gerabah di saat pademi COVID-19.

"Saya sendiri percaya Kampung Abar punya kearifan lokal dalam beraktivitas membuat gerabah, yaitu dikerjakan di rumah masing-masing, tidak berkumpul," ujarnya.

Selain itu, kata dia, masyarakat Abar lebih banyak beraktivitas di sekitar kampung saja, semua kebutuhan pangan bisa didapatkan di sekitar kampung, baik itu sagu, keladi, maupun ikan danau dan siput danau.

"Jadi masyarakat Abar sangat aman dari COVID-19. Pembuatan gerabah, penggunaan gerabah perlu dilestarikan karena jika hal ini tidak dilakukan maka pengetahuan membuat gerabah juga akan hilang," katanya.

Kampung Abar dapat dicapai sekitar 20 menit dari Bandara Sentani, yaitu 10 menit perjalanan darat ke Dermaga Yahim, dilanjutknan dengan perjalanan menggunakan perahu ke Kampung Abar.



Pewarta :
Editor: Muhsidin
COPYRIGHT © ANTARA 2026