Dalam dua hingga tiga pekan terakhir, Kota Jayapura dan sekitarnya dihebohkan dengan beberapa kasus kekerasan yang menimpa sejumlah orang.

Sopir mobil rental Andre Marweri ditemukan tewas dengan luka bacok di bagian kepala belakang, Minggu 30 April 2017 sekitar pukul 02.00 WIT di lapangan kawasan Bumi Perkemahan Waena, Kelurahan Waena, Distrik Heram.

Sebelas hari kemudian, atau Kamis (11/5) sekitar pukul 00.30 WIT seorang dosen dari Kampus Universitas Cenderawasih (Uncen) Dr Suwandi mengalami nasib yang sama dengan luka yang juga hampir sama persis, luka bacok di bagian kepala belakang dan beberapa luka di bagian tubuh.

Tempatnya tewasnya pun masih tak jauh dari kasus pertama, yakni di tikungan Pramuka, kawasan Buper Waena, Kelurahan Waena, Distrik Heram.

Selang dua hari, atau pada Sabtu (13/5) dini hari, Fitri Diana (22) tewas setelah dihadang oleh tiga orang tak dikenal di Kampung Netar, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, usai perjalanan pulang dari Kota Jayapura.

Wanita muda tersebut hendak pulang ke rumahnya di Sentani bersama temannya Paul Tomatala, namun nasib apes menimpanya setelah dianiaya oleh salah satu dari tiga orang tak dikenal itu di bagian kepala hingga leher dan beberapa luka di bagian tubuhnya.

Kasus kekerasan ini ternyata masih berlanjut. Pada Jumat (19/5) sekitar 05.30 WIT, Ny Thresia Lampyompar (42) ditemukan tewas dengan posisi telungkup di dalam selokan di depan PLTD Waena, Perumnas II, Kelurahan Yabansai, Distrik Heram.

Korban bekerja sebagai pedagang makanan di depan RS Dian Harapan Waena.

Keesokannya, seorang warga lainnya juga ditemukan tewas dalam selokan dengan posisi yang sama di kawasan Bambu Kuning, Polimak Batu Putih, Kelurahan Ardipura, Distrik Jayapura Selatan dan pengrusakan pangkalan ojek oleh sekelompok orang tak jauh dari posisi mayat tersebut ditemukan.

Kemudian, aksi kekerasan lainnya yang menimpa Pius Kulua (40) yang terjadi saat ia bersama saudaranya Yuwenus Kulua (25) melintas di dekat rumah duka tempat jenasah Teresia Lampyompar (42) yang menjadi korban penganiayaan hingga tewas pada Jumat (19/5).

Pius Kulua tewas setelah dianiaya oleh sekelompok orang, sementara saudaranya Yuwenus Kulua menderita luka-luka.

Kasus yang menimpa Pius Kalua sempat membuat kawasan Perumnas II Waena dan sekitarnya tegang, karena antarkelompok warga dikabarkan hampir terjadi aksi saling serang, karena salah paham.

Kecaman

Sejumlah kasus kekerasan ini mendapat beragam tanggapan hingga kecaman, baik lewat media sosial hingga media cetak dan elektronik. Misalnya, kasus pembunuhan yang menimpa Dosen Uncen Dr Suwandi yang tewas dibunuh usai membayar rekening listrik dari ATM terdekat.

"Kami mengecam dan mengutuk keras pembunuhan yang dialami oleh seorang dosen di Buper Waena," kata Pendeta Petrus Done, tokoh Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII) Papua di Kota Jayapura.

Pendeta Petrus Done yang didampingi penatua Edi Pranata dari Gereja Kristen Kalam Kudus (GKKK), TH Pasaribu dan Pendeta Herman Saud Ketua PGI Wilayah Papua menilai aksi keji tersebut dilakukan oknum yang tidak menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

"Ibarat kata, satu dosen mati berarti telah mematikan puluhan hingga ratusan mahasiswa yang sedang menuntut ilmu. Ini aksi tidak terpuji dan patut dikecam," katanya.

Ketua Pemuda Lumbung Informasi Rakyat (Lira) Papua Steve Mara mengatakan beberapa waktu lalu masyarakat Kota Jayapura sempat diresahkan dengan aksi suntik dan kini masyarakat kembali diresahkan dengan aksi kekerasan yang berujung pada pembunuhan.

Hal ini harus segera disikapi dengan baik dan menjadi perhatian serius oleh pihak kepolisian, karena tingkat kejahatan di Kota Jayapura dan sekitarnya semakin meningkat.

"Para pelaku harus ditangkap dan diberikan efek jera dengan penindakan dan pengakkan hukum, atau kata lainnya negara harus segera hadir, jangan sampai terjadi aksi kekerasan yang berujung pertikaian warga," kata Steve Mara.

Terkait kekerasan ini, Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Papua Irjen Pol Boy Rafli Amar mengatakan polisi sedang berupaya menangani kasus-kasus tersebut dan berjanji segera mengungkap dengan membentuk tim khusus (timsus) guna menekan angka kriminalitas yang belakangan ini terus mencuat di Kota dan Kabupaten Jayapura, serta sekitarnya.

Timsus yang terdiri dari satuan Reskrim dan Brimob akan diperbantukan di Polres Jayapura dan Jayapura Kota untuk segera menangkap dan mengungkap sejumlah kasus kekerasan yang telah meresahkan warga di kedua kota tersebut.

"Saya berharap timsus dapat bekerja maksimal sehingga para pelaku dapat ditangkap dan terungkap semuanya. Masyarakat juga diharapkan dapat menghidupkan kembali siskamling di tempatnya masing-masing,"kata mantan Kapolda Banten itu.

Kepala Kepolisian Resor (Polres) Jayapura Kota AKBP Marison Tober Hamonangan Sirait mengatakan polisi berupaya untuk mengungkapnya, seperti kasus pembunuhan supir rental di Buper Waena hanya dalam kurun waktu 17 jam pelakunya sudah bisa ditangkap.

"Sedangkan kasus pembunuhan Dr Suwandi, ketiga pelakunya sudah teridentifkasi dan masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) atau dalam pengejaran. Barang bukti telepon seluler dan motor korban yang dikabarkan hilang sudah ditemukan, dan dua orang selaku penadah barang bukti sudah ditahan. Ini kasus bermotif pencurian dengan kekerasan," katanya.

Sementara kasus penemuan mayat di selokan di kawasan Bambu Kuning, Polimak, Kelurahan Ardipura, Distrik Jayapura Selatan, kata Tober, bukan karena tindak kekerasan tetapi karena korban menderita sakit.

"Jadi, sejumlah kasus kekerasan yang terjadi di Kota Jayapura, tidak ada keterkaitan satu sama lainnya. Kasus-kasus itu berdiri sendiri. Untuk pelaku pembunuh perempuan di Waena juga sedang didalami dan ekses dari kekerasan di tempat yang sama juga sudah kami tetapkan para pelaku penganiaya yang berjumlah empat orang, satu diantaranya masih dikejar karena lari," kata mantan Kapolres Keerom.

Galakkan Siskamling

Ketua Persatuan Gereja-gereja Indonesia (PGI) Wilayah Papua Pendeta Herman Saud mengajak dan mengimbau masyarakat luas agar lebih mawas diri dalam beraktivitas, karena keselamatan pribadi akan terjamin jika lebih berhati-hati dan lebih bijak dalam menyikapinya, termasuk menggalakkan kembali sistem keamanan lingkungan (siskamling).

Tokoh agama itu menyarankan agar masyarakat menggalakkan kembali siskamling dan mendesak agar aparat keamanan dalam hal ini kepolisian agar segera bertindak cepat dalam mengungkap kasus pembunuhan tersebut, termasuk kasus kekerasan lainnya yang terjadi di Ibu Kota Provinsi Papua.

Asisten II Setda Provinsi Papoua Eli Loupatty berharap masyarakat Kota dan Kabupaten Jayapura serta sekitarnya memberikan dukungan kepada aparat kepolisian dalam mengungkap kasus dan menjaga kamtibmas.

"Kami berharap juga sebenarnya masyarakat yang ada di Kota Jayapura agar mendukung pemeliharaan kamtibmas. Soal ini juga perlu mendapat perhatian khusus dari pihak kepolisian dengan menggelar patroli pada siang dan malam hari untuk memberikan rasa aman dan nyaman," katanya.(*)

Pewarta : Oleh Alfian Rumagit
Editor : Anwar Maga
Copyright © ANTARA 2024