Dolar tergelincir terseret meningkatnya sentimen risiko global
Jumat, 24 September 2021 5:46 WIB
Dokumentasi - Dolar AS dihitung oleh seorang bankir di bank di Westminster, Colorado, ANTARA/REUTERS/Rick Wilking/am.
New York (ANTARA) - Dolar AS tergelincir secara menyeluruh terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB), karena meningkatnya sentimen risiko di pasar keuangan global menghapus kenaikannya di sesi sebelumnya setelah Federal Reserve AS mengisyaratkan rencana untuk menarik kembali stimulusnya tahun ini.
Selera risiko investor membaik setelah Beijing menyuntikkan uang tunai baru ke dalam sistem keuangannya menjelang pembayaran kupon obligasi 83,5 juta dolar AS oleh raksasa properti China Evergrande, yang berisiko menjadi salah satu gagal bayar perusahaan terbesar di dunia itu.
Kekhawatiran tentang kewajiban pembayaran Evergrande dan risiko sistemik apa yang ditimbulkan oleh kesulitan sistem keuangan China oleh raksasa properti itu, telah membebani sentimen risiko keuangan global dalam beberapa sesi terakhir.
"Mata uang komoditas secara luas lebih tinggi sementara (mata uang) tempat berlindung lebih lemah, membuat perdagangan dolar AS umumnya lebih rendah setelah menguat menyusul pernyataan FOMC (Komite Pasar Terbuka Federal)," Shaun Osborne, kepala strategi mata uang di Scotiabank, mengatakan dalam sebuah catatan.
Indeks dolar AS, yang mengukur greenback terhadap sekeranjang enam mata uang saingannya, tergelincir 0,5 persen pada 93,037. Indeks, yang telah naik 0,25 persen pada Rabu (22/9/2021), berada di laju persentase penurunan harian terbesar dalam sebulan tetapi tetap mendekati level tertinggi 10-bulan yang disentuh pada akhir Agustus.
Yuan China di perdagangan luar negeri menguat terhadap greenback di 6,4599 per dolar.
Dolar mendapat sedikit dukungan dari data yang menunjukkan jumlah orang Amerika yang mengajukan klaim baru untuk tunjangan pengangguran secara tak terduga naik pekan lalu di tengah lonjakan di California.
Suasana Kamis (23/9/2021) yang membaik mendorong mata uang-mata uang komoditas yang sensitif terhadap risiko lebih tinggi, dengan dolar Australia naik 0,9 persen dan dolar Selandia Baru naik 1,0 persen.
Peningkatan selera risiko tercermin dalam indeks ekuitas utama Wall Street, dengan indeks S&P 500 berada di jalur untuk kenaikan lebih dari 1,0 persen dan persentase kenaikan dua hari terbesar sejak akhir Juli.
Pada Rabu (22/9/2021), Federal Reserve mengatakan kemungkinan akan mulai mengurangi pembelian obligasi bulanan segera setelah November dan mengisyaratkan kenaikan suku bunga mungkin mengikuti lebih cepat dari yang diperkirakan.
Meskipun positif untuk dolar, dorongan dari pengumuman The Fed diremehkan oleh pesan hawkish dari beberapa bank sentral di Eropa, dan ketika Norwegia menjadi negara maju pertama yang menaikkan suku bunganya.
Krona Norwegia melonjak ke level tertinggi 3,5 bulan versus euro pada Kamis (23/9/2021) setelah bank sentral menaikkan suku bunga acuan dan mengatakan lebih banyak kenaikan akan menyusul dalam beberapa bulan mendatang.
Sterling memperpanjang kenaikannya pada Kamis (23/9/2021) setelah bank sentral Inggris (Bank of England) mengatakan dua pembuat kebijakannya telah memilih untuk mengakhiri lebih awal pembelian obligasi pemerintah era pandemi dan pasar mengedepankan ekspektasi mereka untuk kenaikan suku bunga hingga Maret.
Di pasar negara berkembang, lira Turki anjlok ke rekor terendah setelah penurunan suku bunga mengejutkan 100 basis poin menjadi 18 persen yang terjadi meskipun inflasi mencapai 19,25 persen pada bulan lalu.
Sementara itu, Bitcoin memperpanjang pemulihannya dari penurunan tajam awal pekan ini, naik 2,42 persen ke level tertinggi 3 hari di 44.642,78 poin.
Selera risiko investor membaik setelah Beijing menyuntikkan uang tunai baru ke dalam sistem keuangannya menjelang pembayaran kupon obligasi 83,5 juta dolar AS oleh raksasa properti China Evergrande, yang berisiko menjadi salah satu gagal bayar perusahaan terbesar di dunia itu.
Kekhawatiran tentang kewajiban pembayaran Evergrande dan risiko sistemik apa yang ditimbulkan oleh kesulitan sistem keuangan China oleh raksasa properti itu, telah membebani sentimen risiko keuangan global dalam beberapa sesi terakhir.
"Mata uang komoditas secara luas lebih tinggi sementara (mata uang) tempat berlindung lebih lemah, membuat perdagangan dolar AS umumnya lebih rendah setelah menguat menyusul pernyataan FOMC (Komite Pasar Terbuka Federal)," Shaun Osborne, kepala strategi mata uang di Scotiabank, mengatakan dalam sebuah catatan.
Indeks dolar AS, yang mengukur greenback terhadap sekeranjang enam mata uang saingannya, tergelincir 0,5 persen pada 93,037. Indeks, yang telah naik 0,25 persen pada Rabu (22/9/2021), berada di laju persentase penurunan harian terbesar dalam sebulan tetapi tetap mendekati level tertinggi 10-bulan yang disentuh pada akhir Agustus.
Yuan China di perdagangan luar negeri menguat terhadap greenback di 6,4599 per dolar.
Dolar mendapat sedikit dukungan dari data yang menunjukkan jumlah orang Amerika yang mengajukan klaim baru untuk tunjangan pengangguran secara tak terduga naik pekan lalu di tengah lonjakan di California.
Suasana Kamis (23/9/2021) yang membaik mendorong mata uang-mata uang komoditas yang sensitif terhadap risiko lebih tinggi, dengan dolar Australia naik 0,9 persen dan dolar Selandia Baru naik 1,0 persen.
Peningkatan selera risiko tercermin dalam indeks ekuitas utama Wall Street, dengan indeks S&P 500 berada di jalur untuk kenaikan lebih dari 1,0 persen dan persentase kenaikan dua hari terbesar sejak akhir Juli.
Pada Rabu (22/9/2021), Federal Reserve mengatakan kemungkinan akan mulai mengurangi pembelian obligasi bulanan segera setelah November dan mengisyaratkan kenaikan suku bunga mungkin mengikuti lebih cepat dari yang diperkirakan.
Meskipun positif untuk dolar, dorongan dari pengumuman The Fed diremehkan oleh pesan hawkish dari beberapa bank sentral di Eropa, dan ketika Norwegia menjadi negara maju pertama yang menaikkan suku bunganya.
Krona Norwegia melonjak ke level tertinggi 3,5 bulan versus euro pada Kamis (23/9/2021) setelah bank sentral menaikkan suku bunga acuan dan mengatakan lebih banyak kenaikan akan menyusul dalam beberapa bulan mendatang.
Sterling memperpanjang kenaikannya pada Kamis (23/9/2021) setelah bank sentral Inggris (Bank of England) mengatakan dua pembuat kebijakannya telah memilih untuk mengakhiri lebih awal pembelian obligasi pemerintah era pandemi dan pasar mengedepankan ekspektasi mereka untuk kenaikan suku bunga hingga Maret.
Di pasar negara berkembang, lira Turki anjlok ke rekor terendah setelah penurunan suku bunga mengejutkan 100 basis poin menjadi 18 persen yang terjadi meskipun inflasi mencapai 19,25 persen pada bulan lalu.
Sementara itu, Bitcoin memperpanjang pemulihannya dari penurunan tajam awal pekan ini, naik 2,42 persen ke level tertinggi 3 hari di 44.642,78 poin.
Pewarta : Apep Suhendar
Editor : Muhsidin
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
BPS sebut impor Papua tercatat senilai 52,73 juta dolar AS pada Juni 2022
15 July 2022 19:32 WIB, 2022
Harga emas terdongkrak 14,7 dolar didorong kekhawatiran inflasi dan Ukraina
08 April 2022 5:48 WIB, 2022
Harga emas melemah 4,4 dolar jelang rilis risalah pertemuan Federal Reserve
07 April 2022 5:22 WIB, 2022
Harga emas jatuh 6,5 dolar tertekan prospek kebijakan moneter agresif Fed
06 April 2022 5:36 WIB, 2022
Harga emas anjlok 30 dolar karena data pekerjaan AS dan "greenback" menguat
02 April 2022 6:28 WIB, 2022
Dolar AS menguat, dipicu permintaan uang aman saat konflik Rusia-Ukraina
01 April 2022 6:55 WIB, 2022
Harga emas terdongkrak 15 dolar terdorong berlanjutnya konflik Rusia-Ukraina
01 April 2022 6:10 WIB, 2022