
Dinkes Mimika fokus atasi TBC warga pedalaman

Untuk Puskesmas dalam dan sekitar Kota Timika, kami sudah memberikan pelatihan kepada petugas dalam hal penatalaksanaan TB berkolaborasi dengan HIV. Yang kami belum lakukan yaitu untuk petugas Puskesmas dan Pustu di wilayah terpencil.
Timika (Antara Papua) - Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Provinsi Papua, mulai 2017 lebih fokus mengatasi kasus penularan penyakit tuberculosis (TBC) pada warga di wilayah pedalaman.
Sekretaris Dinkes Mimika Raynold Ubra di Timika, Sabtu, mengatakan kasus TBC pada warga pedalaman di pegunungan dan pesisir pantai Mimika masih cukup banyak karena kondisi lingkungan tempat tinggal yang kurang memenuhi persyaratan kesehatan.
"Untuk Puskesmas dalam dan sekitar Kota Timika, kami sudah memberikan pelatihan kepada petugas dalam hal penatalaksanaan TB berkolaborasi dengan HIV. Yang kami belum lakukan yaitu untuk petugas Puskesmas dan Pustu di wilayah terpencil. Ini yang akan menjadi fokus kami pada 2017," jelas Raynold.
Dinkes Mimika mengapresiasi dukungan dari Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (LPMAK) yang ikut membantu pemerintah daerah dalam melaksanakan program kesehatan masyarakat di beberapa daerah wilayah pegunungan dan pesisir Mimika, termasuk penanganan penyakit menular seperti TBC.
Baru-baru ini, Biro Kesehatan LPMAK bekerja sama dengan Pelkesi menggelar pelatihan penanganan kasus TBC yang diikuti petugas kesehatan dari Puskesmas dan Pustu wilayah terpencil.
Para petugas kesehatan yang mengikuti pelatihan tersebut berasal dari Puskesmas Amar, Puskesmas Kokonao, Puskesmas Agimuga, Puskesmas Atuka, Puskesmas Manasari, Puskesmas Tsinga, Puskesmas Aroanop dan Puskesmas Hoeya.
Pelatihan tersebut disponsori oleh LPMAK melalui Biro Kesehatan dan dilaksanakan oleh Pelkesi melalui program Kampung Sehat.
"Pelatihan ini untuk memberikan pemahaman kepada petugas Puskesmas dalam hal penjaringan pasien TB, pemeriksaan, rujukan pengobatan hingga pendampingan pasien agar mengonsumsi obat secara teratur. Kami tentu sangat terbantu dengan adanya pelatihan ini," kata Raynold.
Ia menambahkan, sesuai laporan terbaru dari Kementerian Kesehatan, kasus TBC di Indonesia kini meningkat lagi menjadi urutan ketiga di dunia. Semakin banyaknya warga yang terinfeksi HIV ikut mendorong meningkatnya jumlah pasien TBC di Indonesia, termasuk di Papua.
"Penanganan kasus TB harus dilakukan secara komprehensif. Kasus ini harus sedini mungkin ditemukan agar penanganan pasien lebih baik," jelasnya.
Mulai Januari 2017, Dinkes Mimika akan menempatkan petugas kesehatan secara lengkap pada semua Puskesmas di wilayah pegunungan dan pesisir Mimika.
"Kami akan tempatkan tenaga dokter, apoteker, analis kesehatan, tenaga kesehatan masyarakat, sanitasi, perawat dan bidan di seluruh Puskesmas terpencil di Mimika agar diagnosa penyakit dan penanganan pasien lebih cepat, tidak perlu lagi harus dirujuk ke rumah sakit," kata Raynold.
Kendala yang dihadapi dalam penanganan masalah kesehatan warga di pedalaman Mimika hingga sekarang, katanya, karena terbentur masalah keterbatasan tenaga kesehatan di tingkat Puskesmas dan Pustu.
"Kondisi hari ini di daerah terpencil tidak punya tenaga dokter, analis kesehatan sehingga pasien harus dirujuk ke rumah sakit di Timika. Kondisi ini berpeluang terjadi gagal pengobatan," jelasnya. (*)
Pewarta : Pewarta: Evarianus Supar
Editor:
Anwar Maga
COPYRIGHT © ANTARA 2026
