MCCC minta Pemkot Surabaya siapkan rumah sakit darurat COVID-19
Jumat, 1 Mei 2020 11:37 WIB
Logo Muhammadiyah. (FOTO ANTARA/HO-Humas Pemkot Surabaya)
Surabaya (ANTARA) - Muhammadiyah COVID-19 Command Center (MCCC) Kota Surabaya meminta pemerintah kota membuat rumah sakit darurat untuk penanganan pasien COVID-19 menyusul rumah sakit rujukan di Kota Pahlawan, Jatim, sudah penuh.
Ketua MCCC Surabaya M. Arif An, di Surabaya, Jumat, mengatakan mendapat laporan dari Tim Medis Bagian Kuratif dan Preventif MCCC Surabaya dr. Zuhrotul Mar'ah Lailatussolichah, bahwa ada salah satu pasien positif COVID-19 yang kebetulan juga tetangganya tidak mendapatkan rumah sakit saat dirujuk.
"Saat pasien mau dirujuk ke rumah sakit rujukan di Surabaya, ternyata sudah penuh semua. Kalau pasien ini isolasi mandiri di rumah bisa berbahaya," katanya.
Untuk itu, lanjut dia, MCCC Surabaya menyampaikan kepada Pemkot Surabaya agar menyediakan atau mempersiapkan rumah sakit darurat yang memanfaatkan fasilitas umum seperti Gelora Pantjasila, Gelanggang Remaja dan gedung pemkot lainnya yang belum difungsikan.
Menurut dia, dengan adanya rumah sakit darurat, maka warga menjadi tenang karena tidak ada kekhawatiran atau ketakutan pasien yang terpapar COVID-19 terlantar atau tidak ditangani dengan cepat.
"Ketakutan warga sangat wajar dalam kondisi ini," ujar Sekretaris Pengurus Daerah Muhammadiyah (PDM) Surabaya ini.
Sekretaris Komisi D DPRD Kota Surabaya Dr. Akmarawita Kadir sebelumnya juga mengusulkan ke pemkot agar menyiapkan rumah sakit darurat menyusul peningkatan orang dalam pemantauan (ODP), pasien dalam pengawasan (PDP) dan pasien positif terjangkit virus corona.
"Tidak hanya itu, penetapan Surabaya masuk zona merah COVID-19 merupakan permasalahan yang serius dan harus disikapi dengan sangat serius," katanya.
Menurut dia, adanya peningkatan jumlah penderita COVID-19 ini tentunya mengakibatkan ruang isolasi yang ada di 15 rumah sakit rujukan di Surabaya tidak bisa menampung pasien yang positif COVID-19.
Koordinator Protokol Kesehatan, Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Surabaya Febria Rachmanita sebelumnya mengatakan Pemkot Surabaya menyiapkan gedung isolasi bagi orang dalam pemantauan (ODP) dengan gejala ringan COVID-19 di kawasan selatan, Kota Surabaya.
Gedung isolasi tersebut dikhususkan bagi ODP dengan gejala COVID-19, seperti demam ringan, namun tidak dalam kondisi sesak napas. "Gedung isolasi ini kita buat memang kalau untuk gejala COVID-19 yang ringan-ringan, tidak ada sesak, tidak ada demam, kita taruh dalam ruang isolasi itu," katanya.
Menurut dia, gedung isolasi standarnya memang dibuat seperti rumah sakit. Di gedung itu, terdapat 30 tempat tidur yang telah disiapkan ini dikhususkan bagi ODP dengan gejala ringan COVID-19.*
Ketua MCCC Surabaya M. Arif An, di Surabaya, Jumat, mengatakan mendapat laporan dari Tim Medis Bagian Kuratif dan Preventif MCCC Surabaya dr. Zuhrotul Mar'ah Lailatussolichah, bahwa ada salah satu pasien positif COVID-19 yang kebetulan juga tetangganya tidak mendapatkan rumah sakit saat dirujuk.
"Saat pasien mau dirujuk ke rumah sakit rujukan di Surabaya, ternyata sudah penuh semua. Kalau pasien ini isolasi mandiri di rumah bisa berbahaya," katanya.
Untuk itu, lanjut dia, MCCC Surabaya menyampaikan kepada Pemkot Surabaya agar menyediakan atau mempersiapkan rumah sakit darurat yang memanfaatkan fasilitas umum seperti Gelora Pantjasila, Gelanggang Remaja dan gedung pemkot lainnya yang belum difungsikan.
Menurut dia, dengan adanya rumah sakit darurat, maka warga menjadi tenang karena tidak ada kekhawatiran atau ketakutan pasien yang terpapar COVID-19 terlantar atau tidak ditangani dengan cepat.
"Ketakutan warga sangat wajar dalam kondisi ini," ujar Sekretaris Pengurus Daerah Muhammadiyah (PDM) Surabaya ini.
Sekretaris Komisi D DPRD Kota Surabaya Dr. Akmarawita Kadir sebelumnya juga mengusulkan ke pemkot agar menyiapkan rumah sakit darurat menyusul peningkatan orang dalam pemantauan (ODP), pasien dalam pengawasan (PDP) dan pasien positif terjangkit virus corona.
"Tidak hanya itu, penetapan Surabaya masuk zona merah COVID-19 merupakan permasalahan yang serius dan harus disikapi dengan sangat serius," katanya.
Menurut dia, adanya peningkatan jumlah penderita COVID-19 ini tentunya mengakibatkan ruang isolasi yang ada di 15 rumah sakit rujukan di Surabaya tidak bisa menampung pasien yang positif COVID-19.
Koordinator Protokol Kesehatan, Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Surabaya Febria Rachmanita sebelumnya mengatakan Pemkot Surabaya menyiapkan gedung isolasi bagi orang dalam pemantauan (ODP) dengan gejala ringan COVID-19 di kawasan selatan, Kota Surabaya.
Gedung isolasi tersebut dikhususkan bagi ODP dengan gejala COVID-19, seperti demam ringan, namun tidak dalam kondisi sesak napas. "Gedung isolasi ini kita buat memang kalau untuk gejala COVID-19 yang ringan-ringan, tidak ada sesak, tidak ada demam, kita taruh dalam ruang isolasi itu," katanya.
Menurut dia, gedung isolasi standarnya memang dibuat seperti rumah sakit. Di gedung itu, terdapat 30 tempat tidur yang telah disiapkan ini dikhususkan bagi ODP dengan gejala ringan COVID-19.*
Pewarta : Abdul Hakim
Editor : Muhsidin
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Gubernur Papua minta seluruh rumah sakit berikan layanan optimal saat Lebaran
20 March 2026 7:26 WIB
Komnas HAM RI investigasi kasus kematian Irene Sokoy yang ditolak empat rumah sakit
28 November 2025 23:19 WIB
Prabowo perintahkan audit RS di Papua, usai kabar ibu hamil ditolak empat rumah sakit
25 November 2025 4:36 WIB
Terpopuler - Daerah
Lihat Juga
Pemkot Jayapura pastikan pelayanan pendidikan dan bantuan sosial tepat sasaran
21 May 2026 14:57 WIB
KPU Papua Pegunungan beri bantuan sosial ke pengungsi di Wamena pascaperang suku
19 May 2026 13:56 WIB
Pemprov Papua Selatan ajak warga Merauke dukung program pembangunan berkelanjutan
18 May 2026 16:59 WIB