Harga Emas "rebound" dari penurunan tajam, terangkat harapan stimulus AS
Selasa, 19 Januari 2021 6:28 WIB
Karyawan menunjukan emas batangan di Butik Emas Antam, Kebon Sirih, Jakarta, Senin (18/1/2021). ANTARA FOTO/Galih Pradipta/rwa. (ANTARA FOTO/GALIH PRADIPTA)
Chicago (ANTARA) - Harga Emas menguat pada akhir perdagangan Senin (Selasa pagi WIB), rebound dari penurunan tajam akhir pekan lalu dan mengawali pekan ini dengan sedikit lebih baik setelah mencatat penurunan mingguan kedua berturut-turut, ketika ekspektasi stimulus fiskal tambahan di Amerika Serikat mendukung daya tarik emas sebagai lindung nilai inflasi.
Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Februari di divisi COMEX New York Exchange, terangkat 6,90 dolar AS atau 0,38 persen menjadi menetap di 1.836,80 dolar AS per ounce. Akhir pekan lalu, (15/1/2021) emas berjangka anjlok 21,5 dolar AS atau 1,16 persen menjadi 1.829,90 dolar AS.
Emas berjangka turun 3,5 dolar AS atau 0,19 persen menjadi 1.851,40 dolar AS pada Kamis (14/1/2021), setelah terangkat 10,7 dolar AS atau 0,58 persen menjadi 1.854,90 dolar AS per ounce pada Rabu (13/1/2021), dan merosot 6,6 dolar AS atau 0,36 persen menjadi 1.844,20 dolar AS pada Selasa (12/1/2021).
"Pemerintah baru (AS) akan memberikan lebih banyak stimulus ekonomi dan juga kebijakan Federal Reserve AS tidak mungkin menjadi lebih hawkish di masa depan," kata analis Commerzbank, Eugen Weinberg.
"Oleh karena itu, kami cenderung melihat dukungan lanjutan untuk harga emas," jelasnya.
Presiden terpilih AS Joe Biden menyusun rencana stimulus 1,9 triliun dolar AS minggu lalu untuk membantu ekonomi dan meningkatkan peluncuran vaksinasi terhadap COVID-19.
Ketua Fed Jerome Powell mengatakan pada Kamis (14/1/2021) tidak ada alasan untuk mengubah sikap akomodatif bank sentral mengingat kedalaman masalah ekonomi akibat pandemi.
Emas dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan penurunan nilai mata uang yang dapat dihasilkan dari stimulus yang meluas.
Namun, Weinberg dari Commerzbank mengatakan dolar yang lebih kuat, optimisme ekonomi dan kekhawatiran tentang Janet Yellen sebagai calon menteri keuangan AS, yang mungkin membatasi sisi stimulus fiskal, membebani harga emas.
Dolar AS menyentuh tertinggi empat minggu terhadap sekeranjang mata uang utama, membatasi daya tarik emas bagi pemegang mata uang lainnya.
Meskipun ekspektasi inflasi AS telah meningkat untuk mengantisipasi lebih banyak stimulus fiskal Amerika, emas bukanlah satu-satunya penerima manfaat - imbal hasil obligasi telah meningkat dan membebani emas, kata Phillip Futures dalam sebuah catatan.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS mencapai level tertinggi 10-bulan minggu lalu.
Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Februari di divisi COMEX New York Exchange, terangkat 6,90 dolar AS atau 0,38 persen menjadi menetap di 1.836,80 dolar AS per ounce. Akhir pekan lalu, (15/1/2021) emas berjangka anjlok 21,5 dolar AS atau 1,16 persen menjadi 1.829,90 dolar AS.
Emas berjangka turun 3,5 dolar AS atau 0,19 persen menjadi 1.851,40 dolar AS pada Kamis (14/1/2021), setelah terangkat 10,7 dolar AS atau 0,58 persen menjadi 1.854,90 dolar AS per ounce pada Rabu (13/1/2021), dan merosot 6,6 dolar AS atau 0,36 persen menjadi 1.844,20 dolar AS pada Selasa (12/1/2021).
"Pemerintah baru (AS) akan memberikan lebih banyak stimulus ekonomi dan juga kebijakan Federal Reserve AS tidak mungkin menjadi lebih hawkish di masa depan," kata analis Commerzbank, Eugen Weinberg.
"Oleh karena itu, kami cenderung melihat dukungan lanjutan untuk harga emas," jelasnya.
Presiden terpilih AS Joe Biden menyusun rencana stimulus 1,9 triliun dolar AS minggu lalu untuk membantu ekonomi dan meningkatkan peluncuran vaksinasi terhadap COVID-19.
Ketua Fed Jerome Powell mengatakan pada Kamis (14/1/2021) tidak ada alasan untuk mengubah sikap akomodatif bank sentral mengingat kedalaman masalah ekonomi akibat pandemi.
Emas dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan penurunan nilai mata uang yang dapat dihasilkan dari stimulus yang meluas.
Namun, Weinberg dari Commerzbank mengatakan dolar yang lebih kuat, optimisme ekonomi dan kekhawatiran tentang Janet Yellen sebagai calon menteri keuangan AS, yang mungkin membatasi sisi stimulus fiskal, membebani harga emas.
Dolar AS menyentuh tertinggi empat minggu terhadap sekeranjang mata uang utama, membatasi daya tarik emas bagi pemegang mata uang lainnya.
Meskipun ekspektasi inflasi AS telah meningkat untuk mengantisipasi lebih banyak stimulus fiskal Amerika, emas bukanlah satu-satunya penerima manfaat - imbal hasil obligasi telah meningkat dan membebani emas, kata Phillip Futures dalam sebuah catatan.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS mencapai level tertinggi 10-bulan minggu lalu.
Pewarta : Apep Suhendar
Editor : Muhsidin
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Wali Kota Jayapura minta lurah jaga lingkungan dari pendulangan emas ilegal
05 January 2026 6:31 WIB
Polda Papua melimpahkan kasus tambang ilegal libatkan WNA China ke jaksa Jayapura
30 November 2025 5:22 WIB
NPCI: Kabupaten Jayapura sumbang empat emas kontingen Papua di Peparnas XI Jakarta
09 November 2025 13:57 WIB
Pemkab Tolikara mrnbangun generasi sehat dan cerdas lewat Program 1.000 HPK
15 October 2025 7:37 WIB
Terpopuler - Internasional
Lihat Juga
Kemenlu RI pastikan Indonesia berkontribusi lebih di kawasan Pasifik
14 October 2024 20:59 WIB, 2024
Dirut Akhmad Munir: ANTARA sejalan dengan OANA untuk pemberantasan hoaks
24 October 2023 12:20 WIB, 2023
Dispar Jayapura: KTT ASEAN berdampak pada kemajuan sektor pariwisata daerah
29 August 2023 23:37 WIB, 2023