Dokter hewan pengidap pertama virus monyet di China meninggal dunia
Minggu, 18 Juli 2021 10:37 WIB
Kawanan kera hitam Sulawesi (Macaca tonkeana) meminta makanan dari pengendara yang melintas di Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, Juni 2021. (ANTARA/Mohamad Hamzah)
Beijing (ANTARA) - Seorang dokter hewan yang terinfeksi oleh virus monyet B di China dikabarkan meninggal dunia.
Namun sejauh ini beberapa orang yang kontak dekat korban dinyatakan selamat, demikian laporan Pusat Pencegahan Penyakit Menular China (CCDC) dalam jurnal mingguannya yang dilansir pada Sabtu (17/7).
Jurnal tersebut menyebutkan pria asal Beijing berusia 53 tahun yang bekerja di lembaga penelitian primata itu meninggal pada 27 Mei lalu.
Dia mengalami gejala awal, seperti mual dan muntah, sebulan setelah membedah dua monyet yang mati pada awal Maret.
Dokter itu sudah menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit sebelum meninggal.
CCDC menyatakan tidak ada kejadian fatal atau bukti klinis infeksi virus monyet B di China sebelumnya.
Kematian dokter hewan tersebut menjadi kasus kematian pertama virus monyet B pada manusia.
Para peneliti mengambil sampel cairan serebrospinal dari dokter hewan itu pada April lalu dan hasilnya menyatakan dia positif terinfeksi virus kera B.
Namun sampel-sampel yang diambil dari kontak dekatnya menunjukkan hasil negatif.
Virus tersebut pertama kali diidentifikasi pada 1932 sebagai "enzootic alphaherpesvirus" pada monyet jenis Macaca.
Virus tersebut dapat ditularkan melalui kontak langsung dan pertukaran sekresi tubuh dengan tingkat tingkat kematian 70 hingga 80 persen.
Dalam jurnal tersebut CCDC juga menyebutkan monyet kemungkinan berpotensi menimbulkan ancaman bagi orang-orang di sekitarnya.
Namun sejauh ini beberapa orang yang kontak dekat korban dinyatakan selamat, demikian laporan Pusat Pencegahan Penyakit Menular China (CCDC) dalam jurnal mingguannya yang dilansir pada Sabtu (17/7).
Jurnal tersebut menyebutkan pria asal Beijing berusia 53 tahun yang bekerja di lembaga penelitian primata itu meninggal pada 27 Mei lalu.
Dia mengalami gejala awal, seperti mual dan muntah, sebulan setelah membedah dua monyet yang mati pada awal Maret.
Dokter itu sudah menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit sebelum meninggal.
CCDC menyatakan tidak ada kejadian fatal atau bukti klinis infeksi virus monyet B di China sebelumnya.
Kematian dokter hewan tersebut menjadi kasus kematian pertama virus monyet B pada manusia.
Para peneliti mengambil sampel cairan serebrospinal dari dokter hewan itu pada April lalu dan hasilnya menyatakan dia positif terinfeksi virus kera B.
Namun sampel-sampel yang diambil dari kontak dekatnya menunjukkan hasil negatif.
Virus tersebut pertama kali diidentifikasi pada 1932 sebagai "enzootic alphaherpesvirus" pada monyet jenis Macaca.
Virus tersebut dapat ditularkan melalui kontak langsung dan pertukaran sekresi tubuh dengan tingkat tingkat kematian 70 hingga 80 persen.
Dalam jurnal tersebut CCDC juga menyebutkan monyet kemungkinan berpotensi menimbulkan ancaman bagi orang-orang di sekitarnya.
Pewarta : M. Irfan Ilmie
Editor : Muhsidin
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Dinkes minta warga Jayapura periksa ke puskesmas saat demam tinggi
07 September 2024 14:27 WIB, 2024
Dinkes Biak Numfor perkuat koordinasi kesehatan antisipasi cacar monyet
06 September 2024 19:34 WIB, 2024
Dinkes Kota Jayapura: Belum ada laporan dari Labkesmas terkait cacar monyet
05 September 2024 16:27 WIB, 2024
Dinkes Biak tingkatkan kewaspadaan dini mencegah penyakit cacar monyet
15 November 2023 18:52 WIB, 2023
Dinkes Papua minta jajarannya pantau penyebaran penyakit cacar monyet
25 August 2022 16:27 WIB, 2022
Dinkes Papua tingkatkan koordinasi guna mengantisipasi masuknya cacar monyet
21 May 2019 18:22 WIB, 2019
Terpopuler - Internasional
Lihat Juga
Kemenlu RI pastikan Indonesia berkontribusi lebih di kawasan Pasifik
14 October 2024 20:59 WIB, 2024
Dirut Akhmad Munir: ANTARA sejalan dengan OANA untuk pemberantasan hoaks
24 October 2023 12:20 WIB, 2023