Kerajinan kulit buaya menjadi pilihan suvenir unik kontingen PON XX Papua
Jumat, 1 Oktober 2021 14:04 WIB
Salah seorang pengrajin kerajinan kulit buaya, Pardianto menata dagangannya yang dijual di area GOR Mimika Sport Complex, Mimika, Papua, Kamis (30/9/2021) (ANTARA/Fathur Rochman)
Jakarta (ANTARA) - Kerajinan berbahan kulit buaya dapat menjadi pilihan suvenir unik bagi para penonton maupun kontingen Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua.
Pardianto, salah seorang pengrajin yang membuka kios semi permanen di depan pintu masuk GOR Mimika Sport Complex, Mimika, Papua, optimistis kerajinan kulit buaya yang dia tawarkan mampu menarik minat pengunjung.
"Karena ini kerajinan khas Mimika. Cukup jarang ditemukan kerajinan dari kulit buaya ini," kata Pardianto kepada Antara, dimuat Jumat.
Pria paruh baya yang telah menggeluti profesi sebagai pengrajin sejak awal 2000-an itu menjual aneka rupa kerajinan berbahan kulit buaya, mulai dari dompet, ikat pinggang, tas jinjing, hingga koper.
Harga yang ditawarkan bervariasi, termurah dibanderol Rp400 ribu, adapun yang termahal mencapai Rp7 juta. Pardianto mengatakan dompet dan tas menjadi suvenir yang paling banyak diminati.
Pardianto biasanya menjual hasil kerajinan kulit buaya di galeri atau pameran. Sebelum pandemi COVID-19, dia mengaku kerap mengikuti pameran hingga ke Jakarta dan sejumlah kota di pulau Jawa.
Namun semenjak pandemi COVID-19, praktis dia hanya mengandalkan penjualan dari wisatawan yang menyambangi galerinya.
Pardianto pun sangat bersyukur dengan perhelatan PON XX yang membuat Kabupaten Mimika kembali "hidup". Dia berharap penjualannya bisa kembali terdongkrak, mengingat selama pandemi omsetnya menurun drastis hingga 75 persen.
"Adanya PON XX Papua ini saya jadi bisa memamerkan lagi kerajinan yang saya buat. Untuk target penjualan saya tidak menargetkan" ujar Pardianto.
Pardianto, salah seorang pengrajin yang membuka kios semi permanen di depan pintu masuk GOR Mimika Sport Complex, Mimika, Papua, optimistis kerajinan kulit buaya yang dia tawarkan mampu menarik minat pengunjung.
"Karena ini kerajinan khas Mimika. Cukup jarang ditemukan kerajinan dari kulit buaya ini," kata Pardianto kepada Antara, dimuat Jumat.
Pria paruh baya yang telah menggeluti profesi sebagai pengrajin sejak awal 2000-an itu menjual aneka rupa kerajinan berbahan kulit buaya, mulai dari dompet, ikat pinggang, tas jinjing, hingga koper.
Harga yang ditawarkan bervariasi, termurah dibanderol Rp400 ribu, adapun yang termahal mencapai Rp7 juta. Pardianto mengatakan dompet dan tas menjadi suvenir yang paling banyak diminati.
Pardianto biasanya menjual hasil kerajinan kulit buaya di galeri atau pameran. Sebelum pandemi COVID-19, dia mengaku kerap mengikuti pameran hingga ke Jakarta dan sejumlah kota di pulau Jawa.
Namun semenjak pandemi COVID-19, praktis dia hanya mengandalkan penjualan dari wisatawan yang menyambangi galerinya.
Pardianto pun sangat bersyukur dengan perhelatan PON XX yang membuat Kabupaten Mimika kembali "hidup". Dia berharap penjualannya bisa kembali terdongkrak, mengingat selama pandemi omsetnya menurun drastis hingga 75 persen.
"Adanya PON XX Papua ini saya jadi bisa memamerkan lagi kerajinan yang saya buat. Untuk target penjualan saya tidak menargetkan" ujar Pardianto.
Pewarta : Fathur Rochman
Editor : Muhsidin
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Pemkab jadikan lukisan kulit kayu produk kerajinan unggulan Jayapura
09 February 2025 0:02 WIB, 2025
Disbudpar Jayapura: Lukisan kulit kayu budaya miliki nilai ekonomi tinggi
06 February 2025 3:16 WIB, 2025
Kampung Asei Besar Jayapura penghasil lukisan kulit kayu bernilai seni budaya
03 February 2025 10:22 WIB, 2025
Tim Karantina Papua Selatan amankan kulit buaya utuh dari Bandara Mopah
16 November 2024 8:29 WIB, 2024
Terpopuler - Olahraga
Lihat Juga
Komisi IV DPR Papua Pegunungan minta pemda bangun sarana olahraga di Jayawijaya
17 April 2026 8:47 WIB